Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Menteri Nusron dalam Kuliah Umum Politeknik Agraria STPN: Dialektika Berpikir Tak Boleh Mati

Senin, 7 September 2026, 20:42 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok ATR/BPN/Menteri Nusron dalam Kuliah Umum Politeknik Agraria STPN: Dialektika Berpikir Tak Boleh Mati.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, NASIONAL.

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, mengingatkan pentingnya menjaga tradisi dialektika berpikir di lingkungan akademik. Ia menilai pertukaran gagasan dan perbedaan pandangan menjadi bagian penting dalam memperkaya wawasan mahasiswa.

Pesan tersebut disampaikan Nusron saat memberikan sambutan dalam Kuliah Umum di Politeknik Agraria STPN, Sleman, D.I. Yogyakarta, Jumat (4/9/2026). Kuliah umum tersebut turut menghadirkan Rocky Gerung sebagai narasumber.

Nusron meminta lingkungan kampus yang merupakan sekolah semi-kedinasan tersebut tetap membuka ruang bagi berbagai pemikiran, termasuk pandangan kritis terhadap negara maupun kebijakan pemerintah.

“Tradisi dialektika berpikir, tidak boleh mati di mana pun kita berada. Sebagai insan akademik di kampus ini, meskipun kampus ini adalah sekolah semi-kedinasan, saya minta untuk tidak segan-segan untuk mengundang berbagai tokoh dari level mana pun yang sifatnya itu kritik dan kritis terhadap negara. Termasuk kritis terhadap kebijakan kita,” ujar Menteri Nusron saat memberikan sambutan dalam Kuliah Umum yang juga menghadirkan Rocky Gerung sebagai narasumber, di Politeknik Agraria STPN, Sleman, D.I. Yogyakarta, Jumat (04/09/2026).

Menurut Nusron, perbedaan pemikiran tidak semestinya dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari. Sebaliknya, pertukaran gagasan dapat membuat seseorang memperoleh sudut pandang baru.

Untuk menjelaskan pentingnya pertukaran gagasan tersebut, Nusron menggunakan perumpamaan dua buah apel yang kemudian dikaitkan dengan pemikiran Bernard Shaw.

“Kalau ada dua orang, saya sama Rocky, masing-masing punya sebuah apel, kemudian kita tukarkan masing-masing apel kita, Rocky memberikan apelnya kepada saya, saya memberikan apel saya kepada Rocky, maka jadinya tetap sama, masing-masing tetap hanya memiliki satu buah apel,” jelas Menteri Nusron.

Ia kemudian membedakan pertukaran benda dengan pertukaran pemikiran. Menurutnya, ketika dua orang saling bertukar gagasan yang berbeda, hasil yang diperoleh bukan sekadar pertukaran, melainkan tambahan perspektif.

“Tetapi kalau kita mempunyai dua pemikiran yang berbeda, kemudian pemikiran itu kita saling tukarkan, maka jadinya kita mempunyai dua buah pemikiran yang berbeda,” tutur Menteri Nusron.

Nusron berharap kuliah umum dapat menjadi salah satu ruang untuk mempertahankan tradisi bertukar gagasan di lingkungan Politeknik Agraria STPN. Dengan adanya perbedaan pandangan, mahasiswa diharapkan memiliki wawasan yang lebih luas.

“Sharing pendapat itu akan menjadikan kita mempunyai kaya akan pendapat dan kaya akan hasrat,” kata Menteri Nusron.

Kuliah umum tersebut mengangkat tema “Tanah, Negara, dan Rakyat: Memaknai Kembali Transformasi Pelayanan Pertanahan dalam Perspektif Kebangsaan”. Selain Nusron, Rocky Gerung hadir memberikan pandangan mengenai pentingnya perdebatan dalam proses pertukaran pemikiran.

Rocky menilai pemikiran justru membutuhkan ruang untuk diperdebatkan agar dapat diuji dan dikembangkan. Ia membedakan antara pikiran dengan doa yang menurutnya tidak berada dalam posisi yang sama untuk diperdebatkan.

“Pikiran, kuliah umum, kalau tidak ada yang bantah, dia jadi doa. Doa nggak boleh dibantah, pikiran harus dibantah. Itu bedanya,” ujar Rocky Gerung.

Di hadapan Taruna/i Politeknik Agraria STPN, Rocky juga menggunakan pendekatan filosofis untuk mengajak peserta menelusuri akar dari berbagai konsep dan pemikiran, termasuk dalam melihat persoalan tanah.

“Saya sengaja mengambil cara berpikir filosofi untuk membongkar akarnya. Supaya ada konsep-konsep radikal. Kita membongkar tanah untuk menemukan akar. Kita membongkar pikiran supaya tidak ada yang disembunyikan secara politis. Itu intinya,” pungkasnya.

Kuliah umum tersebut diikuti sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, seluruh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi beserta jajaran, serta lebih dari 500 Taruna/i Politeknik Agraria STPN.

Dalam pemaparannya, Rocky menyampaikan tiga pemaknaan mengenai pengelolaan tanah. Bagi masyarakat adat, tanah memiliki nilai magis karena berkaitan dengan kehidupan dan warisan leluhur.

Sementara bagi negara, tanah memiliki fungsi sosial yang diwujudkan melalui pengaturan dan hukum. Adapun bagi korporasi, tanah dipandang sebagai komoditas yang memiliki nilai bisnis.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: BPN Karangasem



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami