Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 30 April 2026
Jejak Hidup I Wayan Sugita, Legenda Drama Gong Bali yang Tutup Usia
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Dunia seni pertunjukan Bali dan pendidikan Hindu berduka. Seniman drama gong legendaris asal Samplangan, Gianyar, sekaligus Guru Besar Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Prof. Dr. Drs. I Wayan Sugita, M.Si, tutup usia pada Rabu (7/1/2026) malam di RSU Wangaya, Denpasar.
Kepergian Prof. I Wayan Sugita meninggalkan duka mendalam bagi kalangan seniman dan pegiat budaya Bali. Sosok yang dikenal luas lewat perannya sebagai Patih Agung dalam sendratari drama gong di panggung Art Center Denpasar itu mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 19.30 WITA, setelah berjuang melawan komplikasi penyakit.
Almarhum diketahui memiliki riwayat penyakit jantung sejak 1998 dan sempat mengalami stroke pada 2017. Kondisinya kembali menurun setelah mengalami stroke berulang pada 22 Desember 2025.
Putra almarhum, Tilem Pastika, mengungkapkan bahwa ayahnya sempat menjalani perawatan intensif akibat infeksi paru-paru dan menunjukkan perkembangan hingga diperbolehkan pulang ke rumah pada 2 Januari 2026.
“Namun di rumah kondisinya tiba-tiba drop. Kemarin sore kembali dilarikan ke IGD karena penumpukan lendir di tenggorokan yang masuk ke paru-paru. Terjadi henti napas dan henti jantung, dan beliau dinyatakan meninggal dunia di IGD RSU Wangaya,” ujar Tilem Pastika.
Hingga Kamis (8/1/2026), jenazah Prof. I Wayan Sugita masih berada di ruang pemulasaraan RSU Wangaya. Suasana rumah duka di Samplangan, Gianyar, tampak sepi. Pelaksanaan upacara adat dan rangkaian prosesi masih menunggu keputusan keluarga bersama desa adat setempat.
Prof. I Wayan Sugita lahir di Banjar Bukit Batu, Samplangan, Gianyar, pada 8 Mei 1965. Namanya mulai dikenal luas pada 1984 setelah meraih penghargaan pemeran pria utama terbaik dalam Festival Drama Gong Remaja se-Bali. Pada tahun yang sama, ia tampil bersama Sekaa Drama Gong Saraswati mewakili Kabupaten Gianyar dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) dan meraih Juara II.
Dari perjalanan tersebut, Sugita kemudian menghimpun para pemenang festival dan mendirikan Panjamu Asrama, yang menjadi tonggak penting kiprahnya di dunia seni pertunjukan Bali. Perannya sebagai Patih Agung, tokoh antagonis yang kuat dan berkarakter, melekat erat dalam ingatan penikmat drama gong lintas generasi.
Dalam pengabdiannya, almarhum tercatat membina dan bergabung dengan berbagai sekaa drama gong ternama, seperti Wira Bhuana, Kerthi Bhuana, Bintang Remaja Gianyar, hingga Bandana Budaya. Bersama Bintang Remaja Gianyar, ia berhasil meraih Juara I PKB 1993. Setahun kemudian, Bandana Budaya yang dibinanya meraih Juara II PKB 1994, serta mengantarkan sekaa drama gong duta Kota Denpasar meraih Juara I PKB 1995.
Selain berkarya di dunia seni, Prof. I Wayan Sugita juga mengabdikan diri di dunia akademik sebagai dosen di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dan meraih gelar Guru Besar pada Oktober 2023.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3855 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1803 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang