Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 29 Oktober 2026
Alasan Pemilu Malaysia Buntu Sampai Tak Punya PM Baru
BERITABALI.COM, DUNIA.
Pemilihan umum Malaysia akhir pekan lalu belum menghasilkan pemerintahan baru. Raja sampai-sampai turun tangan meminta koalisi menyetor nama calon perdana menteri paling lambat besok, Selasa (22/11).
Pemilu Malaysia buntu setelah tak ada partai politik atau koalisi yang mencapai ambang batas perolehan kursi parlemen. Menurut konstitusi Malaysia, untuk membentuk kabinet, partai atau koalisi perlu 112 dari total 222 kursi. Pemegang suara terbanyak ini yang berhak memberikan nama calon PM kepada raja Malaysia.
Dalam pemilu kali ini, Koalisi Pakatan Harapan (PH) pimpinan Anwar Ibrahim memenangkan suara terbanyak dengan 82 kursi. Sementara itu, aliansi Muhyiddin Yassin, Perikatan Nasional, meraih 73 kursi. Namun kemudian, ia mengklaim dapat dukungan dua blok politik yang lebih kecil dari Sabah dan Sarawak, sehari usai pemilu.
Dengan demikian, kursi yang diperoleh aliansi Muhyiddin sebanyak 101 kursi. Namun, ini masih belum mencapai ambang batas, demikian dilaporkan Reuters.
Di tengah kebuntuan itu, Raja Malaysia Al Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al Mustafa Billah awalnya memerintahkan pemimpin parpol dan koalisi untuk menyerahkan nama calon PM pada hari ini. Namun ketika masih belum ada koalisi yang terbentuk hingga Senin siang, raja akhirnya memperpanjang penyerahan nama calon PM hingga besok.
"Perintah agar proses bagi ketua-ketua partai politik menyampaikan koalisi pascapemilu ke-15 untuk pembentukan pemerintah baru dan pencalonan bakal PM Malaysia ke-10 diperpanjang hingga pukul 14.00 besok," demikian pernyataan resmi Istana Malaysia di Facebook.
Anwar dan Muhyiddin pun kembali bergerilya mengumpulkan dukungan demi mencapai koalisi dan mayoritas di parlemen. Beberapa media melaporkan koalisi Anwar bertemu dengan petinggi koalisi Barisan Nasional (BN) di sebuah hotel pada Senin pagi. Ahmad Zahid Hamidi selaku ketua koalisi BN juga turut hadir dalam pertemuan itu.
Di sisi lain, Muhyiddin memepet salah satu partai terbesar di koalisi BN, yakni partai Organisasi Nasional Bersatu (UMNO). Muhyiddin sendiri sempat memimpin UMNO beberapa tahun lalu. Anggota dewan tertinggi UMNO, Jalaludin Alias, pun mengutarakan koalisi BN harus membentuk pemerintah tanpa koalisi PH.
Dalam pernyataan resmi, ia mendukung Muhyiddin menjadi PM. Ia beralasan, PN mendapat banyak suara di pemilu baru-baru ini.
"Masalah ini harus menjadi tanggung jawab bersama anggota Dewan Rakyat dari BN,PN, Partai Pejuang Tanah Air, GPS [Gabungan Partai Serawak], Gabugan Rakyat Sabat [GRS], Independen, dan yang lain," kata Jalaludin, seperti dikutip MalayMail.
Jalaludin juga mengungkapkan alasan menolak PH. Menurutnya, kinerja PH buruk selama 22 bulan koalisi itu berkuasa sejak 2018. Lebih lanjut, ia menerangkan rakyat dan negara harus tetap sejahtera. Menjadikan PN mitra, menurutnya, adalah pilihan yang tepat guna merealisasikan visi itu.
Namun, pemimpin koalisi BN yang menaungi UMNO, Ahmad Zahid Hamidi, sejak awal sudah menegaskan agar anggotanya tak melakukan negosiasi tanpa izin.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5972 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4664 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2650 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2304 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2233 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan