Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Puluhan Babi Mati Misterius di Karangasem, Diduga Terjangkit ASF

Kamis, 25 Juni 2026, 20:35 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok Beritabali.com/Puluhan Babi Mati Misterius di Karangasem, Diduga Terjangkit ASF.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, KARANGASEM.

Penyakit misterius diduga kembali menyerang ternak babi milik peternak rakyat di Kabupaten Karangasem. Dalam tiga pekan terakhir, puluhan ekor babi dilaporkan mati setelah mengalami gejala kehilangan nafsu makan, tubuh gemetar, lemas, hingga akhirnya mati.

Kasus kematian ternak tersebut dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah di Karangasem, di antaranya Desa Seraya Barat, Pertima, Timbrah, dan Perasi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan peternak terkait kemungkinan penyebaran penyakit yang lebih luas.

Salah seorang peternak di Desa Seraya Barat, I Nyoman Keblek, mengaku mengalami kerugian setelah lima ekor babinya mati, termasuk satu ekor indukan. Ia menjelaskan gejala awal yang terlihat pada ternaknya adalah penurunan nafsu makan sebelum akhirnya kondisi fisik semakin memburuk.

"Kalau ternak saya sekitar 3 minggu lalu sudah mati, awalnya ternak tidak mau makan, kemudian seperti gemetar, semakin lemas dan akhirnya mati," ujarnya, Kamis (25/6/2026).

Menurutnya, tidak hanya ternaknya yang terdampak. Sejumlah peternak lain di wilayah sekitar juga mengalami kejadian serupa. Bahkan beberapa babi yang sudah mendekati masa panen dilaporkan mati sebelum sempat dijual menjelang hari raya, sehingga menyebabkan kerugian jutaan rupiah.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Karangasem, I Made Sugiartha, membenarkan adanya laporan kematian ternak babi di beberapa desa. Berdasarkan data sementara, tercatat 17 ekor babi mati di Desa Pertima, lima ekor di Desa Timbrah, dan 10 ekor di Desa Perasi.

Meski demikian, pihaknya belum dapat memastikan penyebab kematian ternak tersebut. Tim telah diterjunkan ke lapangan untuk melakukan pemantauan dan pemeriksaan guna mengetahui penyebab pasti kematian babi yang dilaporkan warga.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Kabupaten Karangasem, I Ketut Suardita, menjelaskan petugas telah mendatangi sejumlah lokasi peternakan. Namun proses investigasi terkendala karena bangkai ternak sudah lebih dulu dikuburkan oleh pemiliknya sehingga sampel tidak dapat diambil untuk diuji di laboratorium.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari para peternak, gejala yang muncul memiliki kemiripan dengan serangan African Swine Fever (ASF). Selain kehilangan nafsu makan dan tubuh lemas, beberapa ternak juga dilaporkan mengalami munculnya bintik-bintik kemerahan pada bagian telinga sebelum akhirnya mati.

Suardita menambahkan, kematian ternak terjadi secara bertahap dan tidak menyerang seluruh babi dalam satu kandang secara bersamaan. Ada ternak yang mampu bertahan lebih dari satu bulan setelah menunjukkan gejala awal, sementara sebagian lainnya mati dalam waktu kurang dari tiga minggu.

Untuk mencegah penyebaran penyakit, peternak diimbau meningkatkan biosekuriti kandang dengan menjaga kebersihan lingkungan, membatasi lalu lintas keluar masuk kandang, serta rutin melakukan penyemprotan disinfektan.

Langkah pencegahan tersebut dinilai penting guna menekan risiko penyebaran virus maupun agen penyakit lainnya yang dapat mengancam populasi ternak babi di Kabupaten Karangasem.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/krs



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami