Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 27 April 2026
BMKG Prediksi Bali Masuk Kemarau Lebih Awal, Pemda Diminta Antisipasi
BERITABALI.COM, JAKARTA.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah Bali akan mengalami musim kemarau lebih awal pada tahun 2026 dibandingkan pola klimatologi normal.
Prediksi tersebut sejalan dengan kondisi iklim global yang menunjukkan berakhirnya fenomena La Niña Lemah pada Februari 2026. Saat ini kondisi iklim telah bergeser menuju fase Netral dan berpotensi berkembang menuju El Niño pada pertengahan tahun.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan indeks ENSO berada pada angka -0,28 atau dalam kondisi Netral. Kondisi tersebut diperkirakan akan bertahan hingga Juni 2026.
“Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun,” kata Faisal dalam Konferensi Pers Prakiraan Awal Musim Kemarau 2026 di Gedung Multi-Hazard Early Warning System, Jakarta, Rabu (4/3).
BMKG juga mencatat bahwa peralihan Angin Baratan atau Monsun Asia menuju Angin Timuran atau Monsun Australia menjadi penanda dimulainya musim kemarau di Indonesia.
Pada April 2026, sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau. Wilayah tersebut meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi.
Baca juga:
BMKG: Bali Siaga Hujan Lebat Hari Ini
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa musim kemarau akan terus meluas ke berbagai wilayah dalam beberapa bulan berikutnya.
“Wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua,” ujarnya.
BMKG merinci bahwa sebanyak 184 ZOM atau 26,3 persen wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026. Sementara itu, 163 ZOM atau sekitar 23,3 persen wilayah lainnya menyusul pada Juni 2026.
Dari total wilayah tersebut, sebanyak 325 ZOM atau 46,5 persen diprediksi mengalami awal musim kemarau lebih cepat dari biasanya. Sementara 173 ZOM atau 24,7 persen diperkirakan sesuai dengan pola normal, dan 72 ZOM atau 10,3 persen mengalami kemarau lebih lambat.
Berdasarkan analisis BMKG, puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada Agustus 2026. Periode ini mencakup sekitar 429 ZOM atau 61,4 persen wilayah Indonesia.
Pada periode tersebut, kondisi kering diperkirakan meluas ke berbagai wilayah termasuk Bali dan Nusa Tenggara.
Selain itu, BMKG juga memproyeksikan sifat musim kemarau tahun 2026 secara umum akan lebih kering dari kondisi normal di sebagian besar wilayah Indonesia.
Sebanyak 451 ZOM atau sekitar 64,5 persen wilayah diprediksi mengalami kemarau dengan sifat Bawah Normal atau lebih kering dari biasanya, sementara 245 ZOM atau 35,1 persen wilayah lainnya berada pada kondisi normal.
“Dengan kondisi ini, durasi musim kemarau di 57,2% wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya,” tambah Faisal.
BMKG mengingatkan pemerintah daerah, sektor pertanian, hingga masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi menghadapi potensi dampak musim kemarau yang lebih panjang.
Di sektor pertanian, petani diimbau menyesuaikan pola tanam dengan memilih varietas tanaman yang lebih hemat air, tahan kekeringan, serta memiliki masa panen lebih singkat.
“Langkah ini harus dibarengi dengan penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi demi menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional PLTA di sektor energi,” ujarnya.
Selain pengelolaan sumber daya air, pemerintah daerah juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak lingkungan seperti penurunan kualitas udara hingga potensi kebakaran hutan dan lahan.
“BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (Early Action) oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia,” pungkasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3734 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1675 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang