Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 27 April 2026
Restorasi Total Besakih, Koster: Rumah Ida Bhatara Tak Boleh Reyot
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya melakukan penataan menyeluruh di Pura Agung Besakih sebagai pusat spiritual umat Hindu sekaligus simbol kesucian Bali yang harus dijaga lintas generasi.
Dalam podcast di kawasan Besakih, Rendang, Karangasem, Kamis (23/4/2026), ia menekankan bahwa penataan tidak sekadar pembangunan fisik, tetapi menjaga warisan suci leluhur Bali.
“Besakih ini bukan kawasan pariwisata biasa. Ini kawasan suci untuk menghaturkan terima kasih dan memohon berkah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Yang harus diubah adalah mindset bahwa Besakih bukan objek wisata semata, tetapi pusat spiritual yang harus dijaga kesuciannya,” tegasnya.
Ia menjelaskan, penataan tahap pertama yang mencakup parkir, perilaku, kebersihan, dan ketertiban masyarakat telah rampung. Hasilnya, pemedek kini dapat tangkil sembahyang dengan lebih nyaman, aman, dan tertib.
Perubahan juga terlihat dari meningkatnya disiplin masyarakat, mulai dari parkir yang rapi hingga kesadaran menjaga kebersihan tanpa plastik sekali pakai.
“Dulu banyak yang berjubel sembarang tempat, sampah berserakan. Sekarang setelah selesai tangkil, keluarga-keluarga makan dan minum sambil beristirahat, mereka langsung membungkus sampahnya dengan rapi dan membuang pada tempatnya. Ini berarti kesadaran masyarakat sudah tumbuh,” ujarnya.
Baca juga:
Temui 3 Menteri, Koster Gas Infrastruktur Bali, Underpass hingga Taksi Laut Segera Dibangun
Koster bahkan rutin memantau kondisi kawasan melalui CCTV hingga ke rumah jabatan gubernur, dan melihat pola disiplin masyarakat semakin membaik.
Ia juga meminta pengelolaan kawasan dilakukan profesional layaknya pusat modern, namun tetap berlandaskan nilai ngayah dan pelayanan suci.
“Saya minta pengelola agar mengelola seperti mal, harus selalu bersih dan rapi. Dulu jorok, sekarang harus tertib. Tapi semua ini bukan komersial, melainkan demi menjaga kesucian kawasan,” katanya.
Memasuki tahap kedua, pemerintah akan fokus pada penataan kawasan Parahyangan melalui restorasi 26 pelinggih yang mengalami kerusakan.
“Ini tempat memohon kerahayuan, tempat membangun kehidupan spiritual. Masa pelinggihnya lapuk, reyot, dan jamuran? Bahkan stana linggih atau rumah Ida Bhatara ada yang rusak. Kalau manusia tinggal di rumah bocor tentu tidak nyaman, apalagi ini rumah Ida Bhatara tempat umat memohon segala berkah,” katanya.
Seluruh pelinggih, termasuk pedharman, akan direstorasi total. Jika ada yang tidak mampu, akan dibantu melalui APBD. Saat ini tujuh pelinggih telah selesai diperbaiki, dan 23 lainnya akan dilanjutkan tahun ini dengan anggaran sekitar Rp203 miliar.
Ground breaking dijadwalkan pada 1 Mei bertepatan Purnama, dengan target rampung Desember 2026 setelah rangkaian IBTK.
Koster menegaskan restorasi wajib mengikuti pakem warisan leluhur, menggunakan material terbaik, serta tidak lagi berdasarkan selera pribadi.
“Selama ini renovasi dilakukan berbeda-beda, ada beton, ada bata, warna abu-abu, warna biru, kualitasnya juga beda-beda. Ada yang sesuai kemampuan dana, ada yang sesuai selera penyumbang. Ini tidak harmonis. Tempat suci tidak boleh begitu,” ujarnya.
Ia kembali mengingatkan bahwa penataan Besakih harus dilandasi ketulusan tanpa kepentingan ekonomi.
“Ini tempat suci, jangan memikirkan dampak ekonomi. Jangan pamrih. Semua harus dilakukan dengan ketulusan. Kalau kita tulus membenahi pelinggih Ida Bhatara Sesuhunan, Tuhan pasti menganugerahkan berkah yang baik juga,” katanya.
Selain aspek spiritual, tahap ketiga akan difokuskan pada pembangunan akses jalan menuju Besakih dari berbagai wilayah Bali untuk mengurangi kemacetan dan meningkatkan kenyamanan pemedek.
“Jangan sampai orang mau sembahyang malah mengumpat di jalan karena macet. Harus tenang dari rumah sampai tiba di Besakih supaya bisa khusyuk,” ujarnya.
Program ini direncanakan dimulai pada 2027 dengan dukungan pembiayaan dari kabupaten/kota yang memiliki kemampuan fiskal kuat.
Koster juga menegaskan pengelolaan kawasan harus transparan dan bebas dari praktik korupsi.
“Awalnya dari APBD Rp2,5 miliar, sekarang sudah bisa dari hasil pengelolaan sendiri. Ini pertama kali manajemen mampu menghasilkan. Tapi saya tekankan, jangan sampai ada niat yang tidak baik. Jangan ada korupsi. Harus tulus, lurus, fokus ngayah,” tegasnya.
Menurutnya, menjaga Besakih adalah bagian dari menjaga peradaban Bali sebagai tanah sakral warisan leluhur.
“Bali ini dibangun oleh orang-orang suci, oleh Dang Hyang, oleh para Mpu. Tidak boleh dibangun asal-asalan. Saya selalu mengawali pembangunan dengan memohon petunjuk dan restu Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ujarnya.
Ia menegaskan, jika penataan Besakih berhasil, pola serupa akan diterapkan di pura-pura besar lainnya di Bali.
“Kalau sukses di Besakih, berikutnya Batur. Kalau bisa seluruh pura di Bali dipolakan penataannya agar berjalan baik. Karena menjaga pura berarti menjaga peradaban Bali itu sendiri,” tutupnya.
Editor: Redaksi
Reporter: Humas Bali
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3734 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1675 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang