Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




SPBN Macet, Pengelola Tuding Pertamina

Rabu, 21 Oktober 2009, 16:11 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, JEMBRANA.

Macetnya pasokan bahan bakar minyak (BBM) bagi nelayan pada stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) premiun solar paket dealer nelayan (PSPDN) di Muara Perancak, Jembrana bukan lantaran kehabisan modal. 

Pengelola menuding macetnya pasokan BBM bagi nelayan oleh SPBN yang didirikan dengan bantuan pusat tersebut disebabkan lantaran pihak Pertamina memangkas jatah solar bagi SPBN tersebut.


Seperti yang diberitakan sebelumnya, sejumlah nelayan yang biasa melabuhkan perahunya di Pantai Perancak mengaku tidak bisa lagi membeli solar di SPBN yang bernaung di bawah Koperasi Jimbarwana Mandiri tersebut.

Pasalnya, sejak sebulan lalu SPBN macet alias tidak beroperasi lagi. Malahan pasokan bensin di SPBN tersebut sudah cukup lama tidak tersedia lagi.

I Nengah Sugiartana, kepala unit PSPDN Perancak, Rabu (21/10) kepada awak media mengatakan sejak dibuka pada September 2008 lalu, SPBN Perancak menerima pasokan solar 50 ton perbulannya dari Pertamina.

Awalnya, jatah tersebut selalu habis terjual namun menginjak pada bulan ketiga solar yang dipasok dari Depo Manggis tersebut tidak habis terjual.


Saat itu, nelayan jarang ada yang melaut sebab sedang musim paceklik ikan, terangnya.

Pasca kegagalan menghabiskan pasokan solar pada bulan ketiga tersebut, tambah Sugiartana, tiba-tiba Pertamina memangkas jatah solar dari 50 ton menjadi 16 ton sehingga SPBN Perancak tidak bisa memenuhi pasokan solar untuk nelayan, terutama pada musim ikan.

Jatah itupun tidak datang sekaligus namun dua kali yakni pada awal bulan disusul dua tiga hari kemudian yang jumlahnya masing-masing delapan ton, tambahnya.

Menurut Sugiartana, sekali pasokan solar tersebut datang akan habis dalam waktu 2-3 hari saja. “Jadi jatah 16 ton hanya cukup untuk seminggu saja sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan nelayan,” terangnya.

Lantaran jatahnya habis terjual dalam seminggu saja, lanjut Sugiartana, tiga minggu berikutnya SPBN yang dibangun dengan dana Rp. 475 juta itu terpaksa nganggur.

“Kalau solar sudah tidak ada, buat apa kami operasikan. Kondisi ini sudah jalan hampir setahun,”ucapnya.

Sugiartana menilai kebijakan Pertamina mengurangi pasokan solar merupakan yang kontradiktif dengan kondisi di lapangan.

Menurutnya, solar yang lebih banyak dibutuhkan nelayan justru dikurangi jatahnya sementara bensin yang tidak banyak dibutuhkan justru ditambah yakni 200 ton sebulan.

“Saat ini di Perancak ada 23 perahu selerek yang sekali melaut membutuhkan 600 sampai 1200 liter. Belum lagi 200 jukung kecil milik nelayan tradisional yang sekali melaut membutuhkan sedikitnya 30 liter solar. Sedangkan kebutuhan bensin paling banyak satu setengah ton sehari,” terangnya.

Sugiartana menambahkan dalam sehari bensin hanya laku antara 1-1,5 ton saja sementara solar bisa mencapai 5-6 ton.

“Kami terpaksa tidak ambil jatah bensin tersebut karena kalau diambil jelas kami akan merugi,” tandasnya.

Sugiartana juga mengaku sempat mempertanyakan pemangkasan jatah solar tersebut ke Depo Manggis namun disarankan untuk bersurat ke Pertamina Surabaya yang dilengkapi dengan segala persyaratan yang ditentukan.

”Saran itu sudah kami lakukan namun hingga kini belum ada jawaban,” pungkasnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/dey



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami