Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 23 September 2026
Ahli Virologi Unud Respons Soal Kebijakan Lepas Masker
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Ahli Virologi Universitas Udayana Bali Prof Dr drh I Gusti Ngurah Kade Mahardika menanggapi soal kebijakan lepas masker di ruang terbuka yang dibolehkan Presiden Jokowi.
Ia menyatakan bahwa memang pada dasarnya melepas masker di ruangan terbuka tanpa kerumunan memang memiliki risiko yang rendah terkena paparan virus.
Ia menjelaskan bahwa virus tidak dapat bertahan lama di udara yang panas dan lembab seperti di Indonesia. Namun beda halnya dengan apabila berada di dalam ruangan dan ber-AC, penggunaan masker masih diperlukan.
Hal itu karena ruangan ber-AC suhu udara rendah, kering kelembaban rendah, ruang tertutup sehingga resikonya jauh lebih tinggi.
Sehingga izin dari Presiden Joko Widodo untuk masyarakat boleh masker saat berada di luar ruang dan tidak dalam kerumunan memang anjuran itu tepat. Terlebih saat ini situasi pandemi dalam kacamata Prof. Mahardika sudah terkendali sejak akhir Maret 2022.
“Indonesia merupakan wilayah dengan iklim panas dan lembab, virus tidak akan bertahan lama di udara open space, jadi memang rendah risiko bukan berarti zero resiko, dari awal COVID-19 sudah saya sampaikan bahwa tidak apa-apa tanpa masker di ruangan terbuka,”
Menurutnya, presiden mengemukakan pernyataan itu pasti sudah dipertimbangkan dalam-dalam, beberapa faktor yang disampaikan Prof Mahardika diantaranya dari jumlah orang yang memerlukan perawatan di rumah sakit jauh menurun.
Akan tetapi, ia mewanti-wanti untuk memperhatikan kondisi hingga tiga bulan ke depan.
"Paling tidak asumsi mulai menurun akhir Maret sehingga dipantau 3 bulan berikutnya apakah kondisi konsisten stabil dan semakin membaik,” tutur dia.
Tentu di samping itu, dijelaskan Prof Mahardika penyumbang penurunan kasus COVID-19 di Indonesia diantaranya suhu udara yang panas dan lembab, percepatan vaksinasi dan PPKM, lalu Omicron.
Menariknya di sini pernyataan Prof Mahardika yang menyebut bahwa Varian COVID-19 Omicron ialah ibarat vaksin alami.
“Omicron menyediakan vaksin alami. Munculnya Omicron ini menandakan akhir dari pandemi, jadi pergilah ke tempat ibadah puji syukur end of the game," ujar dia.
Disinggung mengenai transisi pandemi ke endemi, menurut Prof Mahardika, kembali lagi pada perkembangan situasi yang dievaluasi setiap 3 bulan sekali. Karena penentuan status endemi adalah faktor politis, sedangkan dari sisi scientific melihat perkembangan dalam periode tertentu.
"Kita perlu memantau paling tidak dalam periode tertentu tidak bisa hanya satu hari, satu bulan minimal 3 bulan bisa dipantau perkembangannya setiap 3 bulan. Secara politis peran WHO tentu ada dan pemerintah Indonesia, karena tidak hanya melihat keadaan sekarang tetapi melihat risiko semua penduduk dari negara - negara lain," bebernya. (sumber:Suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8321 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5752 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3598 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2433 Kali
ABOUT BALI
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar