Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 31 Oktober 2026
BPK: Transparansi Keuangan Daerah Makin Memburuk
Sanur
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Dalam tiga tahun terakhir (2004-2006) transparansi dan akuntabilitas keuangan daerah makin memburuk. Hal itu terindikasi leat laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD). Angka pemborosan saja dinilai mencapai hampir Rp 16 triliun, dan indikasi kerugian keuangan pemerintah sekitar Rp 6 triliun.
"Persentase LKPD yang mendapatkan opini 'wajar tanpa pengecualian' (WTP) dan 'wajar dengan pengecualian' (WDP) dalam tiga tahun terakhir semakin menurun setiap tahunnya," tandas Ketua BPK RI, Anwar Nasution usai acara Dialog Publik di Denpasar, Rabu (16/7).
Dari rekapituasi hasil pemeriksaan laporan keuangan daerah selama 2006 di 33 provinsi (kabupaten/kota), kata Anwar, ditemukan ada indikasi kerugian keuangan pemerintah mencapai sekitar Rp 6 triliun. Sementara yang dikatagorikan sebagai ketidakhematan/pemborosan mencapai hampir Rp 16 triliun.
Di sisi lain, menurut Anwar, LKPD dengan opini 'tidak memberikan pendapat' (TMP) dan tidak wajar (TW) justru semakin meningkat. Dia contohkan, hasil pemeriksaan atas 459 provinsi/kabupaten/kota tahun 2006 menunjukkan hanya tiga LKPD yang memeroleh opini WTP atau wajar tanpa pengecualian, dan ada enam LKPD yang belum disampaikan ke BPK hingga akhir 2007.
Guna mengatasi permasalahan transparansi keuangan tersebut, kata Anwar, setidaknya ada enam bidang perbaikan yang harus dilakukan untuk bisa mencapai opini WTP. Yakni sistem pembukuan, sistem aplikasi teknologi komputer, inventarisasi aset dan hutang, jadwal waktu penyusunan laporan keuangan dan pemeriksaan serta pertanggungjawaban anggaran, quality assurance atas LKPD oleh pengawas intern, dan sumber daya manusia (SDM).
Sementara itu dalam membangun sistem keuangan daerah yang transparan dan akuntabel, kata Anwar, pemerintah daerah harus menandatangani management representative letter dalam setiap pemeriksaan BPK RI untuk menunjukkan komitmen dan tanggung jawabnya terhadap upaya perbaikan sistem keuangan daerah.
Baca juga:
Ukraina Gempur Rusia Pakai Senjata dari AS
Selain itu, pemerintah daerah harus menentukan kapan mencapai opini WTP dengan menyusun action plan yang memuat tentang apa yang harus dilakukan, aspek atau bidang apa yang perlu diperbaiki, tentang bagaimana caranya, siapa yang melakukannya dan kapan atau kapan jadual kegiatannya.
"Pemerintah daerah juga harus menggunakan universitas setempat dan BPKP untuk memperbaiki sistem keuangan daerah dan aplikasi komputernya, serta meningkatkan SDM melalui pelatihan akuntansi keuangan daerah dan penyediaan tenaga pembukuan yang terampil," ujarnya.
Selain itu, kata Anwar, DPRD perlu membentuk panitia akuntabilitas publik untuk mendorong pemerintah daerah dan menindaklanjuti temuan BPK RI untuk perbaikan sistem pengendalian intern dan percepatan pembangunan sistem keuangan daerah termasuk penyusunan peraturan daerah terkait.
"BPK RI berharap agar langkah tersebut dapat segera dilaksanakan. Buruknya transparansi dan akuntabilitas keuangan daerah meningkatkan peluang kebocoran dan menghambat kinerja pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan dan kesejahteraan pada rakyatnya," paparnya. (sss)
Reporter: bbn/rob
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6038 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4707 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2672 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2363 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2253 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan