Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 4 Agustus 2026
Lahan Sawah di Jembrana Rusak Terdampak Banjir Bandang
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Banjir bandang yang menerjang Jembrana beberapa waktu lalu, tidak hanya merendam dan merusak ratusan rumah tapi juga merusak sejumlah lahan pertanian. Salah satunya Kondisi lahan sawah yang paling parah terjadi di Kecamatan Mendoyo.
Terkait dengan kerusakan lahan padi, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Wayan Sutama saat dikonfirmasi awak media via whatsapp mengatakan, lahan berbagai komoditi yang mengalami rusak ringan 111,72 ha, rusak sedang 72,47 ha dan berat 120,78 ha. Sementara khusus tanaman padi yang rusak berat 61,31 ha se Jembrana.
Untuk lahan sawah, lanjut Sutama, yang paling rusak parah terjadi di Kecamatan Mendoyo terutama di Desa Penyaringan. Untuk di Mendoyo yang banyak kena di Subak Penyaringan dan Jagaraga.
“Dari pengamatan dan pendataan ke subak maupun petani, sebagian besar padi yang sudah menjelang panen yang rusak," ujarnya. Selasa (25/10/2022).
Sutama mengaku masih melakukan pendataan berupaya mencari bantuan untuk rancangan bantuan dan DTT. “Saat ini kami siapkan data saja dulu, mana yang rusak ringan, sedang, berat. Terutama yang berat ini dan berisiko kerugian petani," ucapnya.
“Sejumlah petani di subak wilayah Mendoyo yang sudah hampir panen, gagal lantaran lahan terendam air dan lumpur,” pungkasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 540 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 507 Kali
Harga Pertamax Series Turun Mulai 1 Agustus, Ini Rinciannya
Dibaca: 369 Kali
Bali Siaga Kekeringan, Buleleng-Jembrana Diprediksi Terdampak
Dibaca: 315 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun