Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 1 Juli 2026
Subandha: Dua Calon Tidak Masalah
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Detik-detik rangkaian Pilkada Bali yang akan digelar pada awal Juli mendatang, semakin dekat saja. Dua kubu, yaitu PDI Perjuangan dan Golkar yang akan segera berkoalisi dengan KBD (Koalisi Bali Dwipa), sudah memastikan diri akan turut serta dalam pesta demokrasi ini.
Kendati waktu sudah semakin dekat, namun dua paket calon yang akan turun pada Pilgub mendatang, yaitu Mangku Pastika–Puspayoga yang diusung PDI Perjuangan, dan Cok Budi Suryawan–Nyoman Suweta yang diusung Golkar dan KBD, dikhawatirkan akan menodai proses demokrasi dalam Pilgub mendatang. Salah seorang pengamat politik, Nyoman Subandha, yang ditemui Beritabali.com pun angkat bicara mengenai masalah tersebut.
Menurut dosen Pasca Sarjana di Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) ini, hanya turunnya dua paket pada Pilgub mendatang bukanlah suatu bentuk hambatan terhadap proses demokrasi.“Bagi saya dua calon itu tidak masalah. Malahan itu sudah cukup demokratis. Masalah demokratis atau tidak, itu kan tidak dilihat dari turunnya dua pasangan calon saja.
Sama seperti Pilkada Jakarta kemarin, itu kan prosesnya juga sudah demokratis, meskipun hanya dua paket yang turun,” ujar Subandha. Ketika ditanya seperti apa ukuran demokarsi itu, Subandha mengaku demokratis atau tidaknya pelaksanaan suatu hajatan demokrasi seperti pilkada atau pemilu, dilihat dari proses menuju Pilkada atau Pemilu tersebut.
“Pemilu kita itu kurang demokratis apa lagi? Rakyat kan sudah bisa memilih sendiri siapa pemimpinnya. Nah demokratis atau tidak itu, dilihat dari proses menuju pilkada atau pemilu itu sendiri. Selama tidak ada pemaksaan atau jual beli suara, maka proses tersebut sudah dapat dikatakan demokratis,” tandas Subandha.
Reporter: bbn/eps
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun