Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 27 April 2026
Lonjakan Sentimen Negatif Warnai Isu Banjir Sumatera
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Bencana banjir yang melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh telah berlangsung selama sebulan dan terus menjadi perhatian nasional. Pemantauan media yang dilakukan Lembaga riset Deep Intelligence Research (DIR) menunjukkan adanya pergeseran serius dalam pola pemberitaan dan percakapan publik terkait bencana tersebut.
Hasil monitoring DIR selama periode 25 November hingga 24 Desember 2025 mencatat bahwa isu banjir di Sumatera dan Aceh mengalami transformasi risiko yang signifikan. Kajian dilakukan terhadap lebih dari 11 ribu media online, 200 media cetak, serta 93 media elektronik dengan dukungan mesin kecerdasan buatan.
Mayoritas pemberitaan media arus utama masih didominasi sentimen positif sebesar 69 persen, yang berisi narasi manajemen krisis serta pembaruan penanganan bencana. Namun, data juga memperlihatkan sinyal peringatan berupa 28 persen sentimen negatif yang dipicu isu keterlambatan bantuan dan dampak pasca-bencana.
Direktur Komunikasi Deep Intelligence Research (DIR), Neni Nur Hayati, menyebut puncak pemberitaan terjadi pada 1 Desember 2025 dengan dominasi sentimen negatif yang sejalan dengan fase darurat awal banjir bandang.
“Pasca 5 Desember, narasi positif mulai menyalip, didorong oleh publikasi masif mengenai penyaluran bantuan dan upaya pemulihan. Namun, muncul anomali pada 19 Desember, di mana sentimen negatif kembali melonjak tajam. Hal ini disebabkan banyak pemberitaan mengenai belum meratanya bantuan dan update keadaan korban terutama di wilayah yang paling terisolir,” tutur Neni.
DIR mencatat total pemberitaan bertopik “Banjir Sumatera dan Aceh” mencapai 30.489 artikel yang tersebar di 16.233 media lokal, 14.207 media nasional, serta 49 media internasional. Kompas.com, Tempo.com, dan Detik.com menjadi media nasional dengan intensitas pemberitaan tertinggi selama masa pemantauan.
Di media sosial, isu banjir ini juga memicu respons masif. Tercatat lebih dari 55.600 unggahan dari sekitar 28.100 netizen, dengan total interaksi mencapai lebih dari dua juta percakapan. Hal ini menunjukkan isu bencana memiliki resonansi emosional yang kuat dan berkelanjutan.
“Interaksi tertinggi ada di platform Instagram dan tiktok. Interaksi di Tiktok mencapai 939.289 dan pada Instagram 909.837 intensitas percakapan. Data tadi menunjukkan percakapan soal bencana sangat viral di kedua platform itu,” tambah Neni.
Kajian DIR mengidentifikasi tiga klaster utama dalam percakapan publik. Klaster pertama adalah kemanusiaan yang berfokus pada kondisi korban dan kronologi bencana. Klaster kedua berupa gugatan sistemik, yakni dugaan bahwa bencana dipicu eksploitasi hutan dan tambang, yang diperkuat temuan kayu gelondongan di sejumlah lokasi banjir.
Klaster ketiga adalah eskalasi politik, ditandai kritik langsung terhadap otoritas pemerintah terkait keterlambatan penanganan bencana. Kritik tersebut berkembang menjadi isu krisis legitimasi negara dan kegagalan komunikasi publik saat bencana ekologis terjadi.
“Hal yang patut mendapat perhatian kita adalah munculnya narasi disintegrasi seperti kata kunci ‘Merdeka’ di wilayah Aceh dan Nias sebagai bentuk protes atas abainya pemerintah pusat. Hal ini menandakan bencana telah bertransformasi menjadi alat tawar politik yang berpotensi mengancam stabilitas nasional,” tambah Neni.
Berdasarkan matriks risiko dan peta isu yang dianalisis, Deep Intelligence Research (DIR) menyampaikan sejumlah rekomendasi strategis. Mulai dari percepatan penetapan status bencana nasional dan kehadiran simbolis pejabat negara di lokasi terdampak, hingga transparansi penegakan hukum terhadap perusahaan sektor ekstraktif yang diduga berkontribusi pada bencana ekologis.
DIR juga menekankan pentingnya mitigasi narasi disintegrasi melalui pendekatan dialogis dengan tokoh masyarakat serta penguatan kontra-narasi di media sosial. Selain itu, intervensi pemerintah terhadap krisis ekonomi mikro, khususnya harga pangan dan logistik di wilayah terdampak, dinilai krusial di tengah momentum Natal dan menjelang perayaan Tahun Baru.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3751 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1688 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang