Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Mengenal Siwaratri, Sering Dianggap Malam Peleburan Dosa
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Siwaratri cukup lumrah diyakini masyarakat sebagai malam peleburan dosa. Lantas, benarkah demikian? Menurut pendeta Hindu, Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari, Siwaratri ini erat kaitannya dengan sebuah kisah seorang pemburu bernama Lubdhaka yang diuraikan sebuah Karya Sastra Jawa Kuna, Kekawin Siwaratri Kalpa karya Empu Tanakung dan di Bali lebih dikenal dengan Kekawin Lubdhaka.
"Kalau kita telusuri secara seksama kisah Lubdhaka ini mempuyai wawasan relegius yang sangat dalam serta dijiwai oleh nilai ajaran Hindu baik aspek filosofisnya, aspek moral atau etikanya dan juga aspek ritualnya," paparnya.
Dari kisah itu, masyarakat kemudian mempersepsikan bahwa cerita Lubdhaka sebagai usaha umat Hindu dalam melakukan Dharma peleburan dosa atau malam penebusan dosa.
“Namun setalah dikaji dengan hati-hati dan lebih mendalam ternyata nilai yang terkandung di dalamnya tidaklah sesempit, sedangkal dan semudah itu orang-orang dapat menebus dosa-dosanya, serta tampaknya sangat bertentangan dengan Srddha hukum karma atau Karma Phala,” ujar Ida Pedanda yang saat walaka bernama Ida Bagus Gede Wiyana itu.
Perlu diingat bahwa si pemburu Lubdhaka sebagai orang yang hidupnya papa. Kata Papa disini tidak sama maknanya di sini dengan kata dosa kendatipun kata-kata itu dapat diterjemahkan dengan dosa.
Dalam hal ini kepapaan si Lubdhaka jiwanya diliputi oleh kegelapan atau Awidya yang berakibat munculnya ketidaksadaran, kebodohan, rendah kualitas hidup yang selalu dibelenggu oleh keduniawian.
Hal tersebut terlihat pada perbuatan himsa karma yaitu memburu dan membunuh binatang buruannya setiap hari guna dapat menghidupi keluarganya.
Lebih lanjut dijelaskan, kisah Lubdhaka dengan Siwaratrinya sesungguhnya mengandung makna sebagai tonggak peringatan umat Hindu untuk senantiasa berusaha untuk melebur kepapaan hidupnya, pada malam payogan Bhatara Siwa agar terlepas dari belenggu kegelapan hidup, gelapnya jiwa atau Awidya, bebas dari kebodohan, bebas dari ketidaksadaran, bebas dari ikatan duniawi.
Hingga pada akhirnya nanti dapat mencapai Widya, hidup yang terang, jagadhita dan tercapainya moksa bersatu kembali dengan asal mula kehidupan yaitu Sang Hyang Widhi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5921 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4641 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2611 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2267 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2216 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan