Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 24 Juni 2026
Tampilkan Arja Klasik, Sanggar Titi Bah Badung Angkat Tema Kembar Buncing di PKB
bbn/dok Diskominfo Badung/Tampilkan Arja Klasik, Sanggar Titi Bah Badung Angkat Tema Kembar Buncing di PKB.
BERITABALI.COM, BADUNG.
Duta Kabupaten Badung sukses memukau penonton dalam Utsawa (Parade) Arja Klasik yang digelar di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, Art Center Denpasar, Selasa (23/6/2026), sebagai bagian dari rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026.
Penampilan tersebut dibawakan oleh Sanggar Titi Bah dari Banjar Teguan, Desa Punggul, Kecamatan Abiansemal, melalui garapan Arja Klasik berjudul “Kembar Buncing”. Pementasan ini sarat dengan pesan spiritual, filosofi kehidupan, dan makna tentang pentingnya menjaga kemurnian jiwa manusia.
Ketua sekaligus pembina tari Sanggar Titi Bah, I Gusti Made Sunadi, menjelaskan bahwa “Kembar Buncing” diadaptasi dari kisah dalam Geguritan Ganda Wirasa yang sebelumnya pernah diproduksi oleh Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar.
Cerita tersebut mengisahkan Putra Mahkota Kerajaan Supala yang sejak kecil harus hidup dan dibesarkan di tengah hutan untuk menghindari ancaman musuh. Setelah dewasa, ia melakukan perjalanan panjang untuk mencari saudara kembarnya yang terpisah sejak kecil hingga akhirnya dipertemukan kembali di Kerajaan Candra Buwana.
Menurut Sunadi, cerita tersebut dipilih karena memiliki keterkaitan erat dengan tema PKB 2026, yakni Atma Kerthi yang menitikberatkan pada upaya penyucian dan pemuliaan jiwa manusia.
“Setiap manusia memiliki kemurnian jiwa. Dalam perjalanan hidup, manusia tidak lepas dari pengaruh karma dan berbagai godaan duniawi. Melalui Atma Kerthi, manusia diajak untuk membersihkan diri dan kembali pada kemurnian jiwa tersebut,” ungkapnya.
Pementasan Arja Klasik “Kembar Buncing” melibatkan 24 seniman yang terdiri atas 12 pemain dan 12 penabuh gamelan. Persiapan pertunjukan dilakukan sejak Februari 2026 dengan durasi pementasan mencapai sekitar tiga setengah jam.
Sunadi menegaskan bahwa pengangkatan kisah tersebut bukan sekadar menghadirkan cerita baru, melainkan bentuk pengembangan dan pengalihwujudan karya sastra klasik ke dalam seni pertunjukan Arja tanpa meninggalkan pakem tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Di tengah tantangan regenerasi seniman Arja, dirinya mengakui minat generasi muda terhadap kesenian ini masih perlu terus ditingkatkan. Namun, ia tetap optimistis seni tradisi Bali akan terus diminati apabila generasi muda diberikan ruang untuk belajar dan berkarya.
“Anak-anak sekarang mungkin belum banyak yang tertarik dengan Arja, tetapi kita harus optimistis mereka pasti bisa, mau, dan mencintai seni tradisi jika terus diberikan ruang dan kesempatan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gede Sukada, menyampaikan bahwa Arja Klasik merupakan salah satu warisan budaya adiluhung yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mengandung tuntunan hidup yang relevan bagi masyarakat.
“Arja Klasik memiliki makna dan pesan kehidupan yang sangat dalam. Ini adalah warisan budaya Kabupaten Badung yang wajib kita jaga dan lestarikan bersama,” katanya.
Sukada menambahkan, Pemerintah Kabupaten Badung di bawah kepemimpinan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa memiliki komitmen kuat untuk terus menggali, melestarikan, dan mengembangkan potensi seni budaya yang tumbuh di seluruh desa dan kelurahan.
Menurutnya, pementasan Arja Klasik oleh Sanggar Titi Bah dapat menjadi inspirasi bagi banjar maupun komunitas seni lainnya untuk kembali menghidupkan kesenian tradisional yang dimiliki masing-masing wilayah. Upaya tersebut sejalan dengan pembangunan pariwisata berkualitas yang berakar pada budaya Bali.
Kekuatan Arja Klasik, lanjut Sukada, terletak pada perpaduan unsur tari, vokal, dialog, dan tabuh gamelan yang tersusun dalam pakem kesenian Bali. Melalui penampilan Sanggar Titi Bah, masyarakat dapat menyaksikan kekhasan Arja Klasik gaya Badung yang memiliki karakter tersendiri.
Terkait regenerasi seniman muda, Sukada menilai antusiasme generasi muda Badung terhadap seni tradisi masih sangat tinggi. Hal tersebut terlihat dari besarnya minat masyarakat dalam program Banjar Menari yang didukung pemerintah melalui penyediaan tenaga pengajar tari dan tabuh di 62 desa dan kelurahan.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda masih memiliki semangat untuk menggali, melestarikan, bahkan mengembangkan seni tradisi ke arah yang lebih baik,” pungkasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: Diskominfo Badung
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun