Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 10 Juni 2026
Subak Kunci Menahan Alih Fungsi Lahan di Bali
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Alih fungsi lahan pertanian yang semakin masif di sejumlah kawasan destinasi wisata Bali menjadi perhatian berbagai kalangan.
Salah satu solusi untuk menekan laju pembangunan di lahan produktif dinilai dapat dilakukan dengan memperkuat dan melestarikan sistem subak sebagai warisan budaya sekaligus penyangga sektor pertanian Bali.
Guru Besar Bidang Ilmu Pariwisata Berbasis Lingkungan Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Prof. Dr. Drs. I Nyoman Sunarta, M.Si., menegaskan keberadaan subak memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan lahan pertanian di tengah pesatnya perkembangan sektor pariwisata.
"Kita punya salah satu wadah budaya kita, yaitu subak. Subak irigasi. Yang mestinya itu yang kita lestarikan," terangnya, belum lama ini.
Menurutnya, apabila sistem subak tetap dipertahankan dan diperkuat, maka pembangunan yang berpotensi merusak lahan pertanian produktif maupun jaringan irigasi dapat lebih terkendali.
"Paling tidak pembangunan-pembangunan itu mampu direm, khusunya pembangunan-pembangunan yang merusak irigasi serta, merusak sawah-sawah kita di Bali. Itu mestinya direm," cetusnya.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah dan pemangku kepentingan perlu melakukan penataan ruang yang lebih tegas melalui pemetaan zona pembangunan. Langkah tersebut penting untuk menentukan kawasan yang dapat dikembangkan dan wilayah yang harus dilindungi dari tekanan pembangunan.
"Daerah-daerah yang lain kan banyak. Mestinya, dapat dibuatkan zona dimana boleh dan tidak untuk membangunan serta,kita harus mengetahui dimana harus kita, kurangi kegiatanya dan yang mana kita lancarkan kegiatannya," bebernya.
Sunarta menilai Bali tidak bisa sepenuhnya menghindari perkembangan sektor pariwisata yang mendorong pembangunan berbagai fasilitas akomodasi. Namun demikian, arah pembangunan pariwisata harus lebih berorientasi pada kualitas dibandingkan kuantitas semata.
Menurutnya, keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan atau besarnya perputaran ekonomi, tetapi juga dari kemampuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat lokal yang menjadi penjaga utama daya tarik Pulau Dewata.
"Itu yang saya katakan, banyak kualitas itu bukan hanya sekadar untuk uang atau duit, tapi kalau masyarakat lokalnya bertumbuh dengan lebih berkualitas, itu akan lebih baik karena dia yang akan menjaga daya tarik yang dimiliki Bali," tutupnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli