Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 13 September 2026
Menonton Gulat Lumpur di Ubud
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Banyak cara dilakukan para seniman Bali menghibur para wisatawan yang sedang berkunjung ke Bali. Salah satunya adalah pentas seni di atas sawah berlumpur. Pentas seni ini menampilkan aneka bentuk seni mulai tarian, drama, hingga gulat tradisonal Bali di atas sawah berlumpur.
Atraksi seni di atas hamparan sawah berlumpur ini dapat disaksikan setiap Kamis malam, di ARMA Museum Ubud, Gianyar.
Salah satu atraksi yang cukup menarik dalam pentas seni ini adalah gulat tradisional 'mepantigan' di atas sawah berlumpur.
Beberapa seniman yang juga atlet gulat khas Bali, mepantigan, tampak memperagakan berbagai tehnik gulat mepantigan di atas hamparan sawah berlumpur. Di bawah penerangan beberapa buah obor, atraksi gulat menjadi amat menarik untuk ditonton.
Selain gulat lumpur, pentas seni kolaborasi di atas sawah berlumpur ini juga menampilkan sebuah drama yang menceritakan kisah pertempuran patih Kerajaan Bedahulu Bali Kebo Iwa melawan Patih Gajah Mada dari Majapahit.
Dalam drama ini dikisahkan, Patih Gajah Mada harus berjuang keras agar dapat menaklukkan Patih Kebo Iwa dari Kerajaan Bedahulu Gianyar. Lewat sebuah pertarungan yang sengit dan memakan waktu lama, Patih Gajahmada akhirnya dapat menaklukkan Patih Keboiwa dan pasukannya, dan mulai menancapkan kekuasaan Kerajaan Majapahit di Bali.
Selain aksi gulat lumpur yang cukup menarik dan unik, pentas seni di atas hamparan sawah berlumpur ini juga menampilkan gambelan tektekan dari bambu, tarian tradisional di atas pematang sawah, sepakbola api, hingga perang api dengan daun kelapa kering
Saya sudah menyaksikan aneka macam pertunjukan seni seperti tari kecak, tari barong, tapi yang ini sungguh unik dan berbeda dibanding yang lainnya,†kata Torsten Serritzlew, turis asal Denmark.
"Atraksi yang menarik, tapi tiketnya yang Rp 100 ribu per orang, masih agak mahal, terutama untuk warga lokal yang ingin nonton," kata Andreas, turis asal Jerman.
Disamping sebagai tontonan alternatif bagi turis asing dan penghormatan terhadap Dewi Sri (Dewi Kesuburan), pentas seni ini juga untuk menyampaikan pesan kepada generasi muda agar lebih mencintai lumpur sawah dan padi, supaya budaya agraris di Bali dapat terus dilestarikan,†kata Putu Witsen, koordinator pentas seni ini.
Jadi jika Anda sedang berada di Bali dan ingin menonton atraksi seni yang agak berbeda, tak ada salahnya menonton pentas seni alternatif ini.
Reporter: bbn/rob
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3337 Kali
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 793 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan