Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 14 Agustus 2026
Krisis Energi Melanda Dunia, Negara Ini Paling Merana
BERITABALI.COM, DUNIA.
Badan Energi Internasional (IEA) menyebut negara-negara berkembang di dunia merupakan korban paling 'menyedihkan' dari krisis energi yang terjadi saat ini. Fakta ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol.
"Bukan Amerika Serikat (AS) yang akan paling menderita dari harga energi yang tinggi," kata Birol, dikutip CNBC International, Rabu (26/10/2022).
Birol mengatakan mereka yang akan terkena dampak paling parah termasuk negara-negara pengimpor minyak di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Ini akibat harga impor yang lebih tinggi dan mata uang negara mereka yang lebih lemah.
Negara-negara pengimpor minyak Timur Tengah dan Afrika Utara, termasuk Djibouti, Sudan, Maroko dan Pakistan, juga menjadi salah satu dari korban krisis energi.
"Kita berada di tengah-tengah krisis energi global pertama yang sesungguhnya," kata Birol. "Dunia kita belum pernah menyaksikan krisis energi dengan kedalaman dan kompleksitas ini."
Dia menambahkan bahwa pasar minyak akan terus melihat volatilitas selama perang Rusia di Ukraina berlangsung.
Belum lama ini, OPEC+ juga setuju untuk memberlakukan pengurangan produksi pada awal Oktober. Langkah ini diambil untuk memacu pemulihan harga minyak mentah meskipun ada seruan dari AS untuk memompa lebih banyak untuk membantu ekonomi global.
Birol menyebut keputusan itu belum pernah terjadi sebelumnya, dan menyamakan langkah dengan aliansi energi itu sama saja seperti mencetak gol bunuh diri.
Hasil dari kenaikan harga akan menjadi ekonomi yang menggoda dengan resesi, yang dia sebut akan menyebabkan lingkungan yang tidak baik untuk pembeli maupun penjual.
Birol juga mengatakan dia mengharapkan dunia untuk terus melihat harga LNG yang tinggi, mengutip ekonomi China yang pulih dan kebutuhan Eropa untuk mengimpor lebih banyak energi.
Menurut Birol, harga LNG di kawasan Asia lima kali lebih tinggi dari rata-rata lima tahun terakhir, dan tahun depan akan menghadapi tantangan yang lebih besar.
"Eropa ingin membeli LNG, China akan kembali sebagai importir LNG utama, dan sangat sedikit kapasitas LNG baru yang masuk ke pasar," katanya.
"Melonjaknya harga energi yang mengganggu pasar global dapat menawarkan dorongan yang sangat dibutuhkan untuk mendorong pemerintah agar berinvestasi untuk menjauhi energi kotor dalam transisi energi bersih," tambahnya.
Pada Mei, Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi turun perkiraan proyeksi pertumbuhan untuk negara-negara pengimpor minyak, dengan harga energi yang lebih tinggi diperkirakan akan menambah tantangan ekonomi pada negara-negara terkait.
"Harga komoditas yang lebih tinggi menambah tantangan yang berasal dari peningkatan inflasi dan utang, pengetatan kondisi keuangan global, kemajuan vaksinasi yang tidak merata, dan kerentanan dan konflik yang mendasari di beberapa negara," kata IMF dalam laporan mereka.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4515 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2330 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 1977 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1600 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1041 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun