Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 11 Juni 2026
Overthinking, Trauma Masa Kecil dan Pencederaan Diri pada Masa Dewasa
BERITABALI.COM, DENPASAR.
SEORANG mahasiswa berusia 22 tahun, berinisial IBK, datang dengan keluhan mengalami berbagai kesulitan dalam perkuliahan, hubungan interpersonal, dan pekerjaannya. Ia merasa setiap kali menjalin kedekatan dengan orang lain, muncul rasa takut kehilangan yang sangat kuat. Ketakutan ini berkaitan dengan pengalaman traumatis masa kecil, terutama rasa takut kehilangan ibunya.
Sejak kecil, ia menyaksikan konflik berat antara kedua orang tuanya. Orang tuanya bercerai ketika ia duduk di kelas I SD, namun sejak usia sekitar lima tahun ia sudah sering melihat pertengkaran di rumah. Ia mengingat ibunya mengalami kekerasan dari ayahnya, sementara dirinya hanya dapat bersembunyi di bawah kasur dalam keadaan takut, diam, dan tidak berdaya. Ia melihat kejadian tersebut dari balik bantal tanpa mampu memahami penyebab pertengkaran maupun mengungkapkan perasaannya. Setelah memasuki masa kuliah, ia baru mulai kembali bertemu dengan ibunya.
Dalam relasi romantik, ia pernah dekat dengan seseorang saat SMK, tetapi hubungan tersebut tidak berjalan baik. Saat ini ia sedang dekat dengan seorang perempuan yang dikenalnya melalui media sosial selama dua bulan terakhir. Awalnya ia merasa nyaman karena mendapat perhatian, termasuk ketika perempuan tersebut membelikan sesuatu dan lebih memilih bersamanya dibandingkan teman-temannya.
Namun, belakangan ia merasa bingung karena sikap perempuan tersebut berubah-ubah, kadang peduli, kadang cuek, bahkan membuatnya merasa tidak dianggap. Hubungan mereka juga tidak memiliki status yang jelas, dan perempuan tersebut pernah menyatakan lebih memilih laki-laki lain.
Situasi ini memicu overthinking, sesak napas, napas terasa berat, gemetar, jantung berdebar, dan nyeri lambung. Ketika tekanan emosional meningkat, IBK melakukan cutting pada pergelangan tangannya, yang mulai dilakukan sejak satu tahun lalu setelah mendengar pengalaman serupa dari temannya. Baginya, tindakan tersebut seolah meredakan sakit hati.
Saat ini ia merasa sedih, putus asa, sulit tidur, nafsu makan menurun, berat badan turun, konsentrasi terganggu, kehilangan minat, kehilangan energi, serta takut membuka laptop untuk mengerjakan skripsi. Tekanan pekerjaan dan tuntutan keluarga untuk segera lulus membuatnya merasa bingung, kehilangan arah, dan seperti tersesat.
Trauma yang terbawa ke masa dewasa
Kasus IBK, mahasiswa berusia 22 tahun yang mengalami kesulitan dalam perkuliahan, relasi interpersonal, pekerjaan, serta melakukan cutting ketika tekanan emosional meningkat, perlu dibaca secara hati-hati dan manusiawi. Ia bukan sekadar mahasiswa yang overthinking, bukan pula hanya seseorang yang gagal move on dalam hubungan romantik. Gejala yang muncul berupa takut kehilangan, sesak napas, gemetar, jantung berdebar, nyeri lambung, sulit tidur, kehilangan minat, penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, putus asa, dan self-harm menunjukkan adanya penderitaan psikologis yang cukup serius.
Dalam psikopatologi modern, kita tidak lagi melihat gangguan mental sebagai akibat tunggal dari satu peristiwa. Lebih tepat bila kasus IBK dipahami melalui model biopsikososial-kultural bahwa ada faktor biologis, pengalaman psikologis, pola keluarga, tekanan sosial, serta konteks budaya yang saling berinteraksi. Kalau kita lihat pengalaman IBK menyaksikan ibunya mengalami kekerasan dari ayahnya sejak usia sekitar lima tahun merupakan bentuk adverse childhood experiences atau pengalaman masa kecil yang merugikan.
Anak yang menyaksikan kekerasan domestik tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga menjadi korban psikologis. Ia menyerap ketakutan, ketidakamanan, dan kebingungan. Pada usia lima tahun, anak belum memiliki kapasitas kognitif dan emosional yang matang untuk memahami konflik orang tua. Ia belum mampu berkata, “Ini bukan salah saya,” atau “Ayah dan ibu sedang bermasalah, tetapi saya tetap aman.”
Yang lebih mungkin terjadi adalah anak menyimpan pengalaman itu sebagai rasa takut bahwa dunia tidak aman, orang yang dicintai bisa hilang, dan saya tidak punya daya untuk mencegahnya.
Perceraian orang tua saat ia kelas I SD memperkuat pengalaman kehilangan. Ketika anak sebelumnya sudah melihat ibunya menjadi korban kekerasan, perceraian dapat dimaknai bukan hanya sebagai perpisahan keluarga, tetapi sebagai konfirmasi bahwa orang yang paling ia butuhkan memang dapat pergi.
Lebih jauh lagi, ia baru kembali bertemu ibunya secara lebih nyata ketika kuliah. Artinya, fase penting perkembangan emosional pada masa kanak, remaja awal, dan remaja tengah berlangsung dengan rasa kehilangan figur ibu, atau setidaknya kehilangan kedekatan emosional dengan ibu. Dalam teori attachment, hubungan awal anak dengan figur pengasuh utama membentuk internal working model, yaitu peta batin tentang diri sendiri, orang lain, dan hubungan.
Bila anak mengalami rasa aman, diharapkan dan dicintai, maka ia lebih mungkin membangun secure attachment, bahwa “Saya layak dicintai, orang lain bisa dipercaya, dan hubungan bisa aman.” Sebaliknya, jika pengalaman awal dipenuhi ketakutan, kekerasan, perpisahan, dan ketidakpastian, anak dapat mengembangkan insecure attachment.
Pada IBK, pola yang tampak adalah kecemasan ditinggalkan, kebutuhan kuat akan kepastian, dan sensitivitas tinggi terhadap perubahan sikap orang lain. Ketika perempuan yang dekat dengannya kadang peduli dan kadang cuek, sistem emosionalnya dapat bereaksi seolah-olah peristiwa lama terulang bahwa orang yang penting akan pergi, dan ia kembali menjadi anak kecil yang tidak berdaya.
Sehingga, relasi romantik yang tidak jelas statusnya bukan sekadar masalah percintaan biasa bagi IBK. Relasi itu menjadi pemicu trauma. Ketidakpastian dari perempuan tersebut mengaktifkan luka lama. Ketika ia merasa tidak dianggap atau dibandingkan dengan laki-laki lain, rasa takut kehilangan yang lama muncul kembali dalam bentuk overthinking, gejala panik, nyeri lambung, gangguan tidur, dan dorongan menyakiti diri.
Dalam bahasa psikodinamik, masa kini menjadi panggung tempat konflik masa lalu dimainkan ulang. Namun, penting ditekankan bahwa masa lalu tidak menentukan masa depan secara mutlak. Trauma meningkatkan kerentanan, tetapi tidak menghapus kemungkinan pemulihan. Banyak orang dengan pengalaman masa kecil yang berat dapat pulih bila mendapat dukungan, terapi yang tepat, relasi yang aman, serta lingkungan keluarga dan komunitas yang memahami.
Konflik dan respon batin dalam meredakan emosi
Pengalaman masa kecil IBK dapat dipahami sebagai konflik antara kebutuhan akan kedekatan dan ketakutan akan kehilangan. Di satu sisi, ia sangat membutuhkan figur yang memberi rasa aman. Di sisi lain, pengalaman masa kecil mengajarkan bahwa figur yang dicintai dapat terluka, pergi, atau tidak dapat melindungi dirinya.
Akibatnya, kedekatan menjadi sesuatu yang diinginkan sekaligus menakutkan. Dalam relasi romantik, ia tampak mencari validasi emosional. Ketika perempuan tersebut memberi perhatian dan membelikan sesuatu, ia merasakan kenyamanan. Perhatian itu mungkin tidak hanya dimaknai sebagai kebaikan biasa, tetapi sebagai bukti bahwa ia dipilih, dianggap, dan tidak ditinggalkan. Namun ketika sikap perempuan itu berubah, luka lama tersentuh kembali. Ambivalensi orang lain menjadi sangat menyakitkan karena di dalam dirinya ada memori emosional tentang relasi yang tidak aman.
Dari perspektif teori objek-relasi, figur ibu dapat menjadi simbol rasa aman yang pernah hilang. Pengalaman melihat ibu dipukul dan kemudian berpisah dari ibu dapat meninggalkan representasi internal tentang cinta sebagai sesuatu yang rapuh. Ia mungkin memiliki kebutuhan kuat untuk memegang orang yang ia sayangi, karena kehilangan terasa sangat mengancam. Tetapi semakin kuat ia membutuhkan kepastian, semakin besar pula kecemasannya saat orang lain tidak dapat memenuhi kebutuhan itu.
Suatu pengalaman traumatis dapat membentuk skema negative, bahwa “Saya tidak cukup berharga,” “Orang yang saya sayangi akan meninggalkan saya,” “Saya tidak mampu menghadapi hidup,” atau “Saya harus terus memikirkan semua kemungkinan buruk agar tidak terluka.” Skema seperti ini membuat seseorang rentan terhadap overthinking. Overthinking bukan sekadar kebiasaan berpikir berlebihan, melainkan upaya maladaptif untuk mencari kepastian dalam situasi yang secara emosional terasa tidak aman.
Selain itu. IBK juga berada pada fase perkembangan dewasa awal. Fase ini berkaitan dengan tugas intimacy versus isolation. Individu belajar membangun kedekatan yang sehat, memilih pasangan, bekerja, serta membentuk identitas masa depan. Pada IBK, tugas perkembangan ini terganggu oleh konflik lama yang belum terselesaikan. Ia sedang menghadapi skripsi, pekerjaan, tuntutan keluarga untuk segera lulus, dan relasi romantik yang tidak pasti. Semua tekanan itu bertemu pada satu titik yaitu rasa gagal, kehilangan arah, dan tidak berdaya.
Dalam konteks budaya Indonesia dan Bali, tekanan keluarga untuk lulus dan menjadi berhasil sering dimaknai bukan hanya sebagai pencapaian pribadi, tetapi juga sebagai tanggung jawab moral kepada keluarga. Bagi sebagian mahasiswa, tuntutan ini dapat menjadi motivasi. Namun bagi individu yang sedang rapuh, tuntutan tersebut dapat berubah menjadi beban psikologis. Ia mungkin merasa bukan hanya gagal sebagai mahasiswa, tetapi juga gagal sebagai anak.
Secara neurobiologis, trauma masa kecil dapat mengubah cara otak dan tubuh merespons stres. Paparan stres kronis pada masa perkembangan dapat memengaruhi sistem HPA axis yaitu hipotalamus, pituitari, dan adrenal yang mengatur respons tubuh terhadap ancaman. Ketika anak sering hidup dalam ketakutan, sistem alarm tubuh menjadi terlalu peka. Pada masa dewasa, situasi interpersonal yang tampak kecil bagi orang lain dapat dibaca oleh otak sebagai ancaman besar.
Amygdala sebagai bagian otak yang berperan dalam deteksi ancaman, dapat menjadi lebih reaktif. Prefrontal cortex, yang membantu berpikir rasional dan mengendalikan impuls, dapat kewalahan saat emosi terlalu kuat. Hippocampus, yang membantu membedakan masa lalu dan masa kini, juga dapat terlibat dalam munculnya reaksi trauma. Karena itu, ketika perempuan yang dekat dengannya menjadi cuek, tubuh IBK mungkin bereaksi bukan hanya terhadap kejadian hari ini, tetapi juga terhadap memori lama tentang kehilangan, kekerasan, dan ketidakberdayaan.
Gejala seperti sesak napas, gemetar, jantung berdebar, dan nyeri lambung menunjukkan bahwa tekanan psikologis telah menjadi pengalaman tubuh. Ini sesuai dengan konsep somatisasi dan respons fight-flight-freeze. Saat ancaman terasa tidak dapat dihadapi, tubuh bisa masuk ke mode panik atau membeku. Cutting kemudian muncul sebagai cara maladaptif untuk mengatur emosi.
Pada sebagian individu, self-harm bukan bertujuan utama untuk bunuh diri, tetapi untuk meredakan nyeri emosional, mengalihkan rasa sakit batin menjadi rasa sakit fisik, atau merasakan kendali saat hidup terasa kacau. Namun, tindakan ini tetap berbahaya dan harus dianggap serius karena meningkatkan risiko cedera berulang dan risiko bunuh diri di kemudian hari.
Apa yang perlu dilakukan untuk kembali ke jalan yang benar?
Langkah pertama adalah memastikan keselamatan. Cutting pada pergelangan tangan harus dipandang sebagai sinyal bahwa IBK sedang kelebihan beban dan membutuhkan pertolongan, bukan sebagai tindakan mencari perhatian. Keluarga dan tenaga kesehatan perlu menanyakan secara langsung tetapi lembut, “Apakah ia pernah ingin mati, apakah ada rencana bunuh diri, apakah ada alat yang bisa digunakan, dan apakah ia merasa mampu menjaga dirinya hari ini?” Pertanyaan seperti ini tidak menanamkan ide bunuh diri namun justru membantu membuka ruang pertolongan.
Bila ditemukan depresi sedang-berat, risiko bunuh diri, gangguan tidur berat, penurunan berat badan bermakna, atau gangguan fungsi yang signifikan, intervensi profesional tidak boleh ditunda. Terapi dapat mencakup psikoterapi trauma-informed, cognitive behavioral therapy, dialectical behavior therapy skills untuk regulasi emosi dan self-harm, serta terapi berbasis attachment untuk memahami pola takut ditinggalkan. Bila diperlukan, farmakoterapi dapat dipertimbangkan oleh psikiater, terutama bila gejala depresi, cemas, panik, atau insomnia sudah mengganggu fungsi harian.
Langkah kedua adalah membantu IBK membangun peta pemulihan yang konkret. Ia tidak perlu langsung menyelesaikan seluruh hidupnya. Yang dibutuhkan adalah struktur kecil yang aman seperti tidur dan makan teratur, mengurangi paparan media sosial yang memicu kecemasan, membuat jadwal skripsi dalam potongan kecil, menghubungi dosen pembimbing, serta menunda keputusan besar dalam relasi romantik saat emosi sedang sangat intens. Ia perlu belajar membedakan rasa takut masa lalu dari kenyataan masa kini. Tidak semua perubahan sikap orang lain berarti ia akan ditinggalkan. Tidak semua rasa sakit harus dijawab dengan melukai tubuh.
Langkah ketiga adalah membangun keterampilan regulasi emosi. Saat dorongan cutting muncul, ia perlu dilatih menggunakan strategi pengganti, seperti menjauhkan benda tajam, menghubungi orang yang dipercaya, menulis emosi selama sepuluh menit, melakukan grounding dengan menyebut lima hal yang dilihat dan empat hal yang dirasakan, menarik napas perlahan, menggenggam es batu yang dibungkus kain, berjalan keluar kamar, atau datang ke layanan kesehatan. Tujuannya bukan menolak emosi, tetapi melewati gelombang emosi tanpa merusak diri.
Langkah keempat adalah memperbaiki lingkungan relasional. Relasi romantik yang ambigu dan tidak konsisten dapat menjadi pemicu kuat bagi seseorang dengan luka attachment. Ia perlu dibantu melihat bahwa cinta yang sehat tidak dibangun di atas ketidakjelasan, kompetisi, dan rasa tidak dianggap. Ia perlu belajar membuat batas tentang apa yang ia butuhkan, apa yang tidak sehat, dan kapan ia harus mengambil jarak. Pemulihan tidak berarti ia harus segera memutuskan hubungan, tetapi ia perlu mengembalikan pusat kendali ke dirinya sendiri.
Selain itu, keluarga memiliki peran sangat penting. Pertama, keluarga perlu berhenti menyederhanakan masalah dengan kalimat seperti jangan lebay, kurang berdoa, masa begitu saja tidak kuat, atau cepat lulus saja nanti juga sembuh. Kalimat seperti itu dapat memperdalam rasa malu. Yang dibutuhkan IBK adalah validasi, bahwa “Kami melihat kamu sedang berat. Kami ingin membantu. Kamu tidak sendirian.”
Kedua, keluarga perlu mengurangi tekanan yang bersifat mengancam dan menggantinya dengan dukungan yang terstruktur. Misalnya, bukan “Kamu harus segera lulus,” tetapi “Apa satu langkah kecil minggu ini yang bisa kami bantu agar skripsimu bergerak?” Keluarga dapat membantu menghubungi dosen pembimbing bila IBK setuju, menemaninya ke layanan kesehatan, memastikan ia makan, tidur, dan tidak sendirian saat krisis.
Ketiga, keluarga perlu memahami bahwa luka masa kecil tidak bisa disembuhkan dengan nasihat singkat. Bila memungkinkan, pendekatan keluarga atau family session dapat dilakukan. Tujuannya bukan mencari siapa yang salah, tetapi membangun cara baru untuk berkomunikasi. Dalam budaya kita, keluarga sering menjadi sumber tekanan sekaligus sumber penyembuhan. Bila keluarga mampu berubah menjadi ruang aman, proses pemulihan IBK akan jauh lebih kuat.
Selain itu, pemulihan IBK juga dapat diperkuat melalui jejaring sosial yang sehat, seperti teman yang suportif, pembimbing akademik yang memahami, komunitas kampus, layanan konseling mahasiswa, dan bila sesuai dengan keyakinannya, dukungan spiritual yang tidak menghakimi. Spiritualitas dapat menjadi sumber makna, tetapi harus digunakan untuk merawat, bukan menyalahkan.
Pada akhirnya, ia perlu dibantu memahami bahwa dirinya bukan rusak. Ia adalah seseorang yang pernah mengalami ketakutan besar ketika masih terlalu kecil untuk memahaminya. Tubuh dan pikirannya belajar bertahan dengan cara yang dulu mungkin diperlukan, tetapi kini tidak lagi menolong. Jalan yang benar bukan berarti melupakan masa lalu, melainkan belajar bahwa masa lalu tidak harus terus memimpin masa depan. Ia dapat kembali membangun hidupnya bukan sebagai korban trauma, tetapi sebagai manusia yang sedang belajar pulih, bertumbuh, dan menemukan kembali arah hidupnya. Selamat berjuang! (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli