Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 5 Agustus 2026
Belasan Babi Mati di Karangasem dengan Gejala yang Hampir Sama
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Kasus kematian ternak Babi di Karangasem terus bertambah, kali ini sejak beberapa hari terakhir belasan Babi mati di wilayah Dusun Bugbug Samuh, Desa Bugbug, Kecamatan / Kabupaten Karangasem.
[pilihan-redaksi]
Anehnya, kebanyakan ternak Babi yang mati di wilayah tersebut diawali dengan ciri-ciri yang sama yaitu tidak mau makan dan lemas hingga berujung kematian.
Setidaknya berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, sudah ada belasan ternak Babi yang mati. Kasus terakhir menimpa ternak milik Ni Ketut Kari (60) warga Dusun Bugbug Samuh. Penyakit misterius menyerang enam ekor anakan Babi berusia 2 bulan beserta indukannya milik Kari.
"Yang mati pertama itu enam ekor anakan sudah berusia dua bulan siap jual dengan gejala yang hampir sama, setelah anakn dua hari yang lalu indukannya juga ikut mati," tutur Ni Ketut Kari saat ditemui media ini dirumahnya pada Senin (24/02/2020).
Menurut Kari, kasus kematian ternak memang kerap kali dialaminya selama sepuluh tahunan lebih menjadi peternak Babi hanya saja kasusnya tidak seperti saat ini dimana penyakit menyerang hingga membuat seluruh ternak hingga indukannya mati.
Akibatnya, saat ini Kari tidak lagi memiliki ternak yang dijadikan sebagai salah satu penunjang perekonomian keluarganya. Dengan kematian ternaknya tersebut Kari mengaku mengalami kerugian hingga jutaan rupiah.
"Ya lumayan lah, anakan itu kira kira harganya Rp. 600 ribuan per ekor sedangkan indukannya kalo dijual sekitar Rp. 2 jutaan," ungkapnya.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh peternak lainnya Nyoman Sumantra, kasus dengan gejala yang sama juga sempat menyerang ternak Babi peliharaannya kurang dari satu bulan yang lalu yang mengakibatkan lima ekor anakan Babi miliknya mati.
"Ya baru-baru ini ada lagi anakan babi yang mati, total sudah lima ekor yang mati," ungkap Sumantra.
Kepala Wilayah Dusum Bugbug Samuh, Ni Nyoman Citera Darma Wijayanti mengaku cukup kesulitan mendata ternak warga yang mati karena selama ini warga enggan untuk melapirkan atau hanya sekedar memberikan informasi kepada dirinya.
"Warga tidak ada yang melapor, tetapi begitu mendengar adanya kasus kematian ternak saya langsung datang kerumahnya," ujarnya saat mendampingi media ini melihat ternak warga.
Sementara itu, Kasi Keswan UPTD Puskeswan Kabupaten Karangasem, I Nengah Kepeng menghimbau, apabila ada ternak warga dimanapaun diwilayah Kabupaten Karangasem agar dilaporkan. Meskipun ternak yang mati hanya satu namun informasi tersebut sangatlah penting untuk melakukan tindakan pencegahan sehingga penyakit tidak sampai mengenai ternak yang lainnya.
"Kita imbau kepada masyarakat agar melaporkan jika ada kematian ternak agar pihak UPTD bisa langsung melakukan penanganan untuk mencegah penularan ke hewan ternak lainnya," tandasnya saat dikonfirmasi.
Awalnya enam ekor anakan Babi milik kari mendadak lemas dan tidak mau memakan makanan yng diberikan padahal makanan itu adalah makanan yang sama diberikan sebelumnya. Setelah itu, Babi kemudian berangsur - angsur lemas hanya bertahan beberapa hari sampai akhirnya mati.
Reporter: bbn/krs
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 1245 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1138 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 898 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 821 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 572 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun