Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 25 Mei 2026
Guru Tak Tergantikan AI, Tetap Miliki Peran Penting di Era Digital
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Pesatnya perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) justru dinilai semakin memperkuat peran guru dan dosen dalam dunia pendidikan. Kehadiran AI disebut bukan sebagai ancaman, melainkan alat pendukung yang membantu meningkatkan kualitas pembelajaran di era digital.
Direktur Marketing IALF, Jay’ Arief Rahman, mengatakan bahwa teknologi secanggih apa pun belum mampu menggantikan interaksi dan pengalaman belajar langsung di ruang kelas.
“In the age of AI, the most important technology and innovation are the teachers. Jadi di era artificial intelligence sekarang ini, peran guru justru menjadi sangat penting,” ujar Jay, Sabtu (23/5/2026) di Denpasar.
Menurutnya, pengalaman belajar bersama di kelas masih menjadi elemen penting dalam membangun kemampuan sosial, komunikasi, hingga pola pikir kritis siswa.
“Pengalaman belajar bersama, bertanya saat bingung, membangun network, merasakan perjuangan dan pencapaian bersama di kelas, itu belum bisa direplikasi AI,” ujarnya.
Jay menjelaskan, AI dapat dimanfaatkan sebagai pendamping belajar bagi siswa maupun mahasiswa. Teknologi ini memungkinkan pelajar mendapatkan bantuan kapan saja saat mengalami kesulitan memahami materi.
“Kalau siswa belajar tengah malam dan bingung soal grammar bahasa Inggris, mereka bisa langsung bertanya ke AI tanpa harus menunggu guru. Besoknya di kelas, guru tinggal fokus membangun diskusi dan critical thinking,” paparnya.
Ia menilai kombinasi pembelajaran online, AI, dan kelas tatap muka akan menjadi model pendidikan masa depan yang lebih efektif dan produktif.
“AI itu bukan pengganti guru, tapi seperti teaching assistant atau asisten dosen yang membantu proses belajar siswa kapan saja,” terangnya.
Selain itu, Jay menekankan pentingnya metode Socratic dialogue bagi pengajar di era digital. Metode tersebut dinilai efektif dalam mendorong siswa berpikir kritis melalui dialog dan diskusi mendalam.
“Guru sekarang tidak cukup hanya menyampaikan materi. Yang paling penting adalah membangun communication, collaboration, creative thinking, dan critical thinking atau 4C,” ujarnya.
Ia juga mendorong kampus dan lembaga pendidikan menghadirkan materi pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif agar generasi muda lebih tertarik belajar dibanding hanya menikmati hiburan digital.
“Mungkin kuliahnya bisa dibuat lebih sinematik dan menarik, jadi anak-anak lebih memilih menonton materi kuliah daripada doom scrolling atau Netflix,” katanya.
Jay turut menyoroti pentingnya kemampuan bahasa Inggris di tengah meningkatnya akses informasi dan peluang beasiswa internasional seperti LPDP, Australia Awards, hingga Monbukagakusho.
“Bahasa Inggris sekarang menjadi modal utama untuk studi ke luar negeri dan membangun komunikasi global,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tidak sepenuhnya percaya pada hasil AI karena masih berpotensi menghasilkan informasi yang keliru atau halusinasi.
“Yang paling penting itu cross-check dan verifikasi. Jangan percaya 100 persen pada AI. Justru proses verifikasi itu melatih critical thinking,” sebutnya.
Ia berharap masyarakat terus belajar dan bereksperimen menggunakan AI secara bijak agar mampu meningkatkan produktivitas dan kreativitas di berbagai bidang.
“AI membantu mempercepat pekerjaan dan meningkatkan output. Yang sebelumnya sehari hanya bisa menyelesaikan satu tugas, sekarang bisa tiga tugas karena dibantu AI,” tutup Rahman.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Pengendara Scoopy Tewas Terlindas Mobil di Mengwi Badung
Dibaca: 2101 Kali
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1944 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1432 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 1317 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah