Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 April 2026
Mendagri Soroti Penggunaan Nama Asing
Nusa Dua
Selasa, 4 Agustus 2009,
19:57 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Penggunaan nama-nama asing pada sejumlah tempat geografis (rupabumi) di Bali disorot Menteri Dalam Negeri, Mardiyanto. Pasalnya nama-nama itu dikhawatirkan bisa menggusur nama-nama lokal, yang notabene memiliki kaitan sejarah dengan tempat di sekitarnya.
Menurut Mendagri, nama-nama asing yang digunakan itu tidak berhubungan dengan sejarah atau asal usul tempat tersebut. Bila dibiarkan, maka dikhawatirkan budaya asli yang tergambar melalui nama-nama tempat tersebut akan hilang.
Hanya saja, Mendagri tak secara spesifik menyebut nama-nama asing di Bali. Tapi dari fakta yang ada, salah satu nama pantai yang belakangan populer adalah pantai Dreamland di Badung. Selain itu ada juga jalan Marlboro, arah barat Jalan Teuku Umar.
“Beberapa tempat di Bali sudah mulai berganti nama, baik dengan nama asing maupun nama 'julukan baru' yang diberikan oleh turis-turis asing. Bahkan, nama-nama julukan itu terkadang lebih populer daripada nama lokalnya, sehingga di masa-masa datang dikhawatirkan nama-nama lokal akan hilang bergenti dengan nama baru, bahkan sekalgus bisa mencabut generasi muda dari akar budaya lokalnya,†papar Mendagri pada acara 'South East Asian Survey Congress' (SEASC) di Nusa Dua, Selasa (4/8).
Terkait hal itu, Mendagri menegaskan, sudah saatnya Pemerintah menertibkan penggunaan nama-nama geografis di Indonesia, mengingat saat ini sudah banyak nama-nama asing yang digunakan untuk menggantikan nama-nama lokal.
Padahal menurut Mardiyanto, sejarah dan legenda nama-nama tempat di Indonesia merupakan kekayaan budaya banghsa Indonesia yang cukup beralasan dilestarikan. Alasan utamanya adalah, dengan melestarikannya, berarti membangun semangat kebangsaan dan rasa cinta tanah air.
“Nama-nama tempat dan sejarahnya merupakan jati diri dan identitas bangsa Indonesia, maka sangat penting untuk mempertahankan nama-nama tempat atau nama-nama geografis tersebut,†pungkasnya. Mengganti nama-nama geografis secara sembarangan tanpa memperhatikan kaitannya dengan sejarahnya, akan mengaburkan ikatan masyarakat dengan tempat asalnya," pungkas Mardiyanto. (sss)
Menurut Mendagri, nama-nama asing yang digunakan itu tidak berhubungan dengan sejarah atau asal usul tempat tersebut. Bila dibiarkan, maka dikhawatirkan budaya asli yang tergambar melalui nama-nama tempat tersebut akan hilang.
Hanya saja, Mendagri tak secara spesifik menyebut nama-nama asing di Bali. Tapi dari fakta yang ada, salah satu nama pantai yang belakangan populer adalah pantai Dreamland di Badung. Selain itu ada juga jalan Marlboro, arah barat Jalan Teuku Umar.
“Beberapa tempat di Bali sudah mulai berganti nama, baik dengan nama asing maupun nama 'julukan baru' yang diberikan oleh turis-turis asing. Bahkan, nama-nama julukan itu terkadang lebih populer daripada nama lokalnya, sehingga di masa-masa datang dikhawatirkan nama-nama lokal akan hilang bergenti dengan nama baru, bahkan sekalgus bisa mencabut generasi muda dari akar budaya lokalnya,†papar Mendagri pada acara 'South East Asian Survey Congress' (SEASC) di Nusa Dua, Selasa (4/8).
Terkait hal itu, Mendagri menegaskan, sudah saatnya Pemerintah menertibkan penggunaan nama-nama geografis di Indonesia, mengingat saat ini sudah banyak nama-nama asing yang digunakan untuk menggantikan nama-nama lokal.
Padahal menurut Mardiyanto, sejarah dan legenda nama-nama tempat di Indonesia merupakan kekayaan budaya banghsa Indonesia yang cukup beralasan dilestarikan. Alasan utamanya adalah, dengan melestarikannya, berarti membangun semangat kebangsaan dan rasa cinta tanah air.
“Nama-nama tempat dan sejarahnya merupakan jati diri dan identitas bangsa Indonesia, maka sangat penting untuk mempertahankan nama-nama tempat atau nama-nama geografis tersebut,†pungkasnya. Mengganti nama-nama geografis secara sembarangan tanpa memperhatikan kaitannya dengan sejarahnya, akan mengaburkan ikatan masyarakat dengan tempat asalnya," pungkas Mardiyanto. (sss)
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3808 Kali
02
03
04
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1750 Kali
05
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Kamis, 26 Maret 2026
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
Kamis, 12 Februari 2026
Tradisi Imlek Unik di Singaraja, Patung Dewa Disucikan Tirta Tiga Pura
Rabu, 11 Februari 2026