Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 12 September 2026
Robek Baliho Caleg, Pemuda ‘Kolok’ Disidang
Singaraja
BERITABALI.COM, BULELENG.
Pengadilan Negeri Singaraja hari ini untuk pertama kalinya menggelar sidang pidana pemilu kasus perobekan Baliho milik Caleg Partai Pelopor di Dusun Pancoran, Desa Panji Anom, Kecamatan Sukasada. Terdakwanya bukan preman politik tapi seorang pemuda kolok atau bisu.
Persidangan kasus pidana pemilu ini diketuai Majelis Hakim Sri Wati, menghadirkan terdakwa Gede Budi Artana alias Tekek, (22), warga Dusun Pancoran, Desa Panji Anom, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Sementara korban pengrusakan baliho ini adalah caleg nomor urut 1 dari Partai Pelopor, Dra.Desak Putu Sri Yudani.
Pelaksanaa sidang pidana Pemilu tersebut diawali dengan pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum Edy Bujana, SH. Dalam dakwaan disebutkan, pada tanggal 17 Desember 2008 lalu terdakwa telah merobek atribut berupa baliho caleg nomor urut 1 dari Partai Pelopor dengan ukuran 110 cm kali 170 cm. “Baliho berisikan gambar korban Sri Yudani itu awalnya dilempar dengan batu lalu ditarik oleh terdakwa hingga baliho tersebut roboh,” papar JPU Edy Bujana di hadapan majelis hakim PN Singaraja.
Sidang menjadi menarik karena terdakwa Tekek yang bisu didampingi seorang penterjemah dari PN Singaraja. Sidang kemarin juga tidak terlepas dari pemantauan Panwaslu Kabupaten Buleleng. Salah satu anggota Panwaslu Buleleng Ketut Wiratmaja, SH, dan Panwaslu Kecamatan Sukasada terus mengawasi jalannya persidangan.
Reporter: bbn/sas
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3326 Kali
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 792 Kali
Desil Warga Jehem Bangli Lompat dari 2 ke 7, Ini Masalahnya
Dibaca: 736 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan