Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 19 September 2026
Galungan Tanpa Penjor, Penglipuran Utamakan Empati dan Kebersamaan
BERITABALI.COM, BANGLI.
Perayaan Hari Raya Galungan 2026 di Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, menghadirkan pemandangan yang tidak biasa. Jika pada tahun-tahun sebelumnya deretan penjor menghiasi setiap sudut desa adat yang terkenal sebagai destinasi wisata budaya tersebut, kali ini suasana terlihat lebih sederhana karena warga memilih tidak memasang penjor.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Masyarakat Desa Adat Penglipuran sepakat meniadakan pemasangan penjor sebagai bentuk penghormatan kepada salah satu warga yang baru saja meninggal dunia. Langkah itu juga menjadi wujud solidaritas terhadap keluarga yang masih berada dalam suasana duka.
Manager Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, menjelaskan bahwa keputusan tersebut lahir dari nilai kebersamaan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
“Dalam kehidupan bermasyarakat, suka dan duka merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Ketika ada warga yang mengalami kedukaan, seluruh masyarakat ikut menghormati dan menunjukkan rasa empati,” ujar Sumiarsa, Senin (15/6/2026).
Menurutnya, tradisi yang dijalankan masyarakat Penglipuran tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan upacara dan simbol-simbol budaya semata. Lebih dari itu, masyarakat juga menempatkan nilai kemanusiaan sebagai bagian penting dalam kehidupan adat sehari-hari.
Karena itu, meski tidak dihiasi penjor seperti biasanya, pelaksanaan Hari Raya Galungan tetap berlangsung khidmat dan penuh makna. Warga tetap menjalankan seluruh rangkaian persembahyangan sesuai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Sumiarsa menegaskan bahwa kesakralan Hari Raya Galungan tidak berkurang hanya karena tidak adanya penjor. Justru keputusan tersebut menjadi cerminan bagaimana masyarakat adat mampu menjaga keseimbangan antara pelaksanaan tradisi dan kepedulian sosial.
“Ini merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai kebersamaan, rasa peduli, dan solidaritas antarwarga. Tradisi tetap berjalan, namun masyarakat juga tetap menghargai kondisi sosial yang ada,” katanya.
Sebagai salah satu desa wisata terbaik di Bali, Penglipuran selama ini dikenal luas karena keberhasilannya menjaga tata ruang, budaya, dan tradisi masyarakat adat secara konsisten. Desa ini tidak hanya menawarkan keindahan lingkungan yang tertata rapi, tetapi juga memperlihatkan kuatnya nilai sosial yang masih hidup di tengah masyarakat.
Menurut Sumiarsa, pelestarian budaya sejatinya tidak hanya diwujudkan melalui simbol atau bentuk fisik tradisi. Nilai-nilai seperti gotong royong, saling menghormati, dan kepedulian terhadap sesama juga menjadi bagian penting yang harus terus dijaga.
“Desa Penglipuran terus berkomitmen menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi, kehidupan sosial masyarakat, dan pengembangan pariwisata berkelanjutan,” jelasnya.
Perayaan Galungan tahun ini pun menjadi pengingat bahwa kekuatan budaya Bali tidak hanya tercermin dari kemeriahan upacara dan ornamen tradisional, tetapi juga dari kemampuan masyarakatnya menjaga harmoni, solidaritas, serta rasa kemanusiaan dalam setiap situasi kehidupan.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/bgl
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 7123 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5618 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3522 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2377 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan