Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 25 Oktober 2026
Tenun Cag-Cag Sembiran Diburu, Regenerasi Penenun Jadi Tantangan
BERITABALI.COM, BULELENG.
Di tengah maraknya kain modern dan produk tekstil pabrikan, masyarakat Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, masih setia menjaga warisan budaya leluhur berupa tenun Cag-Cag. Namun di balik tingginya permintaan pasar, kerajinan tradisional khas desa Bali Aga tersebut menghadapi tantangan serius berupa minimnya regenerasi penenun.
Pembina Kelompok Tenun Ikat Cag-Cag Wukir Samirana, Wayan Suseni, mengatakan tenun Cag-Cag memiliki nilai budaya yang sangat penting bagi masyarakat Desa Sembiran. Kain tradisional ini tidak hanya berfungsi sebagai busana adat, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
“Kalau di Sembiran, anak perempuan yang sudah memasuki usia dewasa atau menek bajang wajib memiliki kamen dan selendang tenun Cag-Cag,” ujar Suseni saat ditemui Selasa (9/6).
Menurutnya, tenun Cag-Cag memiliki ciri khas berupa motif garis-garis sederhana tanpa lekukan. Meski tampak sederhana, setiap bagian kain menyimpan filosofi mendalam tentang siklus kehidupan manusia.
Bagian tepi kain melambangkan kelahiran, bagian tengah menggambarkan perjalanan hidup, sementara bagian akhir menjadi simbol kematian. Warna-warna yang digunakan juga memiliki karakter khas, yakni merah, hitam, kuning, dan putih.
Selain digunakan dalam tradisi menek bajang, tenun Cag-Cag juga menjadi bagian penting dalam berbagai upacara adat dan keagamaan masyarakat Bali Aga di Desa Sembiran, seperti pernikahan, Hari Raya Galungan, Kuningan, dan ritual adat lainnya.
Meski dapat dikenakan oleh laki-laki maupun perempuan, penggunaan kain tenun Cag-Cag bagi perempuan memiliki makna khusus karena menjadi bagian dari kewajiban adat dalam tahapan tertentu kehidupan masyarakat setempat.
Di tengah kuatnya nilai budaya tersebut, permintaan terhadap tenun Cag-Cag justru terus meningkat. Pesanan tidak hanya datang dari wilayah Buleleng, tetapi juga dari berbagai daerah di Bali dan luar daerah.
Namun tingginya permintaan belum mampu diimbangi dengan jumlah perajin yang tersedia.
“Sekarang penenun yang aktif hanya sekitar 10 orang dan rata-rata usianya sudah 40 sampai 50 tahun. Tantangan terbesar kami adalah sumber daya manusia, karena masih sedikit generasi muda yang mau belajar menenun,” jelasnya.
Untuk menghasilkan satu lembar kain tenun Cag-Cag, proses pengerjaan membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Harga selendang tenun dibanderol sekitar Rp400 ribu, sedangkan kain kamen mencapai Rp800 ribu.
Salah satu penenun senior, Ketut Suryani, mengaku mulai belajar menenun sejak tahun 2012. Keahlian tersebut diperolehnya langsung dari almarhum Dadong Landri yang dikenal sebagai maestro penenun Desa Sembiran.
Menurut Suryani, motivasinya belajar menenun didorong oleh keinginan untuk menjaga warisan budaya agar tetap lestari dan tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
“Saya belajar karena ingin tenun ini tetap ada. Harus ada generasi yang meneruskan supaya tidak punah,” katanya.
Ia menambahkan, kelompok-kelompok penenun di Desa Sembiran selama ini juga mendapat dukungan dari pemerintah untuk mengembangkan kerajinan tradisional tersebut.
Meski demikian, persoalan regenerasi masih menjadi tantangan utama yang perlu mendapat perhatian bersama agar keberlangsungan tenun Cag-Cag tetap terjaga di masa depan.
Di tengah banyaknya antrean pesanan yang terus berdatangan, para penenun berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mempelajari teknik menenun. Bagi masyarakat Desa Sembiran, tenun Cag-Cag bukan sekadar produk kerajinan, melainkan identitas budaya Bali Aga yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5740 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4587 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2548 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2194 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2185 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan