Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 29 Oktober 2026
Langit Buleleng Kelabu, BMKG Pastikan Bukan Asap Karhutla
BERITABALI.COM, BULELENG.
Langit kelabu yang menyelimuti Kabupaten Buleleng, Bali, sejak Senin (26/10/2026) sempat memicu kekhawatiran masyarakat karena diduga berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan. Namun, BMKG memastikan fenomena tersebut disebabkan oleh tutupan awan Altostratus, bukan asap karhutla.
Kondisi langit yang tampak buram membuat sebagian warga bertanya-tanya mengenai penyebab berkurangnya intensitas cahaya matahari, meskipun udara di Buleleng masih terasa panas.
Salah seorang warga Desa Nagasepaha, Kecamatan Buleleng, Komang Yuda (33), mengaku melihat perubahan kondisi langit sejak awal pekan.
"Matahari ada, tapi seperti tertutup kabut. Ini mendung atau asap ya? Kalau mendung, kenapa tidak hujan dan udara terasa panas," keluhnya.
Menanggapi fenomena tersebut, Kepala Stasiun Klimatologi Bali, Aminudin Al Roniri, menegaskan bahwa langit kelabu di Buleleng terjadi akibat tutupan awan Altostratus.
Awan Altostratus merupakan jenis awan menengah yang membentuk lapisan luas hingga menutupi sebagian besar atau seluruh langit. Keberadaan awan ini dapat mengurangi intensitas cahaya matahari yang mencapai permukaan bumi sehingga langit terlihat keabu-abuan, meskipun suhu udara masih terasa panas.
"Awan inilah yang membuat langit di Buleleng terlihat keabu-abuan dan cahaya matahari menjadi tidak seterang biasanya, meskipun cuaca terasa terik. Kondisi atmosfer ini juga memengaruhi penglihatan pada malam hari, sehingga bulan pun tampak lebih samar meskipun sedang berada dalam fase purnama," terangnya.
Baca juga:
TNBB Petakan 3.000 Hektare Rawan Karhutla
BMKG Tidak Mendeteksi Asap di Bali
Aminudin menjelaskan, Tim Kerja Operasional Meteorologi BMKG Wilayah III Badung telah memantau sebaran asap di Indonesia menggunakan citra satelit. Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, tidak terdeteksi adanya sebaran asap di wilayah Bali.
Dengan demikian, fenomena langit kelabu yang terjadi di Buleleng tidak berkaitan dengan asap karhutla dari Kalimantan, melainkan kondisi atmosfer akibat keberadaan awan Altostratus.
Menurut Aminudin, awan jenis ini umumnya dapat bertahan selama satu hingga tiga hari. Lama bertahannya awan bergantung pada kecepatan angin di lapisan menengah atmosfer serta pergerakan sistem cuaca di sekitar wilayah Bali.
Baca juga:
Karhutla Kembali Membara di Kintamani
"Awan Altostratus merupakan jenis awan yang terbentuk dalam lapisan tebal dengan cakupan area yang sangat luas. Karena ukurannya yang masif dan pergerakannya yang cenderung lambat, efek langit keabu-abuan atau buram ini bisa menetap cukup lama di suatu daerah," jelasnya.
Fenomena langit kelabu tersebut dapat berakhir ketika lapisan awan berangsur-angsur pecah dan menipis akibat dorongan angin yang lebih kuat. Kondisi ini memungkinkan sinar matahari kembali menembus atmosfer sehingga langit terlihat lebih cerah.
Sebaliknya, apabila lapisan awan semakin menebal, kondisi tersebut dapat memicu hujan ringan hingga sedang yang berlangsung relatif lama.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5971 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4664 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2650 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2304 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2232 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan