Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 19 Oktober 2026
Cacing Purba 46 Ribu Tahun Coba Dihidupkan Lagi
BERITABALI.COM, DUNIA.
Cacing purba yang membeku 46 ribu tahun lalu di bawah permafrost atau lapisan tanah beku Siberia coba dihidupkan lagi oleh para ilmuwan.
Cacing gelang dari spesies yang tidak diketahui ini bertahan 40 meter di bawah tanah beku. Hewan ini berada dalam kondisi tidak aktif atau dikenal dengan sebutan kriptobiosis.
Kondisi kriptobiosis berarti organisme bertahan tanpa air atau oksigen sama sekali dan tahan terhadap suhu tinggi, beku atau sangat asin.
Menurut Teymuras Kurzchalia, profesor emeritus di Max Planck Institute of Molecular Cell Biology and Genetics di Dresden yang terlibat dalam riset, menjelaskan organisme dalam kondisi "antara kematian dan kehidupan".
"Seseorang dapat menghentikan hidup dan kemudian memulainya dari awal. Ini temuan besar," kata Kurzchalia seperti dilaporkan CNN.
Temuan cacing ini kemudian dicairkan lalu dianalisis menggunakan radiokarbon untuk memastikan bahwa endapan itu belum dicairkan antara 45.839 dan 47.769 tahun lalu.
Sementara itu, karena belum diketahui apa cacing berasal dari spesies yang sudah dikenal atau belum, dilakukan analisis genetik oleh ilmuwan di Dresden dan Cologne. Hasilnya, cacing adalah spesies baru dan diberi nama Panagrolaimus kolymaenis (P. kolymaenis).
Rupanya P. kolymaenis mirip dengan C. elegans yakni organisme lain dalam studi ilmiah. Keduanya menghasilkan gula atau trehalosa yang memungkinkan mereka mampu bertahan dalam kondisi kriptobiosis.
"Melihat bahwa jalur biokimia yang sama digunakan dalam spesies yang berjarak 200, 300 juta tahun, itu benar-benar mengejutkan. Artinya, beberapa proses dalam evolusi sangat dilestarikan," kata Phillip Schiffer, ketua Institute of Zoology di University of Cologne sekaligus peneliti yang terlibat dalam studi.
Dia berkata dengan analisis temuan hewan purba ini memungkinkan ada informasi terkait biologi konservasi atau kembangan upaya untuk melindungi spesies lain.
"Atau setidaknya mempelajari apa yang harus dilakukan untuk melindungi mereka dalam kondisi ekstrem yang kita alami sekarang ini," katanya. (sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4488 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2112 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2029 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1645 Kali
Sidak Cafe di Payangan, Polisi dan BNN Gianyar Tes Urine 21 Orang
Dibaca: 1490 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan