Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Membaca Bayangan, Menerjemahkan Derita, dan Merawat Harapan

Minggu, 16 November 2025, 21:45 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/ilustrasi/merdeka.com/Membaca Bayangan, Menerjemahkan Derita, dan Merawat Harapan.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Seorang perempuan, NMS, 43 tahun, menikah, Hindu, suku Bali, ibu rumah tangga lulusan SMA, dikeluhkan sering melihat bayangan setelah kemoterapi adjuvan pertama untuk kanker. 

Ia melihat sosok laki-laki berjalan di sekitar tempat tidur, empat orang membawa pedang yang hendak melukainya, peti mati, serta rumah dan dapur runtuh. Bayangan tampak gelap, tidak jelas wajah maupun pakaian, tidak berbicara maupun menyentuh, namun terasa nyata. 

Ia sangat takut, cemas, gelisah, merasa diawasi, dan tidak berani menatap langsung. Ia yakin dalam keadaan sadar, bukan bermimpi, dan tetap dapat mengenali orang di sekitarnya.

Sebelum dirawat, di rumah juga merasa ada orang berjalan di halaman dan berusaha merusak rumah, mendengar langkah kaki, serta melihat bayangan samar di luar, namun keluarga tidak menemukan siapa pun. Keluhan muncul beberapa hari setelah kemoterapi, disertai mual berat, muntah berulang, pusing berputar, sangat lemah, tidak nafsu makan, dan sulit tidur. 

Ia beberapa kali kontrol ke rumah sakit karena leukopenia dan akhirnya dirawat kembali akibat lemas dan muntah hebat. Setelah kondisi fisik membaik dengan perawatan di rumah sakit, gangguan tidur berkurang dan bayangan tidak lagi muncul. Suami menguatkan bahwa perubahan paling mencolok adalah munculnya “penglihatan aneh”. 

Pasien tampak sangat ketakutan, memegang leher sambil mengatakan pedang akan melukainya, berteriak melihat peti besar di dalam rumah, dan bersikeras bahwa rumahnya runtuh meski secara nyata utuh. Ia menjadi mudah takut, selalu ingin ditemani, memandang ke sudut ruangan atau jendela dengan waspada, gemetar dan menutup wajah sambil berdoa bila mengingat bayangan tersebut. 

Sebelumnya ia dikenal teliti, rapi, disiplin, dan perfeksionis, tanpa riwayat gangguan jiwa maupun halusinasi. Dalam keluarga juga tidak ditemukan keluhan serupa. Gejala psikotik ini muncul akut setelah kemoterapi dengan latar kondisi fisik sangat lemah. Kejadian tersebut membuat ia bingung, sempat mempertanyakan kewarasannya sendiri, namun tetap yakin bahwa apa yang dialami benar-benar nyata. 

Ketika tubuh terjatuh, pikiran ikut terguncang

Ketika seseorang mengalami kondisi fisik yang berat, seperti ibu NMS yang baru menjalani kemoterapi adjuvan dan disertai mual hebat, muntah berulang, pusing, sangat lemah, leukopenia, hingga perlu rawat inap yang terpengaruh bukan hanya tubuh, tetapi juga otak dan sistem psikologisnya. 

Sejumlah mekanisme saling berinteraksi seperti stres fisik yang sangat berat, gangguan metabolik, efek obat yang bersifat neurotoksik, disfungsi organ seperti hati atau ginjal, perubahan pola tidur, malnutrisi, dehidrasi, serta efek samping langsung dari kemoterapi. 

Kombinasi faktor-faktor ini dapat memicu perubahan suasana perasaan, meningkatkan kecemasan, mengganggu fungsi kognitif, hingga menimbulkan gangguan persepsi dan gangguan dalam memaknai realitas. Dalam populasi penderita kanker, fenomena seperti delirium atau perubahan kesadaran memang sering dijumpai, dan penelitian menunjukkan bahwa delirium pada pasien kanker memiliki etiologi yang multifaktorial dan berkaitan dengan prognosis yang lebih buruk. 

Kemoterapi sendiri juga telah dihubungkan dengan “chemo-fog” atau gangguan kognitif pascakemoterapi, dan meskipun jarang, terdapat laporan kasus munculnya gejala psikotik akut setelah terapi tersebut.

Pada kasus NMS, tampak jelas beberapa faktor risiko fisik yang dapat menjelaskan munculnya perubahan perilaku dan proses pikir. Kemoterapi adjuvan yang baru dijalani membuka kemungkinan terjadinya neurotoksisitas atau perubahan neuropsikiatrik.  Kondisi fisik yang sangat lemah, ditandai dengan mual hebat, muntah yang terus-menerus, pusing, dan rasa lemas berkepanjangan, dapat menyebabkan gangguan keseimbangan metabolik, dehidrasi, malnutrisi, serta gangguan tidur. Leukopenia dan kebutuhan untuk kembali dirawat di rumah sakit mencerminkan sistem imun yang terganggu, adanya potensi infeksi serta proses inflamasi, dan menambah beban stres fisik maupun psikologis. 

Gangguan tidur yang berat dan rasa lemah yang terus-menerus semakin memperbesar kerentanan otak terhadap disorganisasi persepsi. Dalam keadaan ketika otak terbebani oleh tekanan fisik yang ekstrem, kemampuannya untuk mempertahankan integritas proses berpikir, mengolah informasi sensorik, dan menjaga batas antara realitas internal dan eksternal menjadi menurun. 

Akibatnya, muncul perubahan perilaku dan proses pikir berupa kecemasan yang sangat intens, rasa terus-menerus diawasi, pengalaman melihat bayangan, serta interpretasi realitas yang bergeser dari kenyataan objektif.

Jika dilihat melalui lensa teori biopsikososial, kondisi NMS dapat dipahami sebagai hasil interaksi antara faktor biologis, psikologis, dan sosial-budaya. Dari sisi predisposisi biologis, usia 43 tahun, keberadaan kanker, serta paparan kemoterapi menempatkan pasien dalam posisi rentan, meskipun sebelumnya tidak ada riwayat gangguan jiwa. Kerentanan ini dapat terkait dengan status imun, kondisi fisik yang menurun, dan kualitas tidur yang terganggu. 

Dari sisi pemicu (precipitant), kondisi fisik akut setelah kemoterapi seperti muntah hebat, pusing, lemah, dan kebutuhan rawat inap menjadi faktor pencetus yang kuat. Secara psikologis dan personal, identitas NMS sebagai ibu rumah tangga lulusan SMA, suku Bali dan beragama Hindu, dengan struktur kehidupan yang banyak berpusat di rumah, dapat memunculkan pergulatan batin ketika sakit rasa takut, rasa bersalah, dan perubahan citra diri karena tidak mampu menjalankan peran seperti biasa. 

Di level ekologis atau komunal, sistem dukungan keluarga dan konteks budaya Bali/Hindu ikut memberi warna pada pengalaman penampakan, dimana keyakinan terhadap dunia gaib, bayangan, dan unsur supranatural dalam kebudayaan tradisional Bali berpotensi memengaruhi cara pasien memahami dan merespons pengalaman perseptualnya. 

Dari sudut neurobiologi, kondisi fisik yang parah dan kemoterapi yang dijalaninya dapat menurunkan cadangan kognitif (cognitive reserve) dan memperlemah kontrol frontal/eksekutif, sehingga proses pikir menjadi kurang terfilter dan sistem persepsi lebih rentan terhadap misinterpretasi atau munculnya halusinasi. 

Studi tentang “chemo brain” dan perubahan kognitif pada pasien kanker mendukung gagasan bahwa kemoterapi dan kondisi medis berat dapat mengganggu integritas fungsi otak sehingga memengaruhi berpikir, mengingat, dan memaknai realitas.

Secara singkat, dapat disimpulkan bahwa kondisi fisik yang berat, paparan kemoterapi, gangguan tidur, serta gangguan metabolik bersama-sama menciptakan lahan subur bagi terjadinya perubahan pada pikiran, persepsi, dan perilaku. Yang dialami pasien bukan sekadar rasa takut biasa, melainkan telah terjadi disorganisasi psikobiologis yang membuat pengalaman seperti melihat bayangan terasa sangat nyata dan mengancam. Dalam konteks NMS sebagai perempuan Bali beragama Hindu, penting untuk disadari bahwa cara ia menginterpretasikan pengalaman tersebut sangat dipengaruhi oleh makna spiritual dan sosial yang hidup di lingkungannya.

Suara tak terucap dari batin yang terkepung

Dari perspektif psikodinamika, NMS sedang menghadapi krisis ganda yaitu ancaman fisik berupa kanker dan kemoterapi bersinggungan dengan ancaman psikologis terhadap identitasnya sebagai ibu rumah tangga, istri, serta anggota komunitas Bali/Hindu. Ketika tubuh melemah dan perannya di rumah terhambat oleh muntah, rasa lemas, dan rawat inap, muncul kecemasan eksistensial yang dalam, ada pertanyaan tentang kebermaknaan diri, ketakutan akan kematian, dan rasa kehilangan kendali atas rumah tangga yang selama ini menjadi pusat peran dan harga dirinya. 

Dalam keadaan seperti ini, bayangan-bayangan yang muncul berupa sosok laki-laki membawa pedang, peti mati, rumah runtuh dapat dipahami sebagai simbolisasi dari kecemasan dan konflik internal tersebut. Pedang menjadi metafora ancaman atau kematian, peti mati sebagai representasi kekhawatiran akan takdir hidupnya, sedangkan rumah atau dapur runtuh melambangkan ancaman terhadap stabilitas rumah tangga dan mandat budaya seorang perempuan Bali sebagai penjaga keseimbangan rumah, leluhur, serta yadnya. 

Dalam konteks budaya Bali/Hindu, keberadaan roh, makhluk halus, atau bayangan gaib adalah bagian dari kerangka makna sosial dan spiritual yang hidup di masyarakat. Karena itu, melihat bayangan bukan sesuatu yang asing secara kultural. Namun dalam kasus NMS, pengalaman itu tidak hadir sebagai bagian dari aktivitas spiritual, tetapi sebagai rangkaian persepsi yang menakutkan dan mengancam. Konflik antara makna spiritual tradisional dan realitas medis modern berupa kanker, kemoterapi, serta kelemahan fisik meningkatkan beban emosionalnya dan memperkuat ketakutan yang ia rasakan.

Dari sisi psikososial, kondisi NMS dipengaruhi oleh perubahan aktivitas dan fungsi sehari-hari. Ketika kondisi fisiknya memburuk, ia tidak lagi mampu menjalankan peran domestik yang selama ini menjadi sumber harga diri dan struktur harian. Hal ini dapat menimbulkan rasa gagal, perasaan menjadi beban, dan kekhawatiran akan kehilangan tempatnya dalam keluarga. 

Rasa diawasi, takut menatap langsung, ingin selalu ditemani, serta hilangnya rasa aman di rumah membuat dunia sosialnya menyempit. Rumah dan dapur, yang dalam budaya Bali memegang makna lebih dari sekadar tempat tinggal tetapi pusat identitas, spiritualitas, dan kewajiban keluarga, namun tiba-tiba terasa mengancam bagi dirinya. 

Keluarga pun mengalami beban tersendiri ketika menyaksikan perubahan psikologis yang tidak mereka pahami, terutama karena melihat bayangan dapat dianggap tabu atau menimbulkan stigma dalam masyarakat Bali yang sangat menghargai keseimbangan spiritual. 

Gangguan tidur dan kecemasan memperparah kerentanan psikologisnya, sementara pengalaman rawat inap, leukopenia, dan kemoterapi memberi perasaan bahwa hidupnya berada di luar kontrol. Dalam kerangka model stress–vulnerability, kondisi NMS dapat dipandang sebagai perpaduan antara kerentanan biologis moderat (usia, kanker, kemoterapi), pemicu berat (perubahan fisik akut), dan faktor pemelihara seperti kurang tidur, kecemasan, dan fokus keluarga yang lebih besar pada kondisi fisik daripada kondisi mentalnya. Interaksi ketiganya membantu memunculkan fenomena gangguan persepsi dan interpretasi realitas yang ia alami.

Pada level neurobiologis, sejumlah mekanisme dapat menjelaskan mengapa NMS mengalami melihat bayangan, rasa diawasi, dan kecemasan yang meningkat. Beberapa jenis kemoterapi diketahui dapat menyebabkan neurotoksisitas, yang memengaruhi sel glia dan neuron, memicu inflamasi otak, dan mengubah regulasi neurotransmiter, sehingga dapat menurunkan kapasitas otak dalam memproses realitas secara stabil. Pada kasus tertentu, kemoterapi bahkan dapat memicu episode psikotik akut meski kejadian tersebut jarang terjadi. 

Di sisi lain, delirium merupakan kondisi yang lazim muncul pada pasien kanker dengan prevalensi 10–24%, dan dapat memicu gejala seperti halusinasi visual, delusi, gangguan kesadaran, serta agitasi. Faktor risiko delirium antara lain penyakit berat, gangguan metabolik, infeksi, efek obat, dan gangguan tidur dimana semuanya hadir pada kondisi NMS. 

Kurang tidur menyebabkan disfungsi prefrontal yang membuat otak lebih mudah salah menafsirkan rangsangan, sementara kelelahan fisik ekstrem dan gangguan metabolik karena muntah, dehidrasi, atau leukopenia dapat menurunkan suplai oksigen, memicu stres oksidatif, dan mengganggu keseimbangan neurotransmiter seperti dopamin dan glutamat. 

Otak yang lelah menjadi lebih sensitif terhadap persepsi samar, seperti bayangan di sudut ruangan, dan mengolahnya sebagai ancaman nyata akibat gangguan persepsi. 

Secara teori, ambang halusinasi menjadi menurun ketika kontrol frontal melemah, sementara aktivitas sistem limbik, khususnya amigdala akan meningkat saat kecemasan tinggi. Kombinasi ini membuat persepsi ancaman seperti pedang, peti mati, atau rumah runtuh menjadi terasa sangat meyakinkan meskipun tidak ada stimulus eksternal yang nyata.

Untuk memahami pengalaman NMS secara utuh, penting melihat bagaimana budaya Bali/Hindu dan mekanisme neurobiologis saling berinteraksi. Pada satu sisi, otak yang sedang sangat lemah dan tertekan menghasilkan persepsi keliru berupa bayangan gelap, sosok asing, atau ancaman visual. 

Pada sisi lain, budaya Bali memaknai keberadaan bayangan dan makhluk halus sebagai bagian dari realitas spiritual yang hidup dalam keseharian. Ketika persepsi internal yang keliru itu muncul pada seseorang yang memiliki kerangka budaya seperti ini, pengalaman tersebut menjadi jauh lebih emosional dan bermakna. 

Bayangan yang dalam kondisi fisik stabil mungkin akan dianggap sebagai ilusi, dalam kondisi ini menjadi ancaman spiritual yang konkret. Hal ini menjelaskan mengapa NMS menunjukkan ketakutan luar biasa, menutup wajah sambil berdoa, memandang sudut ruangan dengan waspada, dan merasakan rumahnya runtuh meski secara fisik rumah tetap utuh. Konteks budaya memberi warna dalam menginterpretasi, sehingga respon emosional menjadi berlipat, memperkuat lingkaran kecemasan–persepsi–reaksi yang membuatnya semakin takut dan kehilangan rasa aman.

Dengan demikian, pengalaman NMS adalah hasil pertemuan kompleks antara tiga domain utama. Pertama, perubahan biologis akut akibat kemoterapi dan penyakit fisik berat yang menurunkan kestabilan otak dalam memproses realitas. Kedua, dinamika psikologis dan psikodinamik terkait identitasnya sebagai perempuan Bali, ibu rumah tangga, dan penjaga keseimbangan domestik dan spiritual keluarga. 

Ketiga, faktor psikososial yang melibatkan ketidakpastian, ketakutan, terganggunya fungsi sehari-hari, serta pengaruh budaya dan dukungan keluarga. Ketiga domain ini saling memperkuat sehingga menghasilkan pengalaman persepsi yang begitu nyata meskipun tidak ada stimulus eksternal dan memunculkan respons ketakutan yang intens. Interaksi inilah yang menjelaskan mengapa fenomena yang dialami NMS bukan sekadar gejala medis, tetapi pengalaman eksistensial yang menyentuh tubuh, pikiran, budaya, dan relasi sosialnya secara bersamaan.

Mencari makna dari pengalaman 

Pendekatan pertama yang perlu dilakukan pada ibu NMS adalah evaluasi medis menyeluruh untuk memastikan bahwa gejala yang ia alami seperti melihat bayangan, merasa diawasi, dan ketakutan yang intens bukan berasal dari penyebab organik lain seperti infeksi, gangguan metabolik, hipoksia, efek samping kemoterapi, atau delirium yang belum teridentifikasi. Mengingat gejala muncul segera setelah kemoterapi dan dalam kondisi fisik yang sangat lemah, pemeriksaan terhadap komplikasi neurologis dan sistemik menjadi langkah penting. 

Bila setelah evaluasi ditemukan bahwa gangguan persepsi tersebut menetap, penggunaan antipsikotik dosis rendah dapat dipertimbangkan dengan pemantauan yang ketat, terutama karena pasien dengan kanker memiliki risiko interaksi obat dan kerentanan fisik yang lebih tinggi. Literatur psiko-onkologi menunjukkan bahwa kombinasi intervensi farmakologis dan non-farmakologis adalah pendekatan paling efektif untuk menangani gejala psikotik pada pasien kanker.

Pendekatan non-farmakologis juga memegang peranan penting. Stabilitas tidur perlu dijaga melalui rutinitas tidur yang teratur dan lingkungan yang menenangkan agar otak mendapatkan kesempatan pemulihan. Pemenuhan nutrisi dan hidrasi harus diperkuat karena metabolisme otak sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik yang stabil. 

Intervensi psikologis seperti grounding, mindfulness, latihan pernapasan, ataupun dukungan spiritual sesuai kepercayaan Hindu/Bali dapat membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan rasa kontrol diri. Sangat penting bagi tenaga kesehatan dan keluarga menjelaskan kepada pasien bahwa pengalaman melihat bayangan dapat terasa sangat nyata namun bukan pertanda kegilaan, sehingga mengurangi isolasi emosional dan stigma internal. 

Keluarga memegang peran sentral dalam pemulihan ibu NMS, terutama karena fenomena yang dialaminya sangat memengaruhi rasa aman. Suami dan anggota keluarga lain perlu memastikan bahwa ibu tidak dibiarkan sendirian terutama pada malam hari ketika rasa takut biasanya meningkat. Kehadiran fisik yang menenangkan, komunikasi yang lembut, dan menghindari komentar yang menyepelekan pengalaman seperti itu hanya imajinasi sangat penting untuk membangun rasa aman. 

Pendekatan komunikasi yang terbuka dimana mendengarkan cerita ibu dengan empati, meyakinkannya bahwa keluarga berada di sisinya, dan mengakui bahwa ia memang sedang merasakan ketakutan. Hal ini akan membantu meredakan kecemasan dan memperkuat koneksi emosional.

Lingkungan rumah juga harus dibuat lebih menenangkan dan familiar. Cahaya lembut, ruang tidur yang terang sedikit, dan keberadaan benda-benda yang dikenal dapat mencegah interpretasi salah terhadap bayangan. Dalam konteks budaya Bali/Hindu, ritual kecil seperti doa bersama, meditasi ringan, atau menghadirkan pemangku dapat memberi rasa perlindungan spiritual yang penting bagi pasien. 

Edukasi kepada keluarga mengenai hubungan antara kondisi fisik yang lemah dan perubahan mental sangat diperlukan agar mereka tidak memberi label “gangguan jiwa berat” atau “gangguan spiritual” secara keliru, sehingga stigma dapat dikurangi. Keluarga juga perlu bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk melaporkan kapan bayangan muncul, bagaimana kondisi fisik pasien berubah, serta bagaimana kualitas tidur dan respons emosinya dari waktu ke waktu. 

Selain itu, penting bagi keluarga menyadari bahwa menjadi caregiver dapat sangat melelahkan dan mereka memerlukan dukungan dari komunitas, kelompok pendamping pasien kanker, atau jejaring sosial lainnya untuk mencegah burnout yang dapat berpengaruh negatif terhadap dinamika keluarga dan pemulihan pasien.

Secara keseluruhan, pengelolaan kasus ibu NMS membutuhkan pendekatan multipel yang saling melengkapi. Pemulihan fisik perlu diperkuat untuk meminimalkan pemicu biologis, sementara dukungan emosional dan sosial dari keluarga serta komunitas menjadi fondasi rasa aman yang penting bagi pasien. Integrasi antara pemahaman medis dan makna budaya membantu memastikan bahwa pengalaman pasien tidak direduksi menjadi sekadar gejala, tetapi dipahami sebagai perjalanan manusia yang kompleks dan penuh makna. 

Caregiver memiliki peran penting sebagai jaringan pengaman emosional dimana mereka membantu pasien merasa dilihat, didengar, dan tidak ditinggalkan dalam pengalaman yang sangat menakutkan tersebut. Dengan pendekatan komprehensif ini, peluang untuk pulih secara holistic, baik fisik, mental, maupun spiritual dapat tercapai. 

Berjuanglah pelan-pelan, dengan cara yang sanggup anda lakukan. Tidak perlu sempurna, tidak perlu kuat setiap saat. Yang penting adalah tetap bergerak, tetap berharap, dan tetap percaya bahwa anda layak untuk sembuh dan layak untuk merasa aman kembali. dan jika suatu hari merasa goyah, ingatlah Anda telah melalui hari-hari yang jauh lebih sulit daripada hari ini dan anda tetap ada di sini. Itu artinya anda mampu. Itu artinya anda kuat. Berjuanglah, dengan kekuatan yang Tuhan titipkan di dalam hati anda. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/tim



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami