Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Fenomena Bubble Burst Mengguncang Startup, Sebabkan PHK Massal
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Fenomena ekonomi bubble burst disebut-sebut tengah melanda industri Startup di Indonesia. Fenomena pertumbuhan ekonomi ini terjadi, salah satunya dengan kemunculan banyak perusahaan rintisan atau start up di Indonesia.
Jelaskan pengertian bubble burst maka akan merujuk pada gelembung ekonomi di mana terjadi eskalasi atau pertumbuhan ekonomi yang terlalu tinggi, tetapi juga diiringi dengan kejatuhan yang relatif cepat.
Jika melihat fenomena bubble burst di Indonesia, tampaknya hal ini terjadi di kalangan start up yang timbul tenggelam. Banyak start up bermunculan namun tak sedikit yang gulung tikar.
Perusahaan ini banyak merekrut karyawan lewat strategi bakar uang, walaupun di sisi lain juga banyak melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK. Kabar terbaru start up edutech Zenius melakukan PHK kepada 200 lebih karyawan. Fenomena ini merupakan efek dari bubble burst, atau LinkAja yang juga melakukan hal serupa.
Jauh sebelumnya, ada cukup banyak perusahaan rintisan yang berkembang pesat mendadak mengumumkan mereka bangkrut dan angkat kaki dari Indonesia karena masalah keuangan.
Melansir Investopedia, bubble burst atau ledakan gelembung adalah siklus ekonomi yang ditandai dengan eskalasi atau kenaikan nilai pasar yang cepat, terutama dalam harga aset.
Inflasi yang cepat ini diikuti oleh penurunan nilai yang cepat, atau kontraksi, yang kadang-kadang disebut sebagai ledakan gelembung atau bubble burst.
Biasanya, gelembung diciptakan oleh lonjakan harga aset yang didorong oleh perilaku pasar yang terkena euforia. Selama fenomena ini terjadi, aset biasanya diperdagangkan pada harga, atau dalam kisaran harga, yang sangat melebihi nilai intrinsik aset.
Nilai ini biasanya digunakan oleh para investor untuk menentukan harga sebuah aset di pasaran.
Penyebab bubble burst sampai saat ini masih diperdebatkan oleh para ekonom. Terutama faktor-faktor yang mendasari terjadinya fenomena bubble burst yang tidak bisa didefinisikan secara pasti. Namun, bubble burst biasanya baru teridentifikasi setelah penurunan harga secara besar-besaran terjadi.
Gelembung ekonomi bisa terjadi kapan saja. Gelembung ini biasanya dikaitkan dengan perubahan perilaku investor, meskipun apa yang menyebabkan perubahan perilaku ini juga diperdebatkan.
Gelembung di pasar ekuitas dan ekonomi menyebabkan sumber daya ditransfer ke area pertumbuhan yang cepat. Pada akhir gelembung, sumber daya dipindahkan lagi, menyebabkan harga mengempis.
Sebagai contoh ekonomi Jepang mengalami gelembung atau bubble pada 1980-an setelah bank-bank negara itu sebagian dideregulasi atau harus menerapkan aturan baru. Fenomena ini menyebabkan lonjakan besar dalam harga real estat dan harga saham.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1472 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1111 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 955 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 849 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik