Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 11 Juni 2026
Terancam Punah, Petani Tinggalkan Padi Sudaji, Masa Panen Lama Jadi Kendala
BERITABALI.COM, BULELENG.
Varietas padi lokal khas Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, kini terancam hilang. Padi Sudaji yang dulu menjadi kebanggaan masyarakat perlahan mulai ditinggalkan petani karena masa tanamnya lebih lama dibanding varietas modern.
Kondisi tersebut membuat Pemerintah Kabupaten Buleleng mulai bergerak melakukan pelestarian benih melalui demplot penanaman yang dilakukan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Distan KP) Kabupaten Buleleng.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan KP Buleleng, Gede Melandrat mengatakan keberadaan Padi Sudaji saat ini semakin sulit ditemukan. Bahkan pihaknya mengaku kesulitan memperoleh benih untuk kembali dibudidayakan.
“Sedikit. Malah sudah mau hampir habis ini. Buktinya sekarang kami hanya mendapatkan benih sedikit untuk ditanam,” ujar Melandrat, Minggu (24/5).
Sebagai langkah pelestarian, Distan KP Buleleng kini menanam Padi Sudaji di lahan Hutan Kota Banyuasri, Kecamatan Buleleng, seluas 12 are. Penanaman itu dilakukan untuk menjaga ketersediaan benih agar varietas lokal tersebut tidak punah.
Menurut Melandrat, banyak petani mulai meninggalkan Padi Sudaji karena masa panennya mencapai enam bulan. Sementara varietas modern seperti Ciherang atau Inpari hanya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan sehingga dinilai lebih menguntungkan.
“Kalau varietas baru tiga bulan sudah panen. Sedangkan Padi Sudaji sampai enam bulan. Ini yang membuat petani penyakap banyak mundur,” jelasnya.
Meski kalah dari sisi waktu panen, kualitas Padi Sudaji disebut tetap unggul. Beras lokal khas Buleleng itu memiliki tekstur pulen, bentuk beras utuh dan panjang, serta kandungan gizi yang baik. Bahkan harga jualnya bisa mencapai dua kali lipat dibanding beras umum.
“Dari segi rasa, kualitas, kandungan gizi, ini bagus. Berasnya pulen, utuh, dan panjang. Harga juga lebih mahal,” katanya.
Ia menuturkan, dahulu hampir seluruh wilayah Desa Sudaji menjadi sentra penanaman Padi Sudaji. Namun kini keberadaannya semakin sedikit dan dikhawatirkan hilang apabila tidak ada upaya pelestarian serius dari pemerintah.
“Kalau yang begini-begini pemerintah tidak hadir, nanti bisa hilang,” tegasnya.
Selain melestarikan Padi Sudaji, Distan KP Buleleng juga mengembangkan berbagai komoditas pangan lokal lainnya seperti singkong, talas, ubi-ubian, jagung gembal atau sorgum khas Buleleng, hingga kapas lokal. Program tersebut menjadi bagian dari penguatan ketahanan pangan daerah melalui konsep integrated farming.
Sementara itu, I Nyoman Sutjidra menegaskan pelestarian komoditas lokal penting dilakukan untuk menjaga kemandirian pangan sekaligus mempertahankan produk asli daerah.
“Padi Sudaji ini kita lestarikan. Bibit yang ditanam sekarang nanti akan disebarkan kembali ke petani, khususnya di Desa Sudaji dan Kecamatan Sawan,” ujar Sutjidra.
Selain padi lokal, Pemkab Buleleng juga mulai mendorong pengembangan pangan alternatif pendamping beras seperti talas, ubi, sukun, dan sorgum sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Buleleng.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli