Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 27 September 2026
AS Wanti-Wanti Australia Jangan Dukung Larangan Senjata Nuklir
BERITABALI.COM, DUNIA.
Amerika Serikat mewanti-wanti Australia agar tidak ikut-ikutan menyetujui perjanjian pelarangan senjata nuklir. Ratusan negara diketahui membuat perjanjian yang mengatur pelarangan senjata nuklir dengan tujuan pelucutan total senjata tersebut. Perjanjian itu dibuat pada 2017 dan mulai berlaku sejak 22 Januari 2021.
Menurut AS, perjanjian itu hanya menghambat kebijakan pertahanan antara AS dan sekutunya, termasuk Australia. Menurut Washington, pakta tersebut bisa menggagalkan perjanjian pertahanan baru antara AS, Australia, dan Inggris yang dinamakan AUKUS.
"Amerika Serikat memahami dan memiliki kepentingan yang sama untuk memajukan tujuan pelucutan senjata nuklir, tapi kami tidak mendukung perjanjian tentang larangan senjata nuklir," kata juru bicara Kedutaan Besar AS di Canberra kepada The Guardian, Rabu (9/11).
"Amerika Serikat tidak percaya bahwa kemajuan menuju pelucutan senjata nuklir bisa tercapai dengan mengabaikan ancaman keamanan yang berlaku di dunia saat ini," lanjut jubir itu.
Pernyataan AS itu muncul setelah Australia mengubah posisi mereka soal perjanjian larangan nuklir dari semua menentang menjadi abstain.
Kedutaan Besar AS di Canberra mengatakan perjanjian larangan senjata nuklir ini bisa menghambat AS memperluas strategi pertahanan pencegahan (detterence) yang masih diperlukan untuk perdamaian dan keamanan internasional.
Kedutaan juga mengatakan perjanjian itu berisiko "memperkuat perpecahan" dalam komunitas internasional.
Berbeda dengan AS, Selandia Baru justru "senang melihat perubahan positif" dari Australia terkait pakta tersebut.
Wellington juga menyatakan "bakal menyambut setiap ratifikasi baru sebagai langkah penting untuk mencapai dunia bebas senjata nuklir".
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, belakangan terlibat dalam advokasi melawan senjata nuklir. Albanese menggambarkan nuklir sebagai "senjata paling merusak, tidak manusiawi, dan tidak pandang bulu yang pernah dibuat".
Pada 2018, Albanese juga sempat menggerakkan mosi pada konferensi nasional Buruh yang mendukung perjanjian. Ia mengamini tugas pelucutan itu tidak akan mudah ataupun sederhana namun akan "adil" bagi dunia.
Posisi Albanese ini kontras dengan pendahulunya, Scott Morrisson, yang justru menyepakati perjanjian AUKUS dengan AS dan Inggris yang salah satu isinya rencana membangun kapal selam bertenaga nuklir bagi Australia.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8467 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5817 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3642 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2470 Kali
ABOUT BALI
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar