Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Minggu, 14 Juni 2026
6 Perupa 'Master' Pameran di Sanur
Sanur
Selasa, 21 Juli 2009,
17:27 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Enam perupa master di Bali menggelar pameran bersama yang bertajuk 'Six Masters from Bali' di Maha Art Gallery Sanur, Bali. Keenam perupa tersebut adalah, Made Budhiana, 50, Made Wianta,60, Sutjipto Adi,52, Chusin Setiadikara,60, Mangu Putra, 46, dan AS Kurnia,49.
Acara pameran yang akan dibuka Rabu (22/7) besok pukul 18.00 wita ini berlangsung selama sebulan penuh hingga 22 Agustus. Jumlah semua lukisan yang dipamerkan sebanyak sepuluh karya.
Yang menarik dari pameran ini adalah tema maupun corak karya-karya lukisan ini adalah terbebas dari kungkungan tradisi budaya Bali, meski latar belakang sebagian dari mereka adalah asli Bali.
Seperti diketahui perupa AS Kurnia, Chusin maupun Sutjipto Adi tumbuh dari perkotaan di Jawa yang kosmopolit, sedangkan Wianta, Budhiana, maupun Mangu Putra meski asli dan berdiam di Bali namun sejak awal kreativitasnya tercatat telah merangkul dunia global.
Menurut kritikus seni rupa, Jean Couteau, bahwa apapaun perbedaan latar belakangnya, keenam perupa itu dinilai telah melampaui sekat dan batasan etnis, religius, maupun kultural yang memungkinkan ekspresi seni mereka menjangkau dunia
global walaupun masih mengandung elemen lokal di dalamnya.
"Keenam perupa itu tampak ingin meluapkan pesan seni yang bersemangat individual,"ujar Jean Couteau yang sudah lama menetap di Bali ini. Couteau mnyebut Budhiana dan Wianta dinilai cenderung mengungkapkan ekspresi rupa yang murni, sementara empat perupa lainnya lebih mengedepankan unsur pesan sosial atau psikologis.
"Boleh dikata, enam perupa ini adalah perupa garis terdepan di Bali dan juga di Indonesia. Mereka menjadikan seni lukis masih dijadikan medium dasar ekspresinya," tandas Couteau. (sss)
Acara pameran yang akan dibuka Rabu (22/7) besok pukul 18.00 wita ini berlangsung selama sebulan penuh hingga 22 Agustus. Jumlah semua lukisan yang dipamerkan sebanyak sepuluh karya.
Yang menarik dari pameran ini adalah tema maupun corak karya-karya lukisan ini adalah terbebas dari kungkungan tradisi budaya Bali, meski latar belakang sebagian dari mereka adalah asli Bali.
Seperti diketahui perupa AS Kurnia, Chusin maupun Sutjipto Adi tumbuh dari perkotaan di Jawa yang kosmopolit, sedangkan Wianta, Budhiana, maupun Mangu Putra meski asli dan berdiam di Bali namun sejak awal kreativitasnya tercatat telah merangkul dunia global.
Menurut kritikus seni rupa, Jean Couteau, bahwa apapaun perbedaan latar belakangnya, keenam perupa itu dinilai telah melampaui sekat dan batasan etnis, religius, maupun kultural yang memungkinkan ekspresi seni mereka menjangkau dunia
global walaupun masih mengandung elemen lokal di dalamnya.
"Keenam perupa itu tampak ingin meluapkan pesan seni yang bersemangat individual,"ujar Jean Couteau yang sudah lama menetap di Bali ini. Couteau mnyebut Budhiana dan Wianta dinilai cenderung mengungkapkan ekspresi rupa yang murni, sementara empat perupa lainnya lebih mengedepankan unsur pesan sosial atau psikologis.
"Boleh dikata, enam perupa ini adalah perupa garis terdepan di Bali dan juga di Indonesia. Mereka menjadikan seni lukis masih dijadikan medium dasar ekspresinya," tandas Couteau. (sss)
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
02
03
04
05
Kasus Penjualan Gading Gajah di Tampaksiring Masuk Tahap Penuntutan
Dibaca: 1011 Kali
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Senin, 18 Mei 2026
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026