Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 31 Juli 2026
Praja, Tradisi Jelang Khitanan Naik Jaran Kamput
BERITABALI.COM, NTB.
Suara tabuhan Gendang Beleq mengiringi jaran kamput atau yang akrab dikenal warga Sasak sebagai jaran mati.
Di atas jaran yang diangkat oleh empat orang tersebut, terdapat anak-anak yang akan dikhitan. Oleh masyarakat Desa Senggigi, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat, menyebutnya dengan sebutan Praja. Anak diarak keliling untuk menghibur agar tidak menangis saat disunat. Dan, kegiatan ini seringkali dilakukan jika ada khitanan.
Seperti yang terlihat di dusun Kerandangan pada Sabtu (8/10) sore, serombongan orang berjalan menyusuri jalan Wisata Alam Kerandangan. Mereka membawa gendang sebagai alat musik tabuh dan memikul anak kecil. Sedangkan di tepi jalan, warga berdiri menyaksikan sambil bersorak gembira.
Serombongan orang itu sedang mempertahankan tradisi leluhur mereka. Itulah arak-arakan Praja untuk menyambut anak laki-laki yang akan disunat atau dikhitan sebagai tanda menginjak besar.
Kegiatan (arak-arakan Praja) ini dilakukan selama dua hari. Hari pertama sebelum dikhitan, maka anak tersebut harus di arak keliling kampung, hal itu agar masyarakat tahu jika sang anak nantinya akan dikhitan. Pada hari kedua, anak tersebut kembali diarak untuk menghibur sang anak agar tidak menangis saat disunat.
“Tradisi arak-arakan Praja ini sebenarnya melambangkan sebagai bentuk kasih sayang orang tua terhadap anaknya,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat dusun Kerandangan saat ditemui ditempat acara, Sabtu (8/10).
Dikatannya, memang secara aturan tertulis ataupun adat, tidak ada yang mengharuskan warga untuk menggunakan Praja atau jaran mati itu saat melakukan sunatan. Hanya saja, itu merupakan kebiasaan yang sudah turun temurun yang menjadi peninggalan nenek moyang terdahulu.
“Jadi, karena Praja ini merupakan warisan nenek moyang kita, sehingga kita berupaya untuk melestarikannya supaya anak cucu nantinya dapat meneruskannya," katanya.
"Masyarakat yang lain juga ikut mengiringi arak- arakan itu. Ini juga sebagai ajang hiburan bagi masyarakat Senggigi jika ada yang sunatan,” tambahnya.
Terpisah, Kepala Desa Senggigi, Mastur mengatakan Pemdes Senggigi sangat mendukung dan terus berusaha melestarikan kearifan lokal, yang salah satunya adalah Praja ini. Menurut dia, selain untuk menjaga warisan budaya nenek moyang terdahulu, di satu sisi hal itu juga sebagai upaya untuk mengangkat minat para wisatawan untuk datang ke desa Senggigi.
“Termasuk Praja saat sunatan ini memang selalu digunakan di tengah masyarakat. Dan ini salah satu daya tarik bagi para wisatawan,” katanya.
Mastur berharap agar tradisi -tradisi terdahulu yang mulai jarang dilakukan oleh warga supaya diangkat kembali. Hal ini bertujuan agar tradisi tersebut dikenal oleh masyarakat luas,baik nasional maupun internasional.
"Gali semua potensi tradisi kita untuk menjadi attraction di kawasan wisata Desa Senggigi ini," pungkasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/lom
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3905 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 3050 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2085 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2050 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1826 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun