Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 2 Juli 2026
Waspada Saat Menggunakan Parasetamol, Berisiko Tekanan Darah Tinggi
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Sebuah temuan meta analisis baru telah menemukan hubungan antara obat asetaminofen atau parasetamol dan kejadian tekanan darah pada mereka yang memiliki risiko penyakit jantung atau kardiovaskular.
Dalam studi baru yang terbit di European Journal of Preventive Cardiology ini, peneliti menemukan orang yang mengonsumsi asetaminofen memiliki tekanan darah elbih tinggi daripada yang lain.
Dilansir Times of India, studi ini melibatkan 172 peserta dengan usia rata-rata 59 tahun. Sebanyak 73 persen di antaranya laki-laki.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi asetaminofen selama 2 hingga 3 minggu mengalami peningkatan tekanan darah daripada kelompok plasebo.
Peningkatan terlihat pada tekanan darah sistolik. Namun tidak ada perubahan signifikan pada tekanan darah diastolik.
Dari temuan ini, peneliti memperingatkan kepada orang yang sudah mengidap tekanan darah tinggi atau memiliki risiko terkena penyakit jantung untuk berhati-hati saat mengonsumsi asetaminofen.
Mengingat beberapa orang yang memiliki risiko penyakit jantung bergantung pada asetaminofen sebagai alternatif yang lebih aman daripada aspirin atau obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen.
Asetaminofen atau parasetamol merupakan obat yang digunakan untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang serta demam.
Meski banyak digunakan, dokter dan ahli kesehatan selalu memperingatkan agar tidak menggunakannya secara berlebihan. Sebab, dosis tinggi parasetamol bisa beracun bagi hati.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 897 Kali
CBR Tabrak Truk di Sibetan, Pemotor Tewas di Tempat
Dibaca: 280 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun