Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 29 Oktober 2026
1.014 Balita di Buleleng Alami Stunting, Ini Upaya Pencegahannya
BERITABALI.COM, BULELENG.
Sebanyak 1.014 balita di Kabupaten Buleleng, Bali, mengalami stunting berdasarkan data Sigizikesga per Oktober 2026. Jumlah tersebut setara dengan 3,47 persen dari total 29.183 balita yang tercatat.
Meski angka stunting tersebut berada di bawah target nasional, Dinas Kesehatan (Dinkes) Buleleng tetap memperkuat upaya pencegahan dan penanganan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendorong pemantauan pertumbuhan balita secara rutin melalui Posyandu.
Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, dr. Sucipto, mengatakan pemantauan tumbuh kembang anak perlu dilakukan secara berkala. Posyandu berperan penting dalam mendeteksi gangguan pertumbuhan sejak dini melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan balita.
Baca juga:
Budidaya Lele Desa Tulikup Tekan Stunting
Jika ditemukan indikasi masalah pertumbuhan, anak dapat segera menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan sesuai kondisinya.
“Pemenuhan protein hewani sangat penting untuk mendukung pertumbuhan anak. Karena itu, kami mengajak para orang tua untuk rutin membawa balitanya ke Posyandu agar berat badan dan tinggi badannya terpantau setiap bulan,” ujar Sucipto saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Selasa (27/10).
Selain pemantauan pertumbuhan, pemenuhan gizi menjadi perhatian dalam upaya mencegah stunting di Buleleng. Orang tua diimbau memberikan makanan bergizi yang mengandung protein hewani, seperti telur, ikan, daging, ayam, dan susu.
Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) bergizi, pemberian ASI hingga anak berusia dua tahun, serta vitamin A sesuai jadwal juga perlu diperhatikan untuk mendukung tumbuh kembang balita.
Sucipto menjelaskan, gangguan pertumbuhan pada anak perlu ditelusuri melalui pemeriksaan medis. Beberapa kondisi yang dapat memengaruhi pertumbuhan di antaranya tuberkulosis (TBC), cacingan, infeksi kronis, gangguan penyerapan nutrisi, dan anemia.
Apabila ditemukan penyakit penyerta, anak akan mendapatkan penanganan sesuai kondisi kesehatannya. Jika diperlukan, pemeriksaan dapat dilanjutkan melalui rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Selain asupan gizi dan pemeriksaan kesehatan, kebersihan lingkungan turut berpengaruh terhadap kesehatan anak. Masyarakat diimbau menggunakan air bersih, memiliki jamban yang layak, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta memastikan anak mendapatkan imunisasi dasar dan lanjutan sesuai jadwal.
“Jangan menunggu anak terlihat kurus untuk memeriksakan pertumbuhannya. Pemantauan rutin di Posyandu membantu mendeteksi masalah sejak dini sehingga anak bisa segera mendapatkan penanganan yang tepat,” tegasnya.
Dinas Kesehatan Buleleng berharap keterlibatan orang tua, tenaga kesehatan, dan masyarakat dapat terus diperkuat untuk menjaga tumbuh kembang balita. Melalui pemantauan rutin, pemenuhan gizi, dan penanganan kesehatan yang tepat, risiko gangguan pertumbuhan pada anak diharapkan dapat dicegah sejak dini.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5963 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4662 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2648 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2300 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2232 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan