Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Galungan Tanpa Penjor, Penglipuran Utamakan Empati dan Kebersamaan

Kamis, 18 Juni 2026, 13:11 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Galungan Tanpa Penjor, Penglipuran Utamakan Empati dan Kebersamaan.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BANGLI.

Perayaan Hari Raya Galungan 2026 di Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, menghadirkan pemandangan yang tidak biasa. Jika pada tahun-tahun sebelumnya deretan penjor menghiasi setiap sudut desa adat yang terkenal sebagai destinasi wisata budaya tersebut, kali ini suasana terlihat lebih sederhana karena warga memilih tidak memasang penjor.

Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Masyarakat Desa Adat Penglipuran sepakat meniadakan pemasangan penjor sebagai bentuk penghormatan kepada salah satu warga yang baru saja meninggal dunia. Langkah itu juga menjadi wujud solidaritas terhadap keluarga yang masih berada dalam suasana duka.

Manager Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, menjelaskan bahwa keputusan tersebut lahir dari nilai kebersamaan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

“Dalam kehidupan bermasyarakat, suka dan duka merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Ketika ada warga yang mengalami kedukaan, seluruh masyarakat ikut menghormati dan menunjukkan rasa empati,” ujar Sumiarsa, Senin (15/6/2026).

Menurutnya, tradisi yang dijalankan masyarakat Penglipuran tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan upacara dan simbol-simbol budaya semata. Lebih dari itu, masyarakat juga menempatkan nilai kemanusiaan sebagai bagian penting dalam kehidupan adat sehari-hari.

Karena itu, meski tidak dihiasi penjor seperti biasanya, pelaksanaan Hari Raya Galungan tetap berlangsung khidmat dan penuh makna. Warga tetap menjalankan seluruh rangkaian persembahyangan sesuai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Sumiarsa menegaskan bahwa kesakralan Hari Raya Galungan tidak berkurang hanya karena tidak adanya penjor. Justru keputusan tersebut menjadi cerminan bagaimana masyarakat adat mampu menjaga keseimbangan antara pelaksanaan tradisi dan kepedulian sosial.

“Ini merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai kebersamaan, rasa peduli, dan solidaritas antarwarga. Tradisi tetap berjalan, namun masyarakat juga tetap menghargai kondisi sosial yang ada,” katanya.

Sebagai salah satu desa wisata terbaik di Bali, Penglipuran selama ini dikenal luas karena keberhasilannya menjaga tata ruang, budaya, dan tradisi masyarakat adat secara konsisten. Desa ini tidak hanya menawarkan keindahan lingkungan yang tertata rapi, tetapi juga memperlihatkan kuatnya nilai sosial yang masih hidup di tengah masyarakat.

Menurut Sumiarsa, pelestarian budaya sejatinya tidak hanya diwujudkan melalui simbol atau bentuk fisik tradisi. Nilai-nilai seperti gotong royong, saling menghormati, dan kepedulian terhadap sesama juga menjadi bagian penting yang harus terus dijaga.

“Desa Penglipuran terus berkomitmen menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi, kehidupan sosial masyarakat, dan pengembangan pariwisata berkelanjutan,” jelasnya.

Perayaan Galungan tahun ini pun menjadi pengingat bahwa kekuatan budaya Bali tidak hanya tercermin dari kemeriahan upacara dan ornamen tradisional, tetapi juga dari kemampuan masyarakatnya menjaga harmoni, solidaritas, serta rasa kemanusiaan dalam setiap situasi kehidupan.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/bgl



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami