Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID: —


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Langit Buleleng Kelabu, BMKG Pastikan Bukan Asap Karhutla

Rabu, 28 Oktober 2026, 16:21 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Langit Buleleng Kelabu, BMKG Pastikan Bukan Asap Karhutla.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BULELENG.

Langit kelabu yang menyelimuti Kabupaten Buleleng, Bali, sejak Senin (26/10/2026) sempat memicu kekhawatiran masyarakat karena diduga berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan. Namun, BMKG memastikan fenomena tersebut disebabkan oleh tutupan awan Altostratus, bukan asap karhutla.

Kondisi langit yang tampak buram membuat sebagian warga bertanya-tanya mengenai penyebab berkurangnya intensitas cahaya matahari, meskipun udara di Buleleng masih terasa panas.

Salah seorang warga Desa Nagasepaha, Kecamatan Buleleng, Komang Yuda (33), mengaku melihat perubahan kondisi langit sejak awal pekan.

"Matahari ada, tapi seperti tertutup kabut. Ini mendung atau asap ya? Kalau mendung, kenapa tidak hujan dan udara terasa panas," keluhnya.

Menanggapi fenomena tersebut, Kepala Stasiun Klimatologi Bali, Aminudin Al Roniri, menegaskan bahwa langit kelabu di Buleleng terjadi akibat tutupan awan Altostratus.

Awan Altostratus merupakan jenis awan menengah yang membentuk lapisan luas hingga menutupi sebagian besar atau seluruh langit. Keberadaan awan ini dapat mengurangi intensitas cahaya matahari yang mencapai permukaan bumi sehingga langit terlihat keabu-abuan, meskipun suhu udara masih terasa panas.

"Awan inilah yang membuat langit di Buleleng terlihat keabu-abuan dan cahaya matahari menjadi tidak seterang biasanya, meskipun cuaca terasa terik. Kondisi atmosfer ini juga memengaruhi penglihatan pada malam hari, sehingga bulan pun tampak lebih samar meskipun sedang berada dalam fase purnama," terangnya.

BMKG Tidak Mendeteksi Asap di Bali

Aminudin menjelaskan, Tim Kerja Operasional Meteorologi BMKG Wilayah III Badung telah memantau sebaran asap di Indonesia menggunakan citra satelit. Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, tidak terdeteksi adanya sebaran asap di wilayah Bali.

Dengan demikian, fenomena langit kelabu yang terjadi di Buleleng tidak berkaitan dengan asap karhutla dari Kalimantan, melainkan kondisi atmosfer akibat keberadaan awan Altostratus.

Menurut Aminudin, awan jenis ini umumnya dapat bertahan selama satu hingga tiga hari. Lama bertahannya awan bergantung pada kecepatan angin di lapisan menengah atmosfer serta pergerakan sistem cuaca di sekitar wilayah Bali.

"Awan Altostratus merupakan jenis awan yang terbentuk dalam lapisan tebal dengan cakupan area yang sangat luas. Karena ukurannya yang masif dan pergerakannya yang cenderung lambat, efek langit keabu-abuan atau buram ini bisa menetap cukup lama di suatu daerah," jelasnya.

Fenomena langit kelabu tersebut dapat berakhir ketika lapisan awan berangsur-angsur pecah dan menipis akibat dorongan angin yang lebih kuat. Kondisi ini memungkinkan sinar matahari kembali menembus atmosfer sehingga langit terlihat lebih cerah.

Sebaliknya, apabila lapisan awan semakin menebal, kondisi tersebut dapat memicu hujan ringan hingga sedang yang berlangsung relatif lama.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rat



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami