Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 3 November 2026
Tangkis Inflasi, Zimbabwe Langsung Bikin Koin dari Emas
BERITABALI.COM, DUNIA.
Dalam waktu dekat, Zimbabwe akan memperkenalkan koin emas terbarunya. Ini untuk menekan inflasi yang melonjak di tengah kemerosotan mata uangnya dan mengurangi kehausan publik akan dolar Amerika Serikat (AS).
Koin emas 22 karat itu masing-masing seberat satu ons troy (31,1 gram) dan diberi nomor satu per satu. Koin itu akan disebut sebagai koin 'Mosi-oa-Tunya' yang artinya asap yang bergemuruh. Hal itu mengacu pada Air Terjun Victoria yang terletak di perbatasan antara Zimbabwe dan Zambia.
Koin itu akan tersedia mulai 25 Juli dan dijual melalui bank mulai Senin dengan harga emas internasional yang berlaku. Setiap koin emas akan diidentifikasi dengan nomor seri dan dapat dengan mudah dikonversi menjadi uang tunai, secara lokal dan internasional.
Pembeli akan mengambil kepemilikan fisik koin dan diberikan sertifikat kepemilikan, dengan opsi untuk menempatkan aset di brankas bank. Pemerintah mengatakan inovasi tersebut bertujuan menopang perekonomian pada saat inflasi dan depresiasi dolar Zimbabwe.
"Koin emas tersebut akan tersedia untuk dijual kepada publik baik dalam mata uang lokal maupun dolar AS dan mata uang asing lainnya dengan harga berdasarkan harga emas internasional yang berlaku dan biaya produksi," kata Gubernur Bank Sentral Zimbabwe, John P Mangudya.
Dia mengatakan kepada anggota parlemen bahwa jika pasar mata uang paralel stabil, uang akan memiliki nilai dan menghasilkan harga yang stabil.
Kendati demikian, jumlah koin yang akan dicetak belum diungkapkan. Zimbabwe adalah sumber utama emas, dan mereka akan dibuat dari bijih yang ditambang secara lokal.
Inflasi naik menjadi 191,60 persen pada bulan Juni, tingkat resmi tertinggi di dunia, menurut Steve Hanke, seorang profesor ekonomi terapan di Universitas Johns Hopkins di Maryland. Keyakinan terhadap dolar lokal sangat rendah sehingga barang dan jasa sebagian besar dihargai dalam dolar.
Dolar AS telah menjadi mata uang pilihan sejak 2008, ketika inflasi melonjak begitu jauh di luar kendali sehingga bank sentral mengeluarkan uang kertas 100 triliun dolar, yang kini telah menjadi barang koleksi.
Meski begitu, para ekonom dan oposisi skeptis tentang dampak koin baru. Mereka berpendapat bahwa ide tersebut itu tidak berguna.
"Koin tidak akan memiliki efek signifikan dalam menstabilkan ekonomi makro," kata ekonom Prosper Chitambara kepada AFP, seraya menambahkan bahwa sebagian besar warga Zimbabwe terlalu miskin untuk membeli koin tersebut.
"Sewenang-wenang dan berubah-ubah," kata Takavafira Zhou, seorang ilmuwan politik di Universitas Negeri Masvingo.
"Idenya adalah melakukan sesuatu untuk menyibukkan orang dan terlihat melakukan sesuatu. Itulah masalahnya ketika Anda memiliki kepala kecil yang duduk di kantor besar," katanya Zhou.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Luka Batin, Cinta, dan Kebuntuan Hidup
Dibaca: 546 Kali
Kronologi Pria Ditemukan Tewas Tergantung Pohon di Legian
Dibaca: 399 Kali
BNNK Buleleng Temukan 14 Orang Positif Narkotika
Dibaca: 398 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan