Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Geser Jantung, Stroke Serang Usia Produktif di Bali, Banyak Pasien Terlambat ke RS

Sabtu, 28 Maret 2026, 10:08 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Geser Jantung, Stroke Serang Usia Produktif di Bali, Banyak Pasien Terlambat ke RS.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Kasus stroke di Bali menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Penyakit ini kini banyak menyerang usia produktif, yakni berkisar antara 45 hingga 65 tahun, bahkan ditemukan juga pada usia lebih muda sekitar 35 tahun.

Menurut dr. Yoanes Gondowardaja Sp.S, M.Biomed dari SMF Neurologi RS Kasih Ibu Denpasar, salah satu persoalan utama adalah keterlambatan pasien datang ke rumah sakit. Padahal, penanganan stroke sangat bergantung pada waktu atau yang dikenal dengan istilah golden time selama 4,5 jam sejak gejala muncul.

"Namun kenyataannya, di Bali masih sering ditemukan kasus yang datang lebih dari 6 jam bahkan lebih dari 2 hari," ungkapnya, saat Sharing Session bertema "Stroke: SeGeRa ke RS", Jumat 27 (3/2026) di LN Fortunate Coffe Bali, Denpasar yang digelar RS Kasih Ibu bekerja sama dengan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali.

Ia menjelaskan, dalam kurun waktu golden time, dokter dapat memberikan obat pengencer darah yang kuat untuk melancarkan kembali aliran darah. Jika terlambat, risiko kematian dan kecacatan akan meningkat signifikan.

Secara epidemiologi, stroke kini bahkan menjadi penyebab kematian terbanyak, menggeser penyakit jantung. Selain faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan kebiasaan merokok, rendahnya pemahaman masyarakat juga menjadi penyebab utama keterlambatan penanganan.

Masih banyak ditemukan informasi keliru di masyarakat, seperti membiarkan gejala hilang sendiri atau melakukan tindakan yang tidak tepat seperti pijat atau tusuk jarum, yang justru memperburuk kondisi pasien.

Berdasarkan data nasional yang mengacu pada Global Burden of Disease 2019, Riskesdas 2018, dan PERSI 2009, sebanyak 2,5 dari 1.000 orang berisiko mengalami stroke setiap tahun. Dari jumlah tersebut, 15 persen berpotensi meninggal dunia dan 65 persen mengalami kecacatan.

"Angka ini hampir mirip dengan studi di luar negeri, bahkan sedikit lebih tinggi dibanding negara maju karena pemahaman kita tentang pencegahan stroke masih perlu ditingkatkan," kata dia.

Untuk pencegahan, masyarakat diimbau mengenali dan mengendalikan faktor risiko. Penderita hipertensi, misalnya, harus rutin mengonsumsi obat agar tekanan darah tetap stabil di kisaran 120–140 mmHg. Begitu pula dengan penderita diabetes dan kolesterol tinggi yang wajib menjaga kondisi dengan pengobatan teratur.

"Yang paling penting adalah peran serta masyarakat dalam menghentikan kebiasaan merokok dan mengatasi inaktivitas atau kurang gerak," imbuhnya.

Gaya hidup juga memegang peranan penting. Dibandingkan dengan negara seperti Jepang yang memiliki pola hidup aktif, kasus stroke di Indonesia justru banyak menyerang usia lebih muda akibat kurang aktivitas dan pola hidup tidak sehat.

Dalam kondisi darurat, masyarakat diingatkan untuk mengenali gejala stroke melalui slogan SeGeRa, yakni Senyum tidak simetris, Gerak melemah, Bicara pelo, Kebas, Rabun, Mati rasa, dan Sakit kepala. Jika gejala muncul, segera bawa pasien ke rumah sakit.

Penanganan medis akan dilakukan secara cepat melalui pemeriksaan seperti CT Scan, MRI, atau DSA, serta tindakan lanjutan seperti pemberian obat hingga prosedur mechanical thrombectomy untuk kasus penyumbatan pembuluh darah besar.

"Kita juga menggunakan teknologi seperti CT Scan, MRI, atau DSA untuk memberikan penanganan yang tepat," ujar dokter yang mengambil pendidikan S1 kedokteran di Universitas Airlangga, kemudian pendidikan spesialisasi di Universitas Udayana, lalu mengambil fellowship di bidang neurointervensi vaskular di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional di Jakarta ini.

Ia menambahkan, peluang kesembuhan tetap ada, terutama jika penanganan dilakukan cepat. Dalam kurun waktu enam bulan, pasien masih dapat menjalani pemulihan melalui berbagai terapi seperti fisioterapi, terapi okupasi, dan terapi bicara.

Sementara itu, Direktur Utama RS Kasih Ibu Denpasar dr. Ni Kadek Dwi Widhyari, MM menekankan pentingnya penyebaran informasi kesehatan kepada masyarakat luas, termasuk keluarga dan kerabat.

"Kita menyadari bahwa memang meskipun informasi kesehatan banyak beredar di media sosial, kita tetap perlu mendengar penjelasan dari ahlinya langsung," ungkapnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mulai melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin sejak dini sebagai langkah pencegahan.

"Tidak mesti harus mulai dengan harga yang mahal, tetapi bagaimana kita bisa melihat sedini mungkin kondisi-kondisi apa yang berisiko," ucapnya.

Pemeriksaan dini sangat penting, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit stroke atau jantung, agar faktor risiko dapat segera ditangani.

"Pada saat kita lebih dini mengatasinya, maka komplikasi yang terjadi bisa kita cegah," pungkasnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/tim



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami