Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 20 Juni 2026
59 Gempa Kecil Guncang Selat Lombok, Bali Timur Diminta Waspada
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Aktivitas kegempaan di Selat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar mencatat sedikitnya 59 rentetan gempa bumi tektonik bermagnitudo kecil terjadi di wilayah perairan tersebut.
Ketua Kelompok Kerja Informasi Dini Gempa Bumi dan Tsunami BBMKG Wilayah III Denpasar, Dwi Hartanto, mengatakan rangkaian gempa itu perlu mendapat perhatian serius, termasuk oleh masyarakat di Bali, khususnya wilayah Bali timur seperti Kabupaten Karangasem.
Meski hingga kini gempa-gempa tersebut belum dirasakan di Pulau Bali, kewaspadaan tetap diperlukan karena potensi pemicu gempa yang lebih besar tidak dapat diabaikan.
"Sampai saat ini tidak dirasakan di Bali, dari gempa yang sebanyak itu 59 kali itu kan letaknya di tengah laut, terus agak jauh juga dari darat. Jadi, gempanya magnitude-nya paling besar 2,8. Jadi tidak ada yang dirasakan itu," kata Dwi, saat dikonfirmasi Rabu (7/12).
"Tapi kami buat press rilis agar masyarakat mewaspadai. Gempa itu ada tipenya, gempa pembuka dulu, kemudian ada gempa utamanya (gempa besar)," imbuhnya.
Dwi menjelaskan, hingga saat ini pihaknya belum dapat memastikan apakah rangkaian gempa tersebut hanya berupa aktivitas gempa kecil biasa atau justru menjadi tanda awal sebelum terjadinya gempa utama dengan kekuatan lebih besar.
"Karena sampai saat ini, kami belum bisa memprediksi gempa kecil ini apakah dia gempa pembuka dulu, atau memang hanya rentetan gempa saja. Bisa jadi dia hanya rentetan gempa saja, kalau rentetan gempa saja iya masyarakat tidak perlu khawatir," jelasnya.
"Tapi yang kami takutkan nanti tiba-tiba dia muncul gempa utamanya yang lebih besar, dan berdampak di bagian utamanya daerah Bali Timur, di Karangasem," lanjutnya.
Rentetan gempa di Selat Lombok tercatat terjadi sejak 5 hingga 7 Januari 2025, dengan gempa terakhir terjadi pada pukul 07.47 WITA. Hasil analisis BMKG menunjukkan seluruh gempa berpusat di laut dengan magnitudo berkisar antara 1,4 hingga 2,8.
Ditinjau dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, rangkaian gempa tersebut tergolong gempa bumi dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif di dasar laut Selat Lombok.
Dwi menegaskan, intensitas gempa yang sering terjadi dalam waktu berdekatan di lokasi yang hampir sama bukanlah kondisi normal.
"Enggak normal. Karena dia sering sekali. Ini kan sudah sampai dua hari ini sudah puluhan kali, di tempat yang hampir sama. Biasanya, kalau gempa-gempa biasa, sekali (gempa) terus pindah lagi (titik gempanya)," ungkapnya.
Ia kembali menekankan bahwa gempa bumi tidak dapat diprediksi secara pasti, sehingga informasi dini dan kewaspadaan masyarakat menjadi kunci utama dalam upaya mitigasi risiko.
"Gempa tidak diprediksi. Makanya kami informasikan bahwa sudah terjadi rentetan gempa selama dua hari ini, supaya masyarakat lebih waspada saja. Nanti, takutnya tiba-tiba ada gempa yang lebih besar. Tapi, syukur sih tidak ada gempa yang lebih besar, mudah-mudahan tidak ada," ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, masyarakat diimbau untuk memahami dan menerapkan mitigasi mandiri saat merasakan gempa kuat dan berlangsung lama, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah pesisir.
"Jadi kalau misalnya masyarakat merasakan gempa bumi yang kuat dan lama, segera saja untuk melakukan evakuasi mandiri keluar rumah. Kalau yang dekat pantai segera saja menjauhi pantai," ujarnya. (sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun