Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 14 Agustus 2026
Gerabah Tradisional di Kapal Tetap Bertahan, KUR BRI Perkuat Perajin Menjaga Tradisi Pengabenan Bali
beritabali/ist/Gerabah Tradisional di Kapal Tetap Bertahan, KUR BRI Perkuat Perajin Menjaga Tradisi Pengabenan Bali.
BERITABALI.COM, BADUNG.
Di tengah gempuran produk modern, gerabah tradisional untuk kebutuhan upacara adat Bali masih bertahan. Di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal, Kabupaten Badung, usaha gerabah yang diwariskan turun-temurun sejak sekitar tahun 1970-an tetap hidup berkat ketekunan keluarga perajin dalam menjaga tradisi sekaligus menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar.
Salah satu perajin yang meneruskan usaha tersebut adalah Nyoman Subarana. Ia merupakan generasi penerus usaha gerabah keluarga yang hingga kini masih memproduksi berbagai perlengkapan upacara adat berbahan tanah liat.
Bagi Subarana, usaha gerabah bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi juga menjadi tanggung jawab untuk menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Baca juga:
KUR BRI Dukung Pengembangan UMKM Produktif, Pembibitan Lele Badung Tembus Berbagai Daerah Bali
Sejak kecil, Subarana sudah akrab dengan proses pembuatan gerabah. Keahlian membentuk tanah liat dipelajari langsung dari orang tua dan leluhurnya yang telah menggeluti usaha tersebut selama puluhan tahun.
Seiring waktu, usaha yang awalnya berskala kecil tersebut berkembang dan menjadi salah satu penopang utama ekonomi keluarga.
"Dari usaha inilah kami membesarkan keluarga. Hasilnya dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membiayai sekolah anak-anak, hingga membantu perekonomian keluarga besar. Anak kami ada dua. Karena itu, kami berusaha mempertahankan usaha ini agar tetap bisa diwariskan ke generasi berikutnya," ujarnya.
Permintaan gerabah untuk kebutuhan upacara adat Bali hingga kini masih relatif stabil. Produk yang dibuat antara lain payuk pere, coblong, dulang, carat, serta berbagai perlengkapan berbahan tanah liat yang digunakan dalam rangkaian upacara keagamaan Hindu di Bali.
Gerabah tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan upacara, mulai dari odalan, piodalan hingga upacara ngaben.
Khusus untuk kebutuhan upacara pengabenan, permintaannya menjadi salah satu yang paling besar. Dalam satu kali pemesanan, pelanggan tetap dapat memesan hingga sekitar 4.000 buah berbagai jenis gerabah.
Pesanan tersebut datang secara berkala, rata-rata setiap dua hingga tiga minggu. Kondisi ini membuat produksi tetap berjalan meski gerabah tradisional menghadapi persaingan dengan berbagai produk modern.
"Kalau sudah ada upacara besar, pesanannya bisa ribuan. Pembeli biasanya datang langsung ke tempat kami atau memesan lebih dulu karena sudah menjadi pelanggan tetap," katanya.
Produk gerabah dari Banjar Basang Tamiang tersebut dipasarkan ke berbagai wilayah di Bali. Pengepul maupun pelanggan tetap datang langsung ke lokasi produksi untuk mengambil pesanan sesuai kebutuhan upacara.
Namun, di balik proses produksi yang masih mempertahankan cara tradisional, tantangan terbesar justru berada pada ketersediaan bahan baku.
Tanah liat diperoleh dari sejumlah wilayah di Bali sehingga tidak hanya bergantung pada satu lokasi. Dalam sekali pembelian bahan baku, Subarana mengeluarkan modal sekitar Rp1 juta.
Proses pembuatan gerabah membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Setelah dibentuk secara manual, gerabah dijemur menggunakan sinar matahari hingga benar-benar kering sebelum masuk ke tahap pembakaran.
Satu kali pembakaran mampu menampung ratusan unit gerabah. Proses tersebut masih memanfaatkan kayu bakar, jerami serta bahan bakar tradisional lainnya.
Saat ini, usaha gerabah tersebut melibatkan delapan orang tenaga kerja yang seluruhnya berasal dari lingkungan keluarga. Pola usaha keluarga menjadi salah satu kekuatan dalam menjaga kualitas sekaligus mempertahankan teknik pembuatan gerabah tradisional yang diwariskan lintas generasi.
Untuk memperkuat modal usaha, Subarana memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp100 juta dengan tenor lima tahun.
Pembiayaan tersebut digunakan sebagai tambahan modal kerja, terutama untuk membeli bahan baku, memenuhi kebutuhan produksi ketika pesanan meningkat serta mendukung keberlangsungan usaha keluarga.
"KUR sangat membantu, terutama ketika pesanan sedang banyak. Modal bisa dipakai membeli bahan baku lebih awal sehingga produksi tidak terhambat," ungkapnya.
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya mengatakan, BRI berkomitmen mendukung pelaku UMKM yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga berperan dalam menjaga warisan budaya daerah.
Menurutnya, usaha gerabah tradisional yang dijalankan Nyoman Subarana menunjukkan bahwa UMKM memiliki fungsi ganda, yakni menggerakkan perekonomian masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan budaya lokal yang menjadi identitas Bali.
"BRI melihat pelaku UMKM seperti Bapak Nyoman Subarana bukan hanya menjalankan aktivitas ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan tradisi yang telah diwariskan selama puluhan tahun. Melalui pembiayaan KUR, kami ingin memastikan mereka memiliki akses permodalan yang memadai sehingga mampu meningkatkan kapasitas usaha tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang menjadi kekuatan utamanya," ujar Hery.
Ia menambahkan, keberlangsungan usaha berbasis budaya memiliki efek berganda terhadap perekonomian daerah. Selain membuka lapangan pekerjaan, usaha tersebut turut menjaga rantai pasok ekonomi lokal mulai dari penyedia bahan baku, tenaga kerja hingga memenuhi kebutuhan masyarakat dalam pelaksanaan berbagai upacara adat.
"BRI percaya UMKM berbasis kearifan lokal memiliki daya tahan yang kuat karena tumbuh bersama kebutuhan masyarakat. Oleh sebab itu, kami akan terus memperluas akses pembiayaan produktif agar pelaku usaha tradisional semakin berkembang, lebih sejahtera, dan mampu mewariskan usahanya kepada generasi berikutnya," tutup Hery.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/adv
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4513 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2329 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 1973 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1600 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1041 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun