Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 26 Juli 2026
Siswa SMAN 2 Singaraja Dibekali Literasi Kesehatan Mental dan Pencegahan Bunuh Diri
BERITABALI.COM, BULELENG.
Suryani Institute for Mental Health bekerja sama dengan Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana menggelar penyuluhan kesehatan mental bagi siswa SMAN 2 Singaraja. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan literasi kesehatan mental remaja sekaligus mendorong deteksi dini terhadap gangguan kesehatan jiwa.
Rombongan diterima secara resmi oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 2 Singaraja, Gede Suwamba Jaya, S.Pd., M.Pd., sebagai bentuk dukungan sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat, aman, dan peduli terhadap kesehatan mental peserta didik.
Kegiatan menghadirkan Guru Besar Psikiatri bidang Psikiatri Komunitas dan Budaya Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Prof. Dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, dr., Sp.K.J., Subsp.K.(K), MARS, bersama tim Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa.
Dalam pemaparannya, Prof. Cokorda menjelaskan bahwa kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh dan memiliki peran yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Menurutnya, masa remaja merupakan periode krusial karena berbagai gangguan mental mulai muncul pada rentang usia tersebut sehingga edukasi sejak dini menjadi langkah penting dalam pencegahan.
Materi pertama disampaikan oleh dr. Pande Komang Wahyu Pradana yang mengulas konsep dasar kesehatan mental remaja. Para siswa diajak memahami bahwa kesehatan mental berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk berpikir, merasakan, dan berperilaku secara adaptif dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Tanda-tanda awal stres, kecemasan, dan depresi, seperti gangguan tidur, sulit berkonsentrasi, mudah marah, menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan minat, hingga munculnya rasa putus asa menjadi upaya awal untuk strategi menjaga kesehatan mental remaja”, ungkap dr Pande.
Sementara itu, materi kedua disampaikan oleh dr. Ida Bagus Candra Pranadhita yang membahas pencegahan bunuh diri. Ia meluruskan sejumlah mitos yang masih berkembang di masyarakat, termasuk anggapan bahwa membicarakan bunuh diri dapat memicu seseorang untuk melakukannya.
“Bertanya dengan empati justru dapat membuka ruang bagi seseorang untuk memperoleh pertolongan”, papar dr Candra.
Dalam sesi tersebut, siswa juga diperkenalkan pada berbagai faktor risiko seperti depresi yang tidak tertangani, perundungan, kehilangan orang terdekat, isolasi sosial, hingga tekanan akademik. Selain itu, peserta diberikan pemahaman mengenai tanda-tanda peringatan, seperti keinginan mengakhiri hidup, merasa menjadi beban, atau merasa tidak memiliki jalan keluar.
Para siswa juga dibekali langkah sederhana dalam membantu teman yang mengalami masalah psikologis, mulai dari mendengarkan tanpa menghakimi, tidak merahasiakan kondisi yang membahayakan, mendampingi mencari bantuan profesional, hingga segera menghubungi layanan darurat apabila situasi mengancam keselamatan.
Baca juga:
Suryani Institute dan FK Unud Edukasi Kesehatan Mental Mahasiswa UIN Walisongo Lewat Meditasi
“Kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh. Dengan mengenali sejak dini tanda-tanda stres, kecemasan, depresi, maupun risiko bunuh diri, kita dapat memberikan pertolongan yang lebih cepat dan tepat. Yang terpenting adalah membangun budaya saling peduli, menghilangkan stigma, dan memastikan setiap remaja mengetahui bahwa mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah yang berani untuk menjaga kehidupan,” ujar Prof. Cokorda.
Penyuluhan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Para siswa tampak antusias mengajukan berbagai pertanyaan mengenai tekanan akademik, hubungan pertemanan, pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental, hingga cara membantu teman yang mengalami gangguan psikologis.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan skrining kesehatan mental menggunakan aplikasi digital Harmoni Jiwa, yang merupakan hasil proyek KONEKSI, kolaborasi antara Pemerintah Australia dan Indonesia yang melibatkan Universitas Udayana serta University of Sydney untuk mendukung pengembangan kebijakan dan teknologi yang inklusif serta berkelanjutan.
Melalui aplikasi Harmoni Jiwa, siswa dapat melakukan penilaian awal terhadap kondisi kesehatan mental secara mudah, cepat, dan bersifat rahasia. Hasil skrining diharapkan mampu meningkatkan kesadaran diri sekaligus membantu proses identifikasi dini bagi siswa yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut.
Selain penyuluhan dan skrining, kegiatan juga diakhiri dengan penyerahan cinderamata kepada pihak sekolah serta pemberian buku Hope and Freedom karya Rudi Waisnawa sebagai bagian dari kampanye pencegahan praktik pemasungan terhadap orang dengan gangguan jiwa.
Melalui kegiatan ini, Suryani Institute for Mental Health bersama Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana berharap semakin banyak remaja memiliki literasi kesehatan mental yang baik, berani mencari pertolongan ketika membutuhkan, serta mampu menjadi agen perubahan dalam membangun lingkungan sekolah yang aman, suportif, dan bebas stigma terhadap persoalan kesehatan jiwa.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3856 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 1800 Kali
Penembakan di Klub Malam Canggu, Dua Orang Terluka, Pelaku Diburu
Dibaca: 1516 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1506 Kali
Positif Ekstasi, Kanit Reskrim Polsek Kuta Ditahan Propam Polda Bali
Dibaca: 1502 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun