Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Harga Kapas Anjlok, Petani Karangasem Beralih ke Jagung dan Kacang

Jumat, 4 September 2026, 21:20 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Harga Kapas Anjlok, Petani Karangasem Beralih ke Jagung dan Kacang.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, KARANGASEM.

Tanaman kapas yang pernah menjadi salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Karangasem kini semakin ditinggalkan petani. Harga jual yang terus merosot, hasil panen tidak menentu, serta minimnya bantuan bibit membuat minat petani menanam kapas semakin rendah.

Penurunan minat tersebut terlihat di sejumlah wilayah yang sebelumnya menjadi sentra tanaman kapas. Petani mulai mengurangi luas lahan untuk kapas, bahkan sebagian memilih menggantinya dengan jagung dan kacang tanah yang dinilai lebih menguntungkan.

Kondisi itu salah satunya terjadi di Banjar Tegalanglangan, Desa Datah, Kecamatan Abang. Petani kapas setempat, Gede Kari, mengaku tahun ini hanya menanam kapas di lahan seluas sekitar 5 are. Kari tidak membeli bibit baru untuk musim tanam kali ini. Ia memanfaatkan sisa bibit bantuan pemerintah yang masih dimilikinya sejak tahun sebelumnya.

“Harganya anjlok, sekarang hanya Rp7.000 per kilogram. Saat panen saya hanya dapat 20 kilogram bulan lalu,” kata Kari, Jumat (4/9/2026).

Harga tersebut terpaut jauh dibandingkan saat Kari pertama kali menanam kapas. Ia mengatakan harga kapas kala itu sempat mencapai Rp25 ribu per kilogram. Seiring waktu, harga terus mengalami penurunan hingga berada di kisaran Rp7.000 per kilogram. Persoalan semakin berat karena petani juga menghadapi kondisi cuaca yang sulit diprediksi sehingga berisiko menurunkan hasil panen.

“Tahun ini saya nggak dapat bantuan bibit kapas, kurang tahu untuk petani lainnya. Yang jelas karena faktor cuaca hasil panen tak sebanding dengan tenaga dan waktu jadi rugi,” ujarnya.

Bagi petani, persoalan kapas bukan hanya mengenai harga jual. Tidak adanya bantuan bibit pada 2026 juga menjadi salah satu faktor yang membuat petani semakin enggan menanam kapas menggunakan modal sendiri.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (Distan PP) Karangasem, I Made Sugiartha, membenarkan bahwa pemerintah daerah tidak melakukan pengadaan bibit kapas bagi petani pada tahun ini.

Menurut Sugiartha, kondisi tersebut berkaitan dengan terbatasnya ketersediaan bibit di Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas). Selain itu, keterbatasan anggaran membuat pemerintah harus menetapkan prioritas program yang dinilai memberikan manfaat lebih langsung bagi masyarakat.

“Faktanya memang seperti itu, terus menurun karena memang bantuan bibit yang kami berikan juga menurun. Bahkan tahun ini dan tahun depan tidak ada bantuan bibit untuk petani kapas di Karangasem,” ujar Sugiartha.

Data luas lahan dan produksi menunjukkan penurunan tanaman kapas di Karangasem dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, luas lahan kapas masih mencapai 82 hektare dengan produksi sekitar 62 ribu kilogram. Pada 2024, luas tanam turun menjadi 45 hektare, meskipun produksi masih tercatat sekitar 49 ribu kilogram.

Penurunan kembali terjadi pada 2025. Luas lahan kapas menyusut menjadi sekitar 40 hektare, sedangkan produksinya merosot menjadi sekitar 27 ribu kilogram.

Sugiartha mengatakan penurunan tersebut terjadi seiring berkurangnya bantuan bibit dari pemerintah serta semakin sedikitnya kelompok tani yang berminat mempertahankan tanaman kapas.

Meski demikian, sebagian petani masih berupaya mempertahankan kapas secara swadaya. Namun, luas lahan dan produksi kapas di Karangasem pada 2026 hingga kini masih dalam proses pendataan.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/krs



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami