Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 7 Agustus 2026
Jelang Akhir Tahun, Tingkat Inflasi di Buleleng Masih Terkendali
BERITABALI.COM, BULELENG.
Menjelang akhir tahun 2019, tingkat inflasi di Buleleng masih di garis aman atau masih terkendali. Itu dibuktikan dengan angka inflasi sebesar 1,92 persen. Angka ini masih di bawah target yang ditentukan yaitu 3,5 persen.
Hal tersebut diungkapkan Wakil Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG saat ditemui usai memimpin High Level Meeting (HLM) Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Buleleng di Ruang Rapat Lobi Kantor Bupati Buleleng, Kamis (28/11).
Wabup Sutjidra menjelaskan angka sebesar 1,92 persen masih di bawah target yang ditentukan yaitu 3,5 persen. Bahkan, Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bali di Denpasar yang ikut hadir pada HLM ini, memproyeksikan inflasi di Buleleng khususnya di Kota Singaraja mencapai dua persen sampai dengan akhir tahun. TPID bersama dengan stakeholder terkait diharapkan mampu menjaga tren positif ini.
“Angka dua persen tersebut bisa terjadi jika tidak ada gejolak yang sangat berarti,” jelasnya.
Sektor pertanian masih menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi tingkat inflasi. Produk-produk pertanian seperti cabai rawit, bawang merah, bawang putih, dan juga beras. Pada HLM ini didiskusikan bersama dengan stakeholder terkait bagaimana menangani tingkat inflasi yang terjadi. Salah satunya dengan melibatkan PD Pasar.
“Termasuk distribusi hasil-hasil pertanian dan mengantisipasi inflasi di Hari Raya Hindu,” ujar Wabup Sutjidra.
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Rizki Ernadi Wimanda menyebutkan Bank Indonesia sendiri telah menggelontorkan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) di Buleleng. Program ini dikhususkan untuk peningkatan produksi bawang merah dan bawang putih. Ini dilakukan untuk meredam laju tingkat inflasi yang mana banyak disebabkan oleh kenaikan harga komoditi tersebut.
“Kami terus pantau produksinya sehingga diharapkan terus membaik dan diikuti oleh petani-petani yang lain,” sebutnya.
Disinggung mengenai stimulus bagi petani, dirinya menambahkan untuk stimulus dalam bentuk subsidi langsung memang tidak ada. BI sendiri bukan lembaga atau institusi yang berwenang seperti Kementerian Pertanian. BI tidak dalam kapasitas memberikan subsidi langsung atau khusus melainkan memberikan pendampingan bagaimana cara mengolah produk pertanian agar produksinya meningkat.
“Jadi, subsidi khusus seperti kredit lunak tidak ada. Jika seandainya petani memerlukan alat-alat produksi bisa melalui PSBI yang sudah kita jalankan,” tandas Rizki Ernadi Wimanda.
Reporter: Humas Buleleng
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4244 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1447 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 944 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 876 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 767 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun