Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 2 Juli 2026
Kue Putu Ayu Khas Bali, Jajanan Tradisional Warisan Keluarga
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Kue putu ayu bisa menjadi alternatif bagi yang ingin membuat kue kukus. Tekstur kue putu ayu mirip bolu kukus, tetapi lebih ringan. Aromanya sangat harum karena ada campuran daun suji, daun pandan, dan kelapa parut.
Pedagang dan pembuat jajanan khas Bali Ayu Hartati mengatakan olahan Putu Ayu adalah sejenis kue tradisional yang berasal dari Bali. Kue ini terbuat dari tepung beras, santan, gula merah, dan pandan. Putu ayu memiliki bentuk bulat dan berwarna hijau.
Kue ini biasanya dihidangkan dengan taburan gula pasir dan taburan parutan kelapa di atasnya untuk menambahkan rasa manis dan aroma yang khas.
"Putu ayu telah menjadi makanan tradisional di Bali selama berabad-abad. Kue ini biasanya disajikan pada acara-acara seperti upacara adat, pernikahan, dan pesta. Putu ayu dimasak dengan cara direbus dalam air mendidih," kata Ayu di pinggiran Pasar Ijo Gading.
Kue putu ayu, kata dia, juga makanan yang mudah dibuat dan banyak orang menyukainya. Kue ini juga dapat ditemukan di sejumlah pasar tradisional di Bali.
Selain itu, juga disajikan di warung dan juga toko kue di seluruh Bali. Kue putu ayu yang dibuatnya juga dapat dipesan secara online dan dikirim ke rumah.
Jajanan tradisional dengan rasa gurih dan mudah membuatnya ini adalah warisan turun menurun dari keluarganya yang memang pedagang keliling jajanan keliling menggunakan sepeda.
"Enak pula disajikan saat pagi hari atau sore hari di rumah sambil menikmati bersama keluarga ataupun sahabat. Walau menggunakan bahan sekitar 2 kg tapi bisa menghasilkan ratusan kue dan pundi-pundi uang yang lumayan. Sebiji kue Putu Ayu hanya dipatok Rp.2.000," pungkasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun