Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Udayana Mengabdi di Desa Peliatan, Perkuat Peran Keluarga Cegah Adiksi dan Bunuh Diri

Sabtu, 8 Agustus 2026, 22:23 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Udayana Mengabdi di Desa Peliatan, Perkuat Peran Keluarga Cegah Adiksi dan Bunuh Diri.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, GIANYAR.

Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana memperkuat edukasi kesehatan jiwa berbasis masyarakat melalui Program Udayana Mengabdi di Desa Peliatan, Ubud, Kabupaten Gianyar, Jumat (7/8/2026).

Kegiatan tersebut mengangkat isu adiksi perilaku dan pencegahan bunuh diri dengan melibatkan tenaga kesehatan jiwa, pemerintah desa, tokoh masyarakat, kader, serta warga. Edukasi diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat mengenali tanda adiksi perilaku, memahami langkah penanganan, memperkuat dukungan keluarga, hingga mendeteksi risiko bunuh diri sejak dini.

Program ini juga menjadi bagian dari kerja sama jangka panjang antara Fakultas Kedokteran Universitas Udayana melalui Program Studi Psikiatri dengan Desa Peliatan sebagai desa binaan. Kerja sama tersebut mencakup penelitian dan pengabdian kepada masyarakat selama tiga tahun.

Penyerahan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dilakukan secara simbolis oleh Koordinator Program Studi Psikiatri FK UNUD Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Sp.KJ(K), MARS kepada Perbekel Desa Peliatan I Made Dwi Sutaryantha.

Prof. Cokorda mengatakan literasi kesehatan mental perlu dibangun sedekat mungkin dengan kehidupan masyarakat. Keluarga, banjar, dan desa dinilai memiliki posisi penting dalam mengenali perubahan perilaku seseorang sebelum persoalan berkembang lebih jauh.

“Kesehatan jiwa bukan hanya urusan rumah sakit atau tenaga kesehatan. Keluarga, banjar, desa, dan masyarakat adalah lingkungan pertama yang dapat melihat ketika seseorang mulai mengalami perubahan. Ketika masyarakat mampu mengenali masalah lebih dini, tidak memberikan stigma, dan tahu ke mana harus mencari pertolongan, kita sudah membangun sistem pencegahan yang sangat kuat dari tingkat komunitas,” ujar Prof. Cokorda.

Perbekel Desa Peliatan I Made Dwi Sutaryantha menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, perkembangan teknologi dan perubahan pola kehidupan masyarakat menghadirkan tantangan baru yang perlu direspons dengan memperkuat keluarga dan komunitas.

“Kami menyambut baik kegiatan ini karena persoalan kesehatan mental, termasuk penggunaan gawai, game, media sosial, maupun judi online, sudah sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Edukasi seperti ini membuat masyarakat tidak hanya mengetahui masalahnya, tetapi juga memahami apa yang dapat dilakukan ketika masalah tersebut terjadi pada keluarga maupun lingkungan di sekitarnya,” ungkap I Made Dwi Sutaryantha.

Mengenali Saat Kebiasaan Mulai Menjadi Adiksi

Materi mengenai jenis dan dampak adiksi perilaku disampaikan dr. Komang Ana Mahardika. Peserta diperkenalkan pada berbagai perilaku yang dapat berkembang menjadi masalah ketika dilakukan secara berlebihan, sulit dikendalikan, serta mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Menurut dr. Komang, penggunaan gawai, bermain game, media sosial maupun aktivitas lain tidak otomatis menunjukkan seseorang mengalami adiksi. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah hilangnya kendali serta munculnya dampak terhadap kehidupan.

“Tidak setiap orang yang bermain game, menggunakan media sosial, berbelanja, atau bermain gawai berarti mengalami adiksi. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang mulai kehilangan kontrol, menghabiskan semakin banyak waktu, dan perilaku tersebut mulai mengganggu pekerjaan, hubungan keluarga, kondisi ekonomi, maupun kesehatan. Pada titik itulah kita perlu mulai waspada,” jelas dr. Komang.

Sementara itu, I Gusti Agung Ayu Widyarini, dr., Sp.K.J., menjelaskan tanda dan gejala adiksi perilaku serta langkah penanganannya. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan meliputi durasi aktivitas yang semakin meningkat, kesulitan mengendalikan perilaku, kegelisahan atau mudah marah ketika aktivitas dihentikan, hingga terabaikannya pekerjaan, sekolah, kesehatan diri, dan hubungan keluarga.

“Yang perlu kita lihat bukan hanya berapa lama seseorang menggunakan gawai atau bermain, tetapi apakah ia masih memiliki kendali. Jika sudah berkali-kali mencoba berhenti tetapi gagal, gelisah ketika tidak melakukannya, dan tanggung jawab mulai terabaikan, itu merupakan tanda yang perlu mendapat perhatian. Adiksi perilaku dapat ditangani, dan mencari bantuan bukanlah sebuah aib,” ujar dr. Widyarini.

Penanganan adiksi perilaku dapat dilakukan melalui terapi kognitif perilaku, konseling psikologi maupun psikiatri, rehabilitasi, serta kelompok dukungan sesuai kebutuhan individu. Masyarakat juga didorong menjadikan layanan kesehatan terdekat sebagai pintu awal untuk memperoleh bantuan profesional.

Keluarga Berperan dalam Pemulihan

Peran keluarga menjadi salah satu perhatian utama dalam kegiatan tersebut. Dr. Luh Nyoman Alit Aryani, dr., Sp.K.J., Subsp.Ad.(K) menyampaikan materi mengenai dukungan sosial dan keluarga dalam pencegahan serta penanganan adiksi perilaku.

Adiksi tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi seluruh keluarga. Karena itu, keluarga memiliki tiga peran penting, yakni mencegah, mengenali, dan mendampingi.

“Tidak ada orang yang pulih sendirian. Keluarga sering kali menjadi pihak pertama yang melihat perubahan tidur, perubahan emosi, kehilangan uang, menarik diri, atau perubahan perilaku lainnya. Yang dibutuhkan bukan langsung menghakimi atau memarahi, tetapi hadir, mendengarkan, membuat batasan yang sehat, dan membantu orang tersebut memperoleh pertolongan,” tegas Dr. Alit.

Dukungan keluarga tidak berarti membiarkan perilaku bermasalah. Dukungan perlu disertai batasan yang sehat, termasuk dalam pola pengasuhan dan penggunaan gawai. Keluarga dapat memberikan dukungan emosional, penghargaan, informasi, serta bantuan nyata kepada anggota keluarga yang membutuhkan.

Pencegahan Bunuh Diri Dimulai dari Kepedulian

Materi mengenai pencegahan bunuh diri disampaikan dr. Komang Jourdy Kharisma Pradnyana. Masyarakat diajak memahami bahwa pencegahan dapat dimulai dari kemampuan mengenali perubahan perilaku, berani menanyakan kondisi seseorang, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menghubungkan orang yang membutuhkan dengan pertolongan yang tepat.

“Kita tidak harus menjadi psikiater untuk menunjukkan kepedulian. Ketika seseorang tampak sangat tertekan, putus asa, atau menunjukkan tanda yang mengarah pada risiko bunuh diri, jangan mengabaikannya. Dengarkan, tanyakan dengan empati, jangan menghakimi, dan bantu ia mendapatkan pertolongan profesional. Satu percakapan yang dilakukan dengan kepedulian dapat menjadi pintu menuju pertolongan,” ujar dr. Jourdy.

Upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam melakukan deteksi dini risiko bunuh diri sehingga intervensi dapat diberikan lebih cepat dan tepat.

Kader kesehatan dan tokoh masyarakat juga diproyeksikan menjadi agen literasi kesehatan mental yang dapat meneruskan edukasi dan pendampingan di tingkat komunitas Desa Peliatan.

Warga Peliatan Bahas Kecemasan hingga Judi Online

Antusiasme warga terlihat dalam sesi diskusi. Berbagai persoalan yang disampaikan peserta menunjukkan bahwa kesehatan mental dan adiksi perilaku memiliki kaitan erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Salah seorang peserta, Ibu Jeje, menyampaikan persoalan kecemasan yang dapat dialami ibu rumah tangga ketika harus menjalankan banyak peran sekaligus. Selain mengurus anak dan keluarga, terdapat pula berbagai tanggung jawab sosial dan adat yang harus dijalankan.

“Sebagai ibu rumah tangga, kadang pekerjaan terasa tidak pernah selesai. Ada urusan anak, rumah, keluarga, ditambah kewajiban adat. Rasanya semua harus selesai saat itu juga. Kami ingin tahu bagaimana caranya mengelola kecemasan agar tuntutan yang banyak ini tidak membuat kami kewalahan,” tutur Ibu Jeje.

Diskusi kemudian mengarah pada pentingnya mengenali batas kemampuan diri, menyusun prioritas secara realistis, berbagi peran, menyediakan waktu untuk pemulihan, serta tidak menganggap mencari dukungan sebagai bentuk kegagalan dalam menjalankan tanggung jawab.

Warga juga menyoroti fenomena judi online dan mempertanyakan besarnya persoalan tersebut di masyarakat. Pembahasan menekankan pentingnya melihat judi online tidak hanya sebagai persoalan disiplin atau moral, tetapi pada sebagian orang dapat berkembang menjadi pola adiktif yang ditandai kehilangan kontrol dan tetap dilakukan meskipun telah menimbulkan konsekuensi terhadap kehidupan pribadi, keluarga maupun sosial.

Kegiatan yang diikuti ibu-ibu PKK, kader posyandu desa, pemuda-pemudi, serta para kelian banjar di lingkungan Desa Peliatan tersebut menggunakan pendekatan partisipatif.

Program tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi, tetapi juga melibatkan masyarakat dalam edukasi, pelatihan deteksi dini, diskusi, pendampingan, hingga evaluasi program.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rls



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami