Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
Menonton Gulat Lumpur di Ubud
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Banyak cara dilakukan para seniman Bali menghibur para wisatawan yang sedang berkunjung ke Bali. Salah satunya adalah pentas seni di atas sawah berlumpur. Pentas seni ini menampilkan aneka bentuk seni mulai tarian, drama, hingga gulat tradisonal Bali di atas sawah berlumpur.
Atraksi seni di atas hamparan sawah berlumpur ini dapat disaksikan setiap Kamis malam, di ARMA Museum Ubud, Gianyar.
Salah satu atraksi yang cukup menarik dalam pentas seni ini adalah gulat tradisional 'mepantigan' di atas sawah berlumpur.
Beberapa seniman yang juga atlet gulat khas Bali, mepantigan, tampak memperagakan berbagai tehnik gulat mepantigan di atas hamparan sawah berlumpur. Di bawah penerangan beberapa buah obor, atraksi gulat menjadi amat menarik untuk ditonton.
Selain gulat lumpur, pentas seni kolaborasi di atas sawah berlumpur ini juga menampilkan sebuah drama yang menceritakan kisah pertempuran patih Kerajaan Bedahulu Bali Kebo Iwa melawan Patih Gajah Mada dari Majapahit.
Dalam drama ini dikisahkan, Patih Gajah Mada harus berjuang keras agar dapat menaklukkan Patih Kebo Iwa dari Kerajaan Bedahulu Gianyar. Lewat sebuah pertarungan yang sengit dan memakan waktu lama, Patih Gajahmada akhirnya dapat menaklukkan Patih Keboiwa dan pasukannya, dan mulai menancapkan kekuasaan Kerajaan Majapahit di Bali.
Selain aksi gulat lumpur yang cukup menarik dan unik, pentas seni di atas hamparan sawah berlumpur ini juga menampilkan gambelan tektekan dari bambu, tarian tradisional di atas pematang sawah, sepakbola api, hingga perang api dengan daun kelapa kering
Saya sudah menyaksikan aneka macam pertunjukan seni seperti tari kecak, tari barong, tapi yang ini sungguh unik dan berbeda dibanding yang lainnya,†kata Torsten Serritzlew, turis asal Denmark.
"Atraksi yang menarik, tapi tiketnya yang Rp 100 ribu per orang, masih agak mahal, terutama untuk warga lokal yang ingin nonton," kata Andreas, turis asal Jerman.
Disamping sebagai tontonan alternatif bagi turis asing dan penghormatan terhadap Dewi Sri (Dewi Kesuburan), pentas seni ini juga untuk menyampaikan pesan kepada generasi muda agar lebih mencintai lumpur sawah dan padi, supaya budaya agraris di Bali dapat terus dilestarikan,†kata Putu Witsen, koordinator pentas seni ini.
Jadi jika Anda sedang berada di Bali dan ingin menonton atraksi seni yang agak berbeda, tak ada salahnya menonton pentas seni alternatif ini.
Reporter: bbn/rob
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5944 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4656 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2631 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2284 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2223 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan