Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Duta Badung Pukau PKB 2026 Lewat Empat Busana Adat Sarat Makna

Senin, 22 Juni 2026, 14:52 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok Diskominfo Badung/Duta Badung Pukau PKB 2026 Lewat Empat Busana Adat Sarat Makna.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Gemerlap Utsawa (Parade) Busana Adat Khas Kabupaten/Kota se-Bali dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Bali, Minggu (21/6/2026), menjadi ajang bagi Kabupaten Badung untuk menampilkan kekayaan warisan budaya yang masih lestari hingga kini.

Tampil pada urutan ketujuh, Duta Kabupaten Badung sukses memukau penonton dengan menghadirkan empat ragam busana adat yang tidak hanya menonjolkan keindahan visual, tetapi juga mengandung nilai teologis, historis, dan filosofis yang selaras dengan tema besar PKB tahun ini, Atma Kerthi.

Tim Parade Busana Duta Kabupaten Badung, I Gusti Ngurah Agung Sasmitra Wiguna, didampingi Ni Nyoman Budawati dan I Wayan Awi Marwida, menjelaskan bahwa busana yang ditampilkan terdiri atas Busana Pecalang, Payas Kekembangan, Busana Maligia Lajur, dan Payas Kawya atau Payas Agung Mengwi.

“Untuk PKB tahun 2026, Kabupaten Badung tetap berpedoman pada tema besar Atma Kerthi. Keempat busana yang ditampilkan merupakan representasi perjalanan kehidupan masyarakat Badung, mulai dari fungsi pengayoman adat, persembahan suci, ritual leluhur, hingga busana tingkat utama dalam upacara sakral,” ujarnya.

Parade dibuka dengan penampilan Busana Pecalang yang menggambarkan peran penting penjaga keamanan dan kesucian adat serta agama di Bali. Busana ini ditampilkan melalui perpaduan warna Tri Datu, yakni merah, putih, dan hitam, yang dipadukan dengan saput poleng, destar, serta keris sebagai simbol keseimbangan kehidupan.

Penampilan berikutnya menghadirkan Payas Kekembangan, busana khas yang hanya ditemukan di Desa Adat Pangsan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Busana ini memiliki keterkaitan erat dengan tradisi Ngelampad, yaitu ritual persembahan hasil bumi kepada Dewa Sangkara yang dilaksanakan oleh daha truna setempat setiap Purnama.

“Busana Kekembangan hanya ada di Desa Adat Pangsan. Tradisi ini menjadi warisan yang terus dijaga oleh para daha truna melalui pelaksanaan Ngelampad setiap Purnama,” jelas Agung Sasmitra.

Payas Kekembangan didominasi warna hijau, merah muda, dan biru yang melambangkan kesegaran, kemakmuran, serta kesetiaan. Para truna mengenakan wastra petak mekancut dengan saput biru dan udeng jejateran, sementara para daha tampil anggun mengenakan kebaya dadu, selendang hijau, kain bermotif liris, serta tata rambut pusung gonjer.

Nuansa sejarah kemudian dihadirkan melalui Busana Maligia Lajur. Busana ini merupakan hasil rekonstruksi dari busana ritual Pitra Yadnya yang pernah digunakan dalam Upacara Maligia Lajur Raja Dewata ke-X di Puri Agung Sibang Kaja pada tahun 1957.

Proses rekonstruksi dilakukan berdasarkan dokumentasi foto lama dengan tetap mempertahankan pakem aslinya, meskipun beberapa bahan disesuaikan dengan perkembangan zaman.

“Kami merekonstruksi kembali busana tersebut berdasarkan foto yang diperoleh, namun tetap mengedepankan pakem, meskipun bahan yang digunakan menyesuaikan perkembangan zaman,” ungkapnya.

Sebagai puncak penampilan, Duta Kabupaten Badung menghadirkan kemegahan Payas Kawya atau Payas Agung Mengwi. Busana tingkat utama ini lazim digunakan dalam upacara mepandes maupun pawiwahan dan dikenal dengan kemewahan kain prada, songket, serta hiasan kepala khas gaya Mengwi.

Khusus pada busana perempuan, pusung tanduk yang dipadukan dengan srinata dan semi tidak hanya memperkuat nilai estetika, tetapi juga menjadi simbol kesiapan perempuan dalam menjalani tanggung jawab kehidupan.

Melalui empat ragam busana tersebut, Duta Kabupaten Badung menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak hanya sebatas menjaga bentuk fisik tradisi, melainkan juga merawat nilai, filosofi, dan makna yang terkandung di dalamnya.

Berbagai inovasi yang dilakukan tetap berpijak pada pakem adat dan filosofi Tri Angga, sehingga busana adat Bali dapat terus hidup, berkembang, dan tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: Diskominfo Badung



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami