Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Purnama Sasih Kenam, Warga Hindu-Muslim Lombok Perang Topat di Pura Lingsar

Rabu, 7 Desember 2022, 11:46 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Purnama Sasih Kenam, Warga Hindu-Muslim Lombok Perang Topat di Pura Lingsar.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, NASIONAL.

Pada Perang Topat 2020 lalu Bupati Lombok Barat (Lobar), H Fauzan Khalid, berencana mengundang bupati dan wali kota di Bali, untuk menghadiri Perang Topat dan Pujawali di Taman Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. 

Dan persiapan Perang Topat 2022, kembali dibahas Bupati Fauzan beberapa pekan lalu. Pasalnya, perang Topat di Taman Pura Lingsar tersebut akan kembali digelar pada Kamis (8/12) besok, bertepatan pada Purnama Sasih Kenam. 

Ritual budaya yang menjadi event tahunan ini merupakan simbolisasi kerukunan umat beragama Hindu dan Muslim di Lombok. Perang Topat dan pujawali menyuguhkan pluralisme kuat yang melibatkan dua umat beragama – Islam dan Hindu. 

Menurutnya Bupati Fauzan, para kepala daerah di Bali, perlu hadir untuk turut menyaksikan asal usulnya. Fauzan mengatakan hal ini  untuk menjalin dan meningkatkan kerja sama dan kebersamaan antara Lombok-Bali. Sehingga nilai kebersamaan bisa menyebar di seluruh NKRI.

“Kegiatan ini sarat dengan simbol-simbol bahwa dua suku dan agama ini saling menghormati, saling menghargai,” ujar Fauzan Khalid. 

Bupati Fauzan dalam rapat pembahasan persiapan Perang Topat 2022 beberapa waktu lalu berharap agar di event Perang Topat selanjutnya bisa mengundang para pejabat hingga masyarakat Bali. Terlebih event tahunan ini menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Lombok Barat yang menggambarkan eratnya toleransi antar umat beragama, Hindu dengan Muslim di sana.

“Mengenai undangan, di akhir Perang Topat 2019, kita ingin di event berikutnya bisa mengundang Gubernur dan Bupati se-Bali. Tapi melihat resonansi yang terjadi saat ini. Untuk merealisasikan itu tahun ini juga sepertinya agak susah. Termasuk mengundang Menteri,” ujar Fauzan. 

Event Perang Topat ini juga saat ini tengah diusulkan oleh Dispar Lobar untuk masuk ke dalam event nasional milik Kemenparekraf, yakni Kharisma Event Nusantara (KEN).

Hingga H-2 penyelenggaraannya masyarakat Hindu setempat tengah sibuk memasang Abah-Abah atau prasarana upacara di pelataran Kemalik dan seluruh bagian Pura. Kemudian pada Rabu (7/12) hari ini, masyarakat Sasak setempat membuat Kebon Odeq, yang menjadi simbol Sasak Adigama, dilanjutkan dengan acara haul atau ritual Islam, pembacaan Al-Quran, tahlil Shalawat Nabi dan Doa yang dipimpin oleh Ulama setempat di Pejeroan, atau rumah pemangku adat Sasak.

Acara dilanjutkan dengan upacara Mendak Betara Gunung Rinjani, Gunung Agung oleh umat Hindu yang akan digelar di sepanjang jalan Lingsar, Batu Kumbung. Lalu menggelar rangkaian napak tilas Ngeliningan Kaoq, oleh umat Hindu dan masyarakat Sasak dengan mengelilingi area Kemaliq dan Pura.

Malam harinya akan disajikan hiburan rakyat, seperti Gandrung, wayang, serta tari-tarian di Bencingah Taman Lingsar. Baru kemudian pada Kamis (8/12) sore, prosesi Perang Topat akan berlangsung, dengan berbagai rangkaian adat lainnya yang akan diawali dengan upacara sembahyangan umat Hindu. Kemudian, dilanjutkan dengan pawai napak tilas dari persimpangan menuju komplek Kemalik. 

Tradisi Perang Topat lahir di sekitar tahun 1500-an. Saat agama Hindu dan Islam menyebar di Pulau Lombok secara bersamaan, potensi konflik dapat diredakan dengan tradisi Perang Topat.

Alkisah, menurut Fauzan, semula di Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, pernah didatangi seorang wali dari Demak-Jawa Tengah bernama Raden Sumilir. Kedatangannya untuk menyebarkan agama Islam. Pada saat yang relatif bersamaan, datang pula orang Hindu dari Bali untuk menyebarkan agama Hindu di Lingsar.

Dalam situasi yang mengarah ke konflik tersebut, muncul ide dari para sesepuh Muslim maupun Hindu mentransformasi potensi konflik ke dalam bentuk Perang Topat. Kini, Perang Topat merupakan tradisi turun temurun masyarakat di Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi7 Nusa Tenggara Barat.

Perang Topat ini dikatakan sudah ada sejak era Presiden Soekarno. Dan satu-satunya di Lingsar. Warga akan datang untuk mendapat biji ketupat guna ditempatkan di sawah.

Ritual tahunan yang kini dijadikan salah satu atraksi pariwisata tersebut, dihelat di Kemalik dan Pura. Usai topat dibacakan doa, warga masyarakat baik muslim maupun Hindu, saling melempar menggunakan topat.

Setelah saling lempar ketupat seukuran buah rambutan, sejumlah masyarakat mengambil dan membawa pulang. Mereka meyakini topat itu dapat menyuburkan tanaman buah. Caranya mereka menggantung di pohon atau ditaruh di sawah. Dipercaya, topat tersebut membawa keberkahan dan kesuburan baik sawah maupun tanaman.

Perang topat ini juga diramaikan dengan tarian Gendang Beleq, Baris Lingsar, Tari Perang Topat, dan Gerobak Sasak. Ritual sakral ini biasanya dilaksanakan setiap tahun pada bulan Purnama Sasih ke Pituq menurut warige (kalender) Sasak. 

Perang Topat dihelat selepas waktu Salat Asar, bertepatan dengan selesainya persembahyangan umat Hindu. Warga Sasak menyebut waktu itu sebagai raraq kembang waru atau di saat bergugurannya kembang waru sekitar pukul 17.00.

Sebagian masyarakat Lingsar meyakini bahwa upacara ini memberi berkah dengan turunnya hujan. Sementara sebagian yang lain menyebutkan, bahwa upacara ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur atas hujan yang dikaruniakan oleh Yang Maha Kuasa bagi kemakmuran dan kesuburan alam.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/lom



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami