Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 9 Agustus 2026
BI Waspadai Kenaikan Inflasi di Bali Jelang Nyepi dan Bulan Puasa
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali merilis data inflasi gabungan dua kota di Provinsi Bali (Denpasar dan Singaraja) pada Februari 2023 sebesar 0,07% (mtm). Jumlah ini menurun dibandingkan bulan sebelumnya (0,66%, mtm) dan lebih rendah dari inflasi Nasional (0,16%, mtm).
Penurunan inflasi Februari 2023 tidak terlepas dari pengaruh positif respons kebijakan moneter Bank Indonesia dan sinergi pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID).
Namun demikian, inflasi secara tahunan masih cukup tinggi sebesar 6,35% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya 5,81% (yoy) akibat pengaruh base effect periode yang sama tahun sebelumnya.
"Berdasarkan komoditasnya, terjadinya inflasi disebabkan oleh kenaikan harga pada komoditas beras, bahan bakar rumah tangga (gas LPG), bawang merah, dan cabai merah. Kenaikan harga beras karena terbatasnya pasokan gabah dan belum masuknya masa panen padi, sedangkan kenaikan harga gas LPG disebabkan oleh pembatasan pembelian gas LPG 3 kg dan penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET)," papar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, Kamis (2/3/2023) di Denpasar.
Menurutnya, kenaikan harga bawang merah dan cabai merah akibat penurunan produksi seiring dengan tingginya curah hujan pada Februari 2023. Namun demikian, inflasi yang lebih tinggi dapat tertahan dengan menurunnya harga canang sari, daging ayam ras, telur ayam ras, tomat dan angkutan udara.
"Harga canang sari kembali menurun sejalan dengan normalisasi permintaan pasca berakhirnya perayaan Galungan dan Kuningan," sebutnya.
Adapun penurunan harga daging ayam ras, telur ayam ras dan tomat didorong oleh peningkatan pasokan, sedangkan penurunan tarif angkutan udara terjadi seiring dengan penurunan harga avtur.
Pada Maret 2023, beberapa risiko yang perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan kenaikan inflasi antara lain kenaikan permintaan bahan makanan dan makanan jadi menjelang bulan puasa dan hari raya Nyepi, kenaikan harga BBM Non Subsidi (Pertamax, Pertamax Plus) per 1 Maret 2023 yang berpotensi menyebabkan first and second round effect terhadap inflasi, dan curah hujan yang masih tinggi dapat menyebabkan penurunan produksi hortikultura.
"Sebaliknya, peningkatan pasokan beras oleh Bulog dan mulainya musim panen padi pada Maret 2023 diprakirakan menurunkan tekanan kenaikan harga beras," pungkas Trisno.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4401 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 1806 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1496 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 982 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 917 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun