Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Polisi Terus Dalami Motif Pembantaian

Senin, 17 November 2008, 18:13 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BANGLI.

Kepolisian Resort Bangli terus melakukan penyelidikan terkait kasus pembunuhan Wayan Kuplit alias Jro Simin (60) warga Banjar Alengkong Desa Songan B Kintamani. Sabtu (15/11) lalu.

 

Sebelumnya para tersangka mengungkapkan bahwsa yang menjadikan para tersangka sampai bertindak brutal yakni korban menentang pengangkatan anak yang dilakukan oleh tersangka, Jro Gede Artha Swastika.

Namun setelah dilakukan pendalaman yakni dengan memintai keterangan dari para tersangka, ternyata ada motif lain di balik berdarah itu.

Selain masalah pengangkatan anak, juga dilatari masalah uang iuran untuk upacara leluhur, “ ujar Kapolres Bangli AKBP I Putu Mahasena SH , kepada di ruang kerjanya, Senin (17/11).

Dari keterangan tersangka, korban selama ini menentang usulan tersangka Gede Artha yang menginginkan agar uang iuran tersebut dapat dibayar setengahnya saja.

 

Ini juga menjadi motif dibalik kasus pembunuhan yang menggegerkan masyarakat Bangli,” ujar Kapolres.

Kapolres Juga menyinggung terkait dengan keterangan saksi yang menyebutkan keterlibatan salah seorang warga lain yang belum ditangkap, Mahasena mengemukakan hal itu masih dalam tahap pengembangan.

Mengenai kemungkinan empat orang tersangka dijerat dengan pasal-pasal pembunuhan berencana, Mahasena belum bisa memastikan.

Untuk sementara kami belum menemukan indikasi kasus ini direncanakan, namun demikian untuk lebih pasnya lagi masih menunggu proses penyidikan,“ tegas Mahasena. 

 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/nod



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami