Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 26 Oktober 2026
Kisah Tokoh PKI Kebal Peluru, Mati Usai Nyanyi Indonesia Raya
Sejarah Kelam G30S 1965 di Bali (10)
BERITABALI.COM, BANGLI.
Kisah kelam pembantaian orang-orang yang dituding anggota atau simpatisan PKI juga terjadi di Kabupaten Bangli.
Seperti yang disampaikan Made Suganda, yang saat itu baru duduk di bangku SMP kelas 1 di Kota Bangli.
Made Suganda yang waktu itu tinggal di Kelurahan Kawan, mengaku cukup sering melihat hal-hal sadis yang berhubungan dengan pembunuhan orang-orang yang dituduh anggota Parta Komunis Indonesia (PKI).
Meski baru duduk di kelas 1 SMP, Made mengaku sering melihat eksekusi para anggota PKI dari jarak yang cukup dekat.
"Pernah saya melihat dua orang pemuda yang dituding PKI, berjalan menuju Rumah Sakit Bangli, bagian kepalanya terlihat habis ditebas senjata tajam, darah bercucuran dari kepala dua pemuda yang berumur sekitar 25-30 tahun itu, bahkan bagian otak salah satunya kelihatan "klebut-klebut", tapi anehnya mereka masih hidup," kenang Made.
Made kemudian mendengar cerita bahwa kedua pemuda ini akhirnya dihabisi tameng di kamar jenazah rumah sakit Bangli. Cerita seram lainnya yang diceritakan Made adalah soal eksekusi orang-orang PKI yang dilakukan di kuburan area Banjar Kawan Bangli.
Made sering melihat orang-orang PKI yang akan dieksekusi ternyata kebal dari tembakan peluru atau bacokan senjata tajam. Meski sudah ditembak berulang kali di bagian dada dan perut, namun orang-orang PKI yang akan dibunuh tak kunjung meninggal dunia.
"Sampai-sampai "tamengnya" (algojo) kewalahan dan mengatakan "sukeh sajan ngitungang jeleme ne (susah sekali membunuh orang PKI yang kebal ini)," kenang Made.
Orang PKI yang kebal tembakan peluru, akhirnya meminta kepada algojo agar berhenti menembaknya.
"Sampunang tiang tembake, tusuk gen (jangan saya ditembak, tusuk saja)," ujar salah satu orang PKI yang akan dibunuh, tutur Made.
Akhirnya orang PKI laki-laki yang kebal tembakan peluru tersebut tewas setelah ditusuk tameng di bagian alat kelaminnya (penis).
Cerita lainnya tentang eksekusi adalah pada saat eksekusi salah satu pentolan PKI di Bangli. Sebelum dibunuh oleh Tameng, tokoh PKI Bangli ini meminta izin untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Usai menyanyi Indonesia Raya, tameng langsung membunuh tokoh PKI ini dengan tusukan pedang.
Saat pembunuhan anggota PKI tahun 1965, Made Suganda juga mengaku kehilangan salah satu gurunya di SMP yang bernama Wagiman, yang merupakan guru seni suara dan seni gambar.
Wagiman, guru asal Solo, yang baru saja menikah 'diambil' dan kemudian dibunuh bersama istrinya. Wagiman dibunuh karena tergabung dalam LEKRA, yakni Lembaga Kebudayaan Rakyat, sebuah organisasi kebudayaan sayap kiri yang dekat dengan PKI.
"Pak Wagiman ini orangnya sangat baik, pintar, ramah, sangat bagus saat mengajar siswa di SMP. Saat peristiwa 1965, ia baru saja menikah, dan bersama isrinya ia dikumpulkan di balai warga dan kemudian dieksekusi,"kenang Made Suganda, seperti yang diceritakan dalam buku "Bali Jadul".
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5825 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4596 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2562 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2205 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2190 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan