Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 27 April 2026
Cemas dan Depresi pada Mahasiswa dengan Keluarga Broken Home
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Seorang mahasiswa berusia 24 tahun, SJD, yang sedang menyelesaikan skripsi datang untuk berkonsultasi. Ia menceritakan kondisinya bahwa sejak tahun 2022 tinggal di Denpasar bersama paman, bibi, dan dua adiknya, setelah kondisi ekonomi orang tuanya memburuk dan orang tuanya pisah rumah.
Sebelumnya ia tinggal bersama orang tuanya namun kemudian tinggal bersama pamannya. Pamannya merupakan seorang pensiunan TNI yang disiplin dan memiliki tuntutan tinggi, serta menjadi penanggung biaya pendidikannya. Hal ini membuat ia merasa tertekan, tidak bebas, dan takut mengecewakan pamannya.
Sejak tahun 2020 orang tua pasien sering bertengkar akibat masalah ekonomi dan utang yang dimiliki ayahnya yang tidak bekerja sejak saat itu. Ia kerap menjadi penengah konflik orang tuanya, sehingga memikul beban emosional yang cukup berat. Sejak perpisahan orang tuanya, ia mulai merasakan kesedihan hampir setiap hari, terutama terkait kondisi keluarga dan masa depan akademiknya.
Baca juga:
Ternyata Broken Home dan Putus Sekolah
Namun ia masih dapat menikmati aktivitas seperti bermain HP, makan makanan kesukaan, serta tetap memiliki energi untuk kuliah. Tidak terdapat perasaan tidak berharga, tidak berguna, maupun ide bunuh diri.
Gejala kecemasan mulai muncul beberapa bulan terakhir dan semakin memburuk dalam satu bulan terakhir, terutama ketika ia menghadapi tekanan penyelesaian skripsi dan kekhawatiran tidak lulus tepat waktu. Ia merasa cemas berlebihan, sulit merasa santai, mudah terkejut saat mendengar langkah kaki atau pintu dibuka, jantung berdebar, ketegangan tubuh, gangguan tidur, serta mual pada pagi hari sejak tiga minggu terakhir.
Kecemasan ini mulai mengganggu konsentrasi dan fokus akademik. Ia juga merasa kadang seperti terancam dan nada bicaranya meninggi tanpa disadari. Untuk menenangkan diri, ia biasanya menggambar.
Ia juga mengatakan mengalami kesulitan tidur sudah sejak satu bulan terakhir. Ia sulit untuk memulai tidur, dan baru dapat tertidur pukul 1 atau 2 dini hari. Ia sering terbangun-bangun di tengah tidur, terkadang sulit untuk melanjutkan tidur. Ia biasanya terbangun pukul 6 atau 7 pagi. Saat bangun tidur ia masih merasa lelah dan mengantuk. Namun apabila cuci muka, rasa mengantuk sudah lebih membaik. Ia mengatakan tidak ada kehilangan nafsu makan dan masih mampu merawat diri, seperti mandi maupun menjaga penampilannya.
Pertengkaran orang tua sebagai trauma pemicu
Dalam kasus ini kita belajar bahwa gejala tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari relasi manusia dengan dunianya. Ketika seorang mahasiswa berusia 24 tahun seperti SJD datang dengan keluhan sulit tidur, kecemasan, dan kesedihan, kita tidak sedang menghadapi gangguan tidur, gangguan cemas, atau gangguan mood semata. Kita sedang berhadapan dengan kisah hidup seorang manusia muda yang berada di persimpangan antara harapan, ketergantungan, dan ketakutan mengecewakan orang-orang yang menopang hidupnya.
Trauma pertengkaran orang tua dan perpisahan pengasuhan membentuk latar emosional yang sangat kuat bagi kondisi SJD saat ini. Pertengkaran orang tua yang berlangsung lama, terlebih disertai masalah ekonomi, membuat anak hidup dalam suasana yang tidak menentu. Rumah, yang seharusnya menjadi tempat paling aman dan menenangkan, justru berubah menjadi sumber ketegangan dan ancaman emosional.
Dalam kondisi seperti ini, sistem mental anak belajar satu pesan mendasar yaitu Aku harus selalu siap siaga. Kewaspadaan ini lama-kelamaan tidak hanya menjadi kebiasaan psikologis, tetapi tertanam sebagai pola biologis. Tubuh belajar hidup dalam mode darurat atau siaga satu, sehingga ketika dewasa ia menjadi mudah tegang, mudah terkejut oleh suara kecil, sulit benar-benar rileks, dan sulit tidur, karena sistem sarafnya tidak terbiasa berada dalam keadaan aman yang stabil.
Peran SJD sebagai penengah konflik orang tua memiliki makna psikodinamik yang sangat dalam. Ia tidak hanya menjadi saksi pertengkaran, tetapi ikut memikul tanggung jawab emosional orang dewasa. Dalam posisi ini, anak sering kali mengembangkan keyakinan secara tidak sadar bahwa keberlangsungan relasi dan stabilitas keluarga bergantung pada dirinya. Muncul pikiran seperti, tidak kuat, semuanya akan runtuh, atau kalau gagal akan menyakiti banyak orang. Keyakinan ini membentuk struktur kepribadian yang sangat bertanggung jawab, tetapi sekaligus sangat rentan terhadap kecemasan dan rasa bersalah.
Perpisahan orang tua memperdalam luka ini. Ia bukan hanya kehilangan keutuhan keluarga, tetapi kehilangan ilusi bahwa dunia orang dewasa adalah dunia yang stabil dan dapat diandalkan. Bagi banyak anak, perpisahan orang tua bukan sekadar sebuah peristiwa, melainkan pengalaman hancurnya rasa aman, dicintai, ancaman terhadap keterikatan emosional, dan hilangnya pijakan psikologis. Dunia yang sebelumnya dapat diprediksi berubah menjadi dunia yang rapuh dan mudah runtuh.
Inilah sebabnya kesedihan SJD bersifat mendalam tetapi tidak patologis. Ia tidak sedang mengalami depresi klinis, melainkan sedang berduka.
Ketika kemudian ia tinggal bersama paman yang disiplin dan memiliki tuntutan tinggi, trauma lama itu seakan menemukan bentuk baru. Secara tidak sadar, relasi dengan paman mengaktifkan kembali memori emosional masa kecil dimana adanya figur otoritas, ketergantungan yang kuat, rasa takut gagal, dan ancaman kehilangan perlindungan. Bedanya, dahulu yang dipertaruhkan adalah stabilitas keluarga, kini yang dipertaruhkan adalah masa depan akademik dan kehidupannya sebagai orang dewasa muda.
Jiwa yang terjepit di antara kewajiban dan harapan
Dalam membaca permasalahan SJD, kita tidak dapat memisahkan tubuh dari jiwa, jiwa dari relasi, dan relasi dari makna hidup. Penderitaannya tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan di persimpangan berbagai sistem mulai dari keluarga, budaya, ekonomi, pendidikan, dan biologinya sendiri.
SJD menunjukkan jejak yang kuat dari pengalaman parentification. Sejak usia remaja, ia telah mengambil peran sebagai penyangga emosional keluarga. Ia menjadi pendengar, penenang, bahkan penengah konflik orang tuanya. Peran ini membentuk struktur superego yang sangat menuntut dimana ia terbiasa mengutamakan kebutuhan orang lain, menekan kebutuhan dirinya, dan merasa bertanggung jawab atas stabilitas emosional lingkungan.
Namun ketika kemudian ia tinggal bersama pamannya, seorang figur otoritas yang disiplin dan menanggung biaya hidup serta pendidikannya, pola ini menemukan panggung baru. Ketergantungan ekonomi berpadu dengan struktur superego yang sudah kaku. Rasa takut mengecewakan pamannya bukan sekadar rasa takut sosial, tetapi refleksi dari konflik terdalam antara kebutuhan akan penerimaan dan ketakutan akan kehilangan kasih sayang. Kecemasan yang ia rasakan dapat dipahami sebagai ekspresi dari konflik tersebut. Ia ingin menjadi dewasa dan mandiri, tetapi secara struktural masih berada dalam posisi anak yang bergantung.
Setiap tuntutan akademik menjadi bukan sekadar tugas akademik, melainkan ujian nilai dirinya sebagai manusia yang layak ditolong. Tidurnya yang terganggu menjadi simbol bahwa konflik ini tidak menemukan resolusi di siang hari, sehingga tubuh membawanya hingga malam.
Kasus ini menjadi cermin bagaimana nilai-nilai tentang bakti, hutang budi, dan rasa malu beroperasi dalam kehidupan mahasiswa. Dalam banyak konteks budaya Asia, termasuk Bali, keberhasilan akademik bukan hanya prestasi individu, melainkan kehormatan keluarga. Kegagalan bukan hanya kegagalan personal, tetapi dapat dipersepsikan sebagai hal yang memalukan secara kolektif.
Mahasiswa di budaya kolektivistik lebih rentan mengalami kecemasan performa dan insomnia ketika mereka berada dalam ketergantungan finansial terhadap figur keluarga yang memiliki otoritas kuat.
Paparan stres interpersonal yang berkepanjangan, terutama yang melibatkan rasa tidak aman relasional, mengubah cara kerja sumbu HPA (hipotalamus–pituitari–adrenal). Kortisol tidak lagi mengikuti ritme harian yang sehat. Sistem limbik, terutama amigdala, menjadi lebih reaktif terhadap ancaman, sementara korteks prefrontal yang berperan dalam regulasi emosi menjadi kurang efektif saat kelelahan. Inilah yang menjelaskan mengapa SJD mudah terkejut oleh suara langkah kaki atau pintu dibuka.
Sistem sarafnya hidup dalam mode siaga satu. Ini bukan tanda kelemahan, melainkan adaptasi biologis terhadap dunia yang dirasakan tidak stabil. Insomnia yang ia alami sesuai dengan konsep hyperarousal model of insomnia, dimana otak yang hidup dalam kewaspadaan kronik akan kehilangan kemampuannya untuk menurunkan aktivasi saraf yang diperlukan untuk tidur. Mual pagi hari yang ia alami juga dapat dipahami melalui jalur neurobiologis ini. Sistem saraf otonom, khususnya cabang simpatis, memengaruhi fungsi gastrointestinal sehingga keluhan pencernaan menjadi bahasa tubuh dari kecemasan yang tidak tersuarakan.
Namun, yang paling penting adalah bahwa seluruh perubahan biologis ini bersifat plastis. Ia belum berada dalam kondisi gangguan berat. Tubuhnya masih berjuang mempertahankan keseimbangan. Aktivitas menggambar yang ia gunakan untuk menenangkan diri adalah bentuk regulasi emosi yang sangat sehat. SJD sedang menghadapi empat tema besar yaitu kebebasan, tanggung jawab, keterpisahan, dan makna. Ia sedang belajar bahwa hidupnya adalah miliknya, tetapi realitas hidup memaksanya tetap bergantung.
Tanggung jawab moral kita bersama
Kasus ini mengingatkan kita bahwa masalah kesehatan mental tidak pernah sepenuhnya menjadi urusan individu. Ia selalu merupakan cermin dari relasi, sistem, dan nilai-nilai yang hidup di sekitarnya. Jika seorang mahasiswa berusia 24 tahun mengalami kecemasan, insomnia, dan kesedihan yang berlarut, maka pertanyaannya bukan hanya apa yang salah pada dirinya? tetapi juga apa yang sedang terjadi pada lingkungan yang membesarkannya. Kita perlu menggeser fokus dari sekadar menyembuhkan individu menuju tanggung jawab kolektif untuk menciptakan dunia yang lebih aman secara emosional.
Bagi keluarga, terutama keluarga yang menjadi penyangga ekonomi, penting untuk memahami bahwa keberhasilan akademik tidak dapat dipisahkan dari rasa aman emosional. Mahasiswa yang menerima dukungan finansial dengan disertai tekanan performa tinggi memiliki tingkat kecemasan dan gangguan tidur yang lebih besar dibanding mereka yang menerima dukungan dengan pesan emosional yang aman dan tidak mengancam. Keluarga perlu belajar membedakan antara mendukung dan mengontrol. Mendukung berarti menyediakan rasa aman, ruang untuk gagal, dan pengakuan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh prestasi akademik semata.
Kontrol, meskipun sering lahir dari niat baik, justru dapat menumbuhkan ketakutan, bukan kedewasaan. Bagi sekolah dan universitas, kasus ini adalah pengingat bahwa institusi pendidikan bukan hanya pabrik pencetak lulusan, tetapi ruang tumbuh bagi manusia muda. Tekanan akademik yang tidak disertai sistem dukungan psikologis akan memperbesar risiko kecemasan dan gangguan tidur.
Prevalensi kecemasan dan insomnia pada mahasiswa meningkat secara signifikan ketika universitas tidak memiliki kebijakan kesehatan mental yang terintegrasi dalam sistem akademik. Universitas perlu mengembangkan budaya yang memandang keterlambatan studi bukan sebagai kegagalan moral, melainkan sebagai sinyal bahwa seseorang mungkin sedang membutuhkan dukungan tambahan. Layanan konseling mahasiswa tidak cukup hanya ada secara formal, tetapi harus mudah diakses, tidak distigmatisasi, dan terintegrasi dengan sistem akademik.
Dosen pembimbing skripsi, misalnya, perlu dibekali literasi kesehatan mental agar mampu membaca kapan seorang mahasiswa sedang mengalami hambatan akademik dan kapan ia sedang mengalami kelelahan eksistensial.
Bagi pemerintah, kesehatan mental mahasiswa adalah investasi masa depan bangsa. Generasi muda yang tumbuh dalam kecemasan kronik, kelelahan emosional, dan gangguan tidur tidak akan mampu mengaktualisasikan potensinya secara optimal. Negara yang tidak mengintegrasikan kesehatan mental dalam kebijakan pendidikan tinggi akan menghadapi beban ekonomi dan sosial jangka panjang berupa penurunan produktivitas, meningkatnya angka putus kuliah, serta tingginya kebutuhan layanan kesehatan mental di usia produktif.
Kebijakan publik perlu bergerak dari paradigma kuratif menuju promotif dan preventif. Program beasiswa, bantuan pendidikan, dan subsidi biaya kuliah harus disertai dengan sistem dukungan psikososial yang nyata.
Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memberi ruang bagi kerentanan. Di mana seseorang boleh berkata, Aku lelah, tanpa langsung dianggap lemah. Di mana seseorang boleh berkata, Aku takut gagal, tanpa langsung dinilai kurang berjuang. Kita semua memikul tanggung jawab untuk tidak menjadikan hidup manusia lain sekadar alat pencapaian harapan kita. SJD bukan proyek keberhasilan keluarga.
Ia adalah manusia yang sedang belajar menjadi dirinya sendiri. Jika kecemasannya kita dengarkan dengan sungguh-sungguh, kita akan menemukan pesan yang sangat sederhana bahwa ia ingin merasa aman untuk menjadi manusia biasa, dengan keterbatasan dan ketidaksempurnaan.
Sebagai seorang psikiater komunitas dan budaya, saya melihat SJD bukan hanya sebagai pasien, tetapi sebagai pesan moral bagi kita semua. Ia mengingatkan bahwa generasi muda tidak membutuhkan dunia yang sempurna, tetapi dunia yang cukup aman untuk membuat mereka berani bermimpi tanpa takut kehilangan tempat berpijak.
Tips untuk bangkit:
• Jangan menyalahkan diri karena cemas atau sedih. Itu bukan tanda lemah, tetapi tanda kamu sudah berusaha sangat keras
• Pisahkan nilai dirimu dari prestasi
• Lakukan hal sederhana yang menenangkan tubuh seperti menggambar, mandi hangat, menarik napas perlahan, atau duduk tenang beberapa menit
• Cari satu orang yang aman untuk bercerita, yang mau menjadi pendengar yang baik
• Adakan waktu untuk istirahat karena istirahat adalah hak
(Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3751 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1688 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang