Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




9 Pelukis Muda Badung Unjuk Kebolehan di PKB 2026

Senin, 15 Juni 2026, 22:44 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok Diskominfo Badung/9 Pelukis Muda Badung Unjuk Kebolehan di PKB 2026.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BADUNG.

Sebanyak sembilan peserta dari Kabupaten Badung menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam ajang Wimbakara (Lomba) Seni Lukis Wayang Klasik Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali XLVIII Tahun 2026 di pelataran Museum Taman Budaya Art Center, Denpasar, Senin (15/6/2026).

Dari sembilan peserta tersebut, dua di antaranya merupakan duta resmi Kabupaten Badung yang mendapat pembinaan dari Sanggar Krisnarupa di Abianbase. Sementara tujuh peserta lainnya berasal dari kategori umum yang mendaftar melalui tautan yang disiapkan panitia.

Ketua Sanggar Krisnarupa, Ngurah Alit Kapakisan, mengatakan kedua peserta duta Badung dipersiapkan secara intensif sejak Februari 2026.

"Persiapannya mulai penentuan tema yang menyesuaikan dengan tema PKB sekarang yakni Atma Kerthi. Selanjutnya menggelar latihan sket serta latihan mewarnai. Proses itu sudah kami lalui dan sudah kami maksimalkan untuk tampil di ajang PKB kali ini. Astungkara ke depannya bisa mendapatkan juara," ungkapnya.

Ia menjelaskan, dua peserta tersebut merupakan permintaan resmi panitia kepada Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, sehingga hanya mereka yang mendapatkan pembinaan dari Sanggar Krisnarupa.

Senada dengan itu, Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Badung, Made Adi Adnyana, mengatakan pihaknya hanya memberikan dukungan dari sisi anggaran, sedangkan proses kreatif dan teknis melukis diserahkan sepenuhnya kepada pihak sanggar. "Kami hanya men-support dari sisi anggaran," tegasnya.

Terkait jumlah peserta dari Badung yang mencapai sembilan orang, Adi Adnyana menjelaskan bahwa secara resmi Badung hanya mengirim dua orang sebagai duta daerah.

"Tujuh lainnya berasal kategori umum yang mendaftar lewat link panitia PKB. Karena itu, pihak Disbud hanya memberikan pembinaan kepada dua orang peserta yang secara resmi menjadi duta Badung di ajang Wimbakara Seni Lukis Wayang Klasik ini," ungkapnya.

Sementara itu, salah satu dewan juri, Made Yasana, didampingi dua juri lainnya, Ni Made Rinu dan Made Bendi Yudha, menjelaskan ketentuan dalam lomba tersebut.

Menurutnya, peserta merupakan perorangan atau umum, baik pria maupun wanita, dengan jumlah maksimal 100 peserta. Sementara setiap kabupaten dan kota hanya diperbolehkan mengirim maksimal dua peserta sebagai duta daerah.

Selain itu, peserta harus berusia 13 hingga 18 tahun dan diwajibkan mengenakan busana adat Bali madya selama mengikuti lomba.

"Peserta diwajibkan menggunakan busana Bali madya," ujarnya.

Made Yasana menjelaskan, karya yang dilombakan mengacu pada seni lukis wayang gaya Kamasan dan harus relevan dengan tema besar PKB XLVIII Tahun 2026, yakni Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha.

Karya dibuat di atas kertas ukuran A3 yang disediakan panitia, sementara peralatan lainnya dipersiapkan masing-masing peserta.

Peserta juga tidak diperkenankan membawa contoh gambar dan harus menggunakan teknik sigar warna atau gradasi warna dalam proses pewarnaan. Durasi lomba ditetapkan selama 180 menit atau tiga jam dan seluruh hasil karya menjadi milik panitia.

Terkait penilaian, Made Yasana mengatakan dewan juri menilai tiga aspek utama, yakni gagasan dan kreativitas, teknik karya, serta kesesuaian tema dan keutuhan karya.

"Penilaian menyangkut 3 aspek ini dengan bobot nilai seperti di atas," tegas dewan juri yang berasal dari Institut Seni Indonesia Denpasar tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa seni lukis wayang klasik tidak sepenuhnya identik dengan gaya Kamasan.

"Klasik yang sebenarnya ada di Bali. Klasik hidup di Kamasan, itu sangat bagus. Namun bukan berarti klasik itu Kamasan. Akarnya itu tetap dan yang namanya pakem itu jangan diubah," ujarnya.

Menurutnya, pakem dalam seni lukis wayang klasik harus tetap dijaga, termasuk karakter dan atribut tokoh pewayangan.

"Itu jelas tak bisa. Yang boleh ditukar-tukar sedikit itu adalah sesaluk atau kostum. Silakan hias sepintar-pintarnya yang penting lengut atau pangus," ungkap Made Yasana.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: Diskominfo Badung



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami